Category Archives: Buku 141 – 150

Buku 141 (Seri II Jilid 41)

Swandaru mengangguk-angguk. Ia tidak dapat menyangkal, bahwa Untara adalah pengganti ayah bunda Agung Sedayu. Meskipun Agung Sedayu sudah cukup dewasa, namun dalam beberapa hal, maka ia tidak akan dapat meninggalkan kakak kandungnya itu. Karena itu, maka Swandarupun kemudian berkata, ” Aku kira Guru akan dapat menemui kakang Untara, mengatakan beberapa hal yang bersangkutan dengan kakang …

Baca lebih lanjut

Buku 142 (Seri II Jilid 42)

Untara memang tidak berprasangka buruk kepada pihak manapun juga, karena kepergiannya itu adalah persoalan hubungan yang terlalu pribadi. Meskipun demikian ia sudah membawa tiga orang pengawal terpilih yang akan dapat membantunya menyelesaikan persoalan yang mungkin timbul diperjalanan, disamping Ki Widura dan Kiai Gringsing. “Sebuah iring-iringan yang kuat,” berkata seseorang yang mendapat laporan dari kedua orang …

Baca lebih lanjut

Buku 143 (Seri II Jilid 43)

Namun dalam pada itu, datang saatnya Agung Sedayu mempergunakan kesempatan. Selagi lawannya yang merasa, bahwa anak muda itu tidak akan mampu mendekatinya, tiba-tiba saja Agung Sedayu telah menyerangnya dengan cambuknya yang menggelepar dengan dahsyatnya. Sambil meloncat mendekat, Agung Sedayu menghentakkan cambuknya mendatar menyerang lambung. Lawannya terkejut. Namun ia masih sempat meloncat surut. Ia menganggap bahwa …

Baca lebih lanjut

Buku 144 (Seri II Jilid 44)

Kiai Gringsing dengan tergesa-gesa mendekatinya. Dengan nada berat ia bertanya, “Bagaimana Agung Sedayu?” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mengangkat tangannya dan kemudian menggeliat. Sementara Ki Waskitapun mendekatinya pula. “Ujung Cambuk guru di saat terakhir terasa menggoyahkan pertahanan ilmuku. Jika guru mengulanginya, aku kira, aku akan merasakannya, meskipun tidak terlalu tajam.” jawab Agung Sedayu.

Baca lebih lanjut

Buku 145 (Seri II Jilid 45)

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia mengerti, bahwa Prastawa ingin menunjukkan kepada Agung Sedayu, bahwa sejak sebelum ia datang, Tanah Perdikan Menoreh telah cukup tenang dan aman karena kegiatan anak-anak mudanya. Seperti yang dikatakannya, maka setelah makan pagi Agung Sedayu minta diri untuk melihat-lihat Tanah Perdikan Menoreh seorang diri. Ia ingin bertemu dengan anak-anak muda yang …

Baca lebih lanjut