Category Archives: Buku 151 – 160

Buku 151 (Seri II Jilid 51)

“Bagaimana dengan Ki Lurah Branjangan dan beberapa orang Senopati Mataram?“ bertanya Pangeran Benawa. “Tidak ada seorangpun yang boleh ikut menemui Pangeran selain Ki Lurah Branjangan,” jawab Agung Sedayu. “Kau memang aneh-aneh. Demikian aku memasuki barak, mereka telah berkerumun. Barangkali ada diantara mereka yang melempari aku dengan batu,“ berkata Pangeran Benawa. “Aku akan mengaturnya,” jawab Agung …

Baca lebih lanjut

Buku 152 (Seri II Jilid 52)

“Justru karena batangnya cukup lentur. Kecuali jika angin itu terlalu kencang diluar batas kemampuan ilalang itu. Dan hal yang demikian berlaku juga bagi ilmu yang betapapun tangguhnya.“ Agung Sedayu berhenti sejenak, lalu. “Kaupun dapat melihat tingkah laku seekor binatang. Mereka tidak pernah mempelajari apapun juga, karena binatang tidak mempunyai akal budi. Namun secara naluriah mereka …

Baca lebih lanjut

Buku 153 (Seri II Jilid 53)

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ia memang dapat membayangkan, jika Pajang bertempur melawan Mataram, maka keduanya akan mengerahkan kekuatan yang sangat besar. “Swandaru,“ berkata Kiai Gringsing, “yang kita harapkan, adalah keterangan-keterangan yang meyakinkan bahwa perang tidak akan pecah pada bulan di akhir tahun ini.” Swandaru mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya guru.”

Baca lebih lanjut

Buku 154 (Seri II Jilid 54)

Pangeran Benawa memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Namun kemudian iapun tersenyum sambil menjawab, “Pertanyaanmu aneh, Agung Sedayu. Setiap orang di Sangkal Putung tahu, bahwa dua hari lagi Ki Demang Sangkal Putung bakal menerima calon menantunya yang ngenger untuk sepekan di kademangan.” Agung Sedayu menarik nafas panjang, “Ya Pangeran. Agaknya memang demikian.” “Ya. Dan Ki Demang …

Baca lebih lanjut

Buku 155 (Seri II Jilid 55)

Dalam pada itu. maka sebagaimana direncanakan, maka pada hari kelima pengantin itupun akan diboyong ke Jati Anom dalam upacara ngunduh pengantin. Widuralah yang menyiapkan tempat dan perlengkapan upacara. Rumah Untara yang selama itu dipergunakan sebagai tempat tinggal beberapa orang perwira dan tempat kedudukan pimpinan pasukan Pajang di Jati Anom. telah dibersihkan dan benar-benar menjadi tempat …

Baca lebih lanjut

Buku 156 (Seri II Jilid 56)

Apalagi ketika ia melihat bahwa keseimbangan telah berubah, maka segala macam pikiran untuk sampai pada satu tingkat ilmu diluar jangkauan orang kebanyakan untuk sementara telah disisihkannya. Yang bertempur dengan orang yang sama sekali belum dikenalnya adalah Ki Waskita dan Agung Sedayu. Lawan Ki Waskita adalah seorang yang masak dalam ilmunya. Tetapi orang itupun mengetahui, bahwa …

Baca lebih lanjut

Buku 157 (Seri II Jilid 57)

“Raden Sutawijaya juga hadir di pertempuran itu,” berkata Agung Sedayu kepada Kiai Gringsing. “Ya” Kiai Gringsingpun mengangguk, “aku juga melihat meskipun agak jauh. Semula aku agak kurang yakin bahwa orang itu adalah Raden Sutawijaya. Tetapi karena kau juga mengenalinya, maka akupun percaya bahwa orang itu adalah Raden Sutawijaya yang mengawasi Ki Tumenggung Prabadaru.” “Ya.” jawab …

Baca lebih lanjut

Buku 158 (Seri II Jilid 58)

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Iapun melihat meskipun sekilas. bagaimana tukang-tukang satang yang ternyata adalah anak-anak muda dari barak itu menghadapi lawan-lawannya. Namun sebagaimana juga dikatakan oleh Agung Sedayu. bahwa kemampuan mereka masih belum setingkat dengan lawan-lawan mereka. Karena menurut Agung Sedayu. Ki Tumenggung Prabadaru juga hadir di pertempuran itu. maka kemungkinan terbesar dari antara lawan mereka …

Baca lebih lanjut

Buku 159 (Seri II Jilid 59)

— Apa katanya ketika Senapati itu menemuimu ? — bertanya seorang kawannya. — Ia hanya mengatakan, agar kami mengikutinya. Ia ingin menunjukkan satu bukti tentang kemampuan para pelatih di dalam lingkungan pasukan khusus ini. — jawab anak muda itu. — Tetapi sebenarnya kami sudah menjadi curiga — berkata anak muda yang lain — apalagi ketika …

Baca lebih lanjut

Buku 160 (Seri II Jilid 60)

“Kakang,” berkata Sekar Mirah kemudian, “aku mohon maaf, bahwa mungkin yang akan aku katakan kurang kau sepakati. Tetapi aku ingin kau mengetahui perasaanku. Dengan demikian, maka kita akan dapat saling mengerti dasar pikiran kita masing-masing, jika kita kemudian melihat sikap dan langkah-langkah yang barangkali tidak pernah kita lakukan sebelumnya.” Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia pun tidak …

Baca lebih lanjut