Category Archives: Seri III

Buku 201 (Seri III Jilid 1)

Sebenarnyalah Glagah Putih memang melakukannya untuk membiasakan diri dengan kuda barunya. Setiap hari meskipun hanya sebentar ia menelusuri bulak-bulak panjang. Diluar sadarnya Glagah Putih yang sedang berusaha mengenali watak kudanya itu ternyata selalu diawasi oleh beberapa orang yang ingin merampas kuda itu. Namun dalam pada itu, suatu pikiran baru telah berkembang lagi diantara orang-orang yang …

Baca lebih lanjut

Buku 202 (Seri III Jilid 2)

Untuk beberapa saat orang itu menunggu. Namun tidak terjadi sesuatu atasnya selain desing suara cambuk yang semakin lama semakin keras. Untuk sesaat orang itu sempat berpikir, “Agaknya benar kata orang tua itu. Agung Sedayu tentu hanya menakut-nakuti saja. Apalagi karena ujung cambuk itu memang tidak menyentuhnya same sekali.” Tetapi yang terjadi kemudian justru berbeda dan …

Baca lebih lanjut

Buku 203 (Seri III Jilid 3)

Tetapi kedua orang prajurit itu tidak berpaling kearah mereka. Bahkan nampaknya keduanya sedang membicarakan sesuatu yang lucu, sehingga keduanya tertawa tertahan. “Kita lihat, kemana keduanya pergi.“ berkata pemimpin kelompok itu. Kawannya mengangguk. Sehingga sejenak kemudian, dibawah bayangan rumpun-rumpun pohon bunga, kedua orang itu telah mengikuti arah kedua orang prajurit yang sedang meronda itu.

Baca lebih lanjut

Buku 204 (Seri III Jilid 4)

Ketika mereka keluar dari ujung lorong, maka Agung Sedayu mendahului para peronda, “Kami akan mengajari kuda Glagah Putih menjelajahi daerah ini dimalam hari.“ Para peronda itu tertawa. Namun kemudia mereka menjadi bertanya-tanya juga. Sikap Agung Sedayu dan Glagah Putih agak lain. “Tampaknya mereka tergesa-gesa“ berkata salah seorang peronda. “Mungkin.“ jawab seorang yang lain, “tetapi berempat …

Baca lebih lanjut

Buku 205 (Seri III Jilid 5)

Ternyata Glagah Putih tidak sempat menjawab. Orang yang marah itupun telah meloncat dan menyerangnya. Ia benar-benar ingin segera membunuh Glagah Putih, agar iapun dengan cepat membunuh putera Panembahan Senapati itu pula. Menurut perhitungannya maka anak itu tidak akan memiliki kemampuan setinggi anak Panembahan Senapati yang tidak segera dapat dikalahkan oleh saudara seperguruannya. Glagah Putih mernang …

Baca lebih lanjut

Buku 206 (Seri III Jilid 6)

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia percaya kepada kata-kata Raden Rangga itu. Namun iapun mengerti, bahwa Raden Rangga sebenarnya dapat mengurangi tenaga yang dipergunakan untuk melontarkan batu itu. Tetapi seperti biasanya, anak itu tidak sempat memperhitungkannya. Sementara itu, kuda Raden Rangga menjadi semakin lambat. Dengan dahi yang berkerut Raden Rangga berkata, “Ternyata dugaanmu benar. Orang …

Baca lebih lanjut

Buku 207 (Seri III Jilid 7)

Ketika matahari mulai naik, tempat itu sudah banyak dikunjungi orang. Anak-anak kecil berlari-larian dengan gembira. Mereka berteriak-teriak sambil berkejaran. Semakin tinggi matahari, maka tempat itupun menjadi semakin ramai. Pasarpun menjadi bertambah ramai pula. Para penjual di pasar itu telah membawa barang dagangan berlipat dari biasanya. Apalagi mereka yang berjualan makanan dan minuman. Menjelang matahari sepenggalah, …

Baca lebih lanjut

Buku 208 (Seri III Jilid 8)

“Anak iblis!“ geram Santop, “sekarang aku datang untuk membuat perhitungan.“ “Bagus-bagus. Kita akan mencoba sekali lagi kemampuan kita. Tetapi kali ini sampai tuntas, Siapa yang dapat disebut paling baik diantara kita berdua,“ berkata Ki Dumi, “jika selama ini kita masih menganggap bahwa kita memiliki tingkat ilmu yang sama, maka kita harus membuat kesan lain. Siapa …

Baca lebih lanjut

Buku 209 (Seri III Jilid 9)

Namun bagaimanapun juga Swandaru harus memperhatikan kemungkinan yang dapat dilakukan oleh kedua anak itu. Meskipun demikian katanya didalam hati, “Mungkin mereka memiliki permainan untuk membuat pangeram-eram. Tetapi kemampuan Glagah Putih tidak akan lebih dari kemampuan Agung Sedayu yang menuntunnya dalam oleh kanuragan. Sementara itu Agung Sedayu masih harus banyak belajar untuk mencapai tataran yang memadai. …

Baca lebih lanjut

Buku 210 (Seri III Jilid 10)

Ki Demang mengerutkan keningnya, sementara Ki Jagabaya dan anak Ki Demang itu termangu-mangu. Dengan nada datar Ki Demang itupun bertanya, “Anak muda, menurut pengertianku, Rangga adalah satu kedudukan atau pangkat. Apakah pengertianku itu benar?“ “Tidak Ki Demang.“ Glagah Putihlah yang menyahut. “Yang disebut adalah sebuah nama. Namanya memang Rangga. Utuhnya Raden Rangga, putera Panembahan Senopati …

Baca lebih lanjut