Category Archives: Buku 181 – 190

Buku 181 (Seri II Jilid 81)

Untuk beberapa saat Kiai Bagaswara merenung di dalam kesuraman. Kesuraman malam dan kesuraman hati. Sulit sekali bagi Kiai Bagaswara untuk menentukan satu pilihan. Sebenarnya ia merasa sangat keberatan untuk membiarkan saja padepokannya yang sudah dihuninya bertahun tahun itu akan menjadi sasaran kemarahan orang yang berhati gelap. Tetapi ia tidak mempunyai jalan yang paling baik untuk …

Baca lebih lanjut

Buku 182 (Seri II Jilid 82)

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Aku percaya kepada kesungguhan Kiai. Karena itu, aku tidak berkeberatan, jika Kiai bersedia untuk tinggal di rumah ini. Di sini Kiai akan dapat berbicara dengan beberapa orang tetua Tanah Perdikan dan beberapa orang tamuku yang lain, di antaranya adalah seorang yang bernama Kiai Jayaraga.” “Kiai Jayaraga?” jawab Kiai Bagaswara menegang, “Apakah …

Baca lebih lanjut

Buku 183 (Seri II Jilid 83)

Warak Ireng mengerutkan keningnya. Dengan sorot mata yang bagaikan menyala ia bertanya, “He, apakah kau bermimpi atau mengigau?” Glagah Putih bergeser mendekat. Tetapi ia tetap berhati-hati menghadapi orang yang besar itu. Setiap saat orang itu akan dapat berbuat sesuatu di luar dugaannya. “Siapa kau?” tiba-tiba saja Glagah Putih bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan Warak Ireng. “Ada …

Baca lebih lanjut

Buku 184 (Seri II Jilid 84)

Keduanya telah saling mendorong dengan kekuatan yang sangat besar, sehingga kaki-kaki mereka telah semakin membenam ke dalam tanah. Asap pun telah mengepul dan wajah-wajah mereka telah menjadi semakin pucat. Titik-titik keringat yang mengembun di kening dan dahi mulai mengalir dan membasahi wajah-wajah mereka. Bahkan kemudian di seluruh tubuh mereka telah mengembun keringat yang kemudian mengalir …

Baca lebih lanjut

Buku 185 (Seri II Jilid 85)

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Kau memang sangat menarik. Ayolah. Berlatihlah. Kita tidak usah merasa segan. Kau tidak tahu namaku, dan aku tidak bertanya siapa namamu.” Tetapi Glagah Putih tetap menggeleng. Katanya, “Tidak mau. Aku tidak akan meneruskan latihan. Aku akan pulang. Sebelumnya aku masih harus membuka pliridan.” “Waktunya masih lama,” jawab anak muda itu, …

Baca lebih lanjut

Buku 186 (Seri II Jilid 86)

“Menarik sekali,” berkata Kiai Gringsing, “dengan demikian aku tidak hanya pergi seorang diri. Ada kawan berbincang di perjalanan. Karena perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh harus ditempuh dalam waktu agak panjang.” ”Bagaimana dengan Swandaru?” bertanya Widura. “Swandaru masih sibuk dengan latihan-latihannya. Ia berusaha untuk memahami satu lagi dari sekian segi yang dijumpainya dalam kitab yang aku …

Baca lebih lanjut

Buku 187 (Seri II Jilid 87)

Demikianlah, maka orang-orang yang tinggal di rumah Agung Sedayu itupun segera berangkat meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi mereka tidak berangkat berbareng dan rnengambil arah jalan yang sama. Mereka tidak ingin menarik perhatian, bukan saja di Mataram, tetapi juga sejak mereka berada di Tanah Perdikan Menoreh. Kiai Gringsing pergi bersama Ki Widura, sementara Kiai …

Baca lebih lanjut

Buku 188 (Seri II Jilid 88)

Karena itu, maka Ki Tumenggung itu pun menjadi tergagap dan tidak segera dapat menjawab. Karena Ki Tumenggung tidak menjawab, maka Panembahan Senapati pun telah bertanya kepada Raden Rangga, “Rangga, apakah yang sudah dilakukan oleh Agung Sedayu? Apakah ia membantumu menangkap harimau itu dan melepaskannya di halaman Ki Tumenggung?” “Tidak Ayahanda,” jawab Raden Rangga, “Agung Sedayu …

Baca lebih lanjut

Buku 189 (Seri II Jilid 89)

Dengan demikian, maka sikap Ki Tumenggung itu telah membuat prajurit-prajuritnya menjadi bingung. Apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi Ki Tumenggung itu telah mengatakannya sendiri, bahwa Agung Sedayu telah memenangkan taruhan itu. Karena prajuritnya masih nampak kebingungan, maka sekali lagi Ki Tumenggung berkata, “Dengarlah. Kami berdua telah melakukan taruhan ini dengan jujur. Ternyata yang memenangkan taruhan …

Baca lebih lanjut

Buku 190 (Seri II Jilid 90)

“Ya Guru. Karena itu, kita harus bekerja dengan cermat,” berkata Agung Sedayu. Ternyata bahwa orang-orang tua yang berada di rumah Agung Sedayu serta Ki Gede sendiri telah bersedia untuk ikut menangani orang-orang Pajang yang sedang mencari keterangan di Tanah Perdikan itu. Dengan demikian, maka Agung Sedayu berharap bahwa usahanya akan dapat berhasil. la tidak boleh …

Baca lebih lanjut