Category Archives: Buku 161 – 170

Buku 161 (Seri II Jilid 61)

“Diri kami benar-benar sudah menjadi kosong Ngger. Aku tidak dapat melepaskan ilmu Tunda Bantala tanpa melepaskan dasar ilmuku sebelumnya. Karena itu, maka semua ilmuku telah terlepas seluruhnya. Akik itupun telah kembali kepada ujudnya.” Hampir saja Agung Sedayu bertanya, apakah ujud Akik itu. Tetapi untunglah ia masih dapat menahan diri, sehingga ia tidak langsung menunjukkan beberapa …

Baca lebih lanjut

Buku 162 (Seri II Jilid 62)

“Karena itu, agaknya Raden Sutawijaya sendiri harus menjatuhkan perintah,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “karena dalam perlawanan atas orang-orang Pajang, Swandaru tentu menganggap bahwa senapati tertinggi Mataram adalah Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga. Hanya perintahnyalah yang wajib ditaati.” “Namun agaknya Untara pun akan menempatkan diri ke dalam satu jalur perintah Raden Sutawijaya …

Baca lebih lanjut

Buku 163 (Seri II Jilid 63)

“Kami menyadari arti perjuangan Raden Sutawijaya,“ berkata Ki Gede kemudian. “Kami mengharap kehadiran Ki Gede dan Ki Waskita, malam sebelum hari yang ditentukan itu datang,“ berkata senapati itu, “Senapati ing Ngalaga akan membicarakan segala sesuatunya tentang perjuangan yang nampaknya harus meningkat menjadi benturan kekuatan itu.” “Baiklah,“ jawab Ki Gede, “kami akan hadir. Aku akan berbicara …

Baca lebih lanjut

Buku 164 (Seri II Jilid 64)

Suara titir itu menjadi semakin jelas, sementara itu, dengan jantung yang berdebaran ia melihat air yang datang bergulung menyusuri Kali Opak. Dengan tangkasnya ia meloncat turun. Kemudian dengan sekuat-kuatnya ia berteriak, “Banjir! Banjir itu datang!” Suaranya yang mula-mula tidak terdengar itu, ternyata telah disahut dan disambung oleh seorang senapati yang lain, yang mendengar teriakan itu. …

Baca lebih lanjut

Buku 165 (Seri II Jilid 65)

Ki Tumenggung Prabadaru memandang orang itu sejenak. Namun iapun kemudian meninggalkan kepercayaannya sambil bergumam yang hanya dapat didengarnya sendiri. Namun sejenak kemudian, Ki Tumenggung itu sudah berbaring di atas sehelai ketepe blarak di antara para prajuritnya. Sebenarnyalah mereka memang sudah tertidur, selain yang sedang bertugas. Namun ada di antara orang-orang Pajang yang masih mengumpat-umpat. Orang …

Baca lebih lanjut

Buku 166 (Seri II Jilid 66)

Di bagian lain dari pertempuran itu, Swandaru masih bertempur dengan dahsyatnya. Cambuknya meledak-ledak memekakkan telinga. Jauh lebih keras dari ledakan cambuk Kiai Gringsing sendiri. Namun dalam pada itu, seorang berwajah kasar dan berjambang lebat tengah bertempur di sebelahnya. Dengan garangnya orang itu telah mengguncang arena. Tiga orang harus bergabung untuk melawannya. Orang berwajah kasar dan …

Baca lebih lanjut

Buku 167 (Seri II Jilid 67)

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya yang berdiri di samping Pangeran Benawa pun melihat keadaan itu. Justru lebih tajam lagi. Dan keduanyapun telah mencium bau yang tajam itu pula. Bau yang tajam itu benar-benar telah menarik perhatian mereka. Meskipun yang tercium oleh kedua orang itu tidak setajam dan tidak menyesakkan dada seperti yang tercium oleh …

Baca lebih lanjut

Buku 168 (Seri II Jilid 68)

Kanjeng Sultan itupun kemudian menepuk pundak Ki Singatama sambil berkata, “Cepat. Berpakaianlah. Kau pun seorang prajurit yang akan turun pula ke medan. Sementara aku menunggumu, beri aku minuman panas dengan gula kelapa. Sesuap nasi tanpa lauk tanpa sayur.” “Hamba, Tuanku,” desis Ki Singatama. Sejenak kemudian, Ki Singatama pun telah memerintahkan untuk menyediakan minuman panas dengan …

Baca lebih lanjut

Buku 169 (Seri II Jilid 69)

Sejenak kemudian, maka kedua pasukan itupun telah berbenturan. Senjata-senjata yang merundukpun mulai berdentangan. Kedua belah pihak telah menempatkan orang-orang terbaik di garis pertama dari kedua pasukan itu. Namun ternyata bahwa sejak benturan pertama, orang-orang Pajang mulai menyadari, bahwa pasukan Mataram bukannya pasukan yang dengan tergesa gesa disusun setelah pecah bercerai-berai. Namun pasukan Mataram yang mereka …

Baca lebih lanjut

Buku 170 (Seri II Jilid 70)

Tetapi Ki Juru menyadari sepenuhnya, bahwa jika ia dapat mengatasi perasaannya, maka bau itu sendiri tidak akan mampu berbuat apa-apa atas dirinya. Demikianlah, maka pertempuran antara kedua orang berilmu tinggi itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Dalam keadaan yang paling sulit sekalipun, Ki Juru kadang-kadang masih juga berhasil menyusup melalui lapisan-lapisan pertahanan lawannya. Namun lawannyapun …

Baca lebih lanjut