Category Archives: Buku 191 – 200

Buku 191 (Seri II Jilid 91)

Ketika kemudian matahari menjadi semakin tinggi, maka Ki Gede pun minta kepada Agung Sedayu untuk menjemput Kiai Gringsing, Kiai Jayaraga dan yang terpenting adalah Ki Widura. Seseorang yang pernah menjadi seorang Senapati Pajang pada masa kajayaan Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Apakah Ki Widura pernah mengenal seorang perwira Pajang yang bernama Wiladipa. Karena rumah Agung Sedayu tidak …

Baca lebih lanjut

Buku 192 (Seri II Jilid 92)

Wajah Untara menjadi merah. Tetapi, ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Untunglah, bahwa ia teringat pesan sahabatnya, bahwa ia harus berusaha untuk keberhasilan tugasnya, bukan sekedar mempertahankan harga diri. Karena itu, maka ia pun telah bertanya, “Kenapa mereka menganggap bahwa aku seorang Pengkhianat?” “Apakah kau tidak menyadarinya?” bertanya perwira itu, “kau adalah seorang perwira Pajang …

Baca lebih lanjut

Buku 193 (Seri II Jilid 93)

“Baiklah Ki Gede” berkata Panembahan Senapati, “sebenarnyalah kami memerlukan Kiai Gringsing dan Ki Gede serta Agung Sedayu untuk memecahkan persoalan yang kami hadapi. Agaknya persoalan yang berkembang di Pajang harus ditanggapi dengan sungguh. Bukankah Untara sudah berceritera tentang perjalanannya ke Pajang.” “Ya Panembahan. Sebagian dari perjalanannya dan apa yang dialaminya telah disampaikannya kepada hamba” jawab …

Baca lebih lanjut

Buku 194 (Seri II Jilid 94)

Dengan demikian, maka memang tidak ada pilihan lain yang dapat dilakukan oleh Adipati Pajang itu. Sehingga akhirnya batas antara Pajang dan Mataram itu menjadi semakin tebal. Bahkan, agaknya yang akan terjadi adalah benturan kekerasan. Dalam pada itu, Ki Tumenggung Windubaya yang telah meninggalkan Pajang menuju ke Mataram, sebagaimana diduga oleh Agung Sedayu telah singgah di …

Baca lebih lanjut

Buku 195 (Seri II Jilid 95)

Beberapa saat lamanya Agung Sedayu masih sempat memandangi kesombongan orang itu. Bahkan iapun sempat berteriak-teriak, “He, orang Mataram, kerahkan kemampuanmu. Hujani aku dengan semua anak panah orang-orang Mataram. Tidak seujung pun akan dapat menyentuh tubuhku.” Namun memang sebenarnyalah demikian. Beberapa orang prajurit Mataram telah membidik orang itu bersama-sama. Bahkan anak panah merekapun terlepas hampir bersamaan …

Baca lebih lanjut