Category Archives: Buku 221 – 230

Buku 221 (Seri III Jilid 21)

“Raden.“ Glagah Putih masih berusaha untuk mempersilahkan Raden Rangga untuk berbaring, “lebih baik Raden tetap berbaring.“ “Kenapa?“ bertanya Raden Rangga, “aku tidak akan bertambah baik jika aku tetap berbaring dan tidak akan menambah keadaanku semakin buruk jika aku bangkit dan duduk barang sejenak.“ Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memang tidak dapat memaksa Raden …

Baca lebih lanjut

Buku 222 (Seri III Jilid 22)

Untuk beberapa lama mereka telah menunggu sambil berbicara tentang banyak hal. Terutama tentang Glagah Putih. Sabungsari yang tidak tenang menunggu berkata, “Apakah tidak sebaiknya kita mencarinya?“ “Mudah-mudahan ia tidak mengalami kesulitan. Tetapi jika kita mencarinya, mungkin akan berselisih jalan.“ berkata Agung Sedayu. Lalu, “Tetapi jika terlalu lama ia tidak kembali, maka kita memang akan mencarinya. …

Baca lebih lanjut

Buku 223 (Seri III Jilid 23)

Demikianlah, maka serangan yang satu telah disusul dengan serangan berikutnya. Bahkan kadang-kadang datang beruntun dengan cepatnya. Glagah Putih berloncatan menghindari setiap serangan. Namun pada satu saat ia memang tidak dapat menghindar lagi. Serangan itu menyusul demikian cepatnya, sekejap setelah ia menghindari serangan sebelumnya. Karena itu, maka Glagah Putih harus menangkis serangan lawannya yang tubuhnya menjadi …

Baca lebih lanjut

Buku 224 (Seri III Jilid 24)

“Aku ingin melihat kebenaran kata-katamu itu,“ berkata Kiai Sasak kemudian. “Apa maksudmu?“ bertanya orang itu. “Bawa mereka kemari dan biarlah aku melihat mereka selamat.“ berkata Kiai Sasak. Orang yang mengawasinya itu tiba-tiba tertawa. Katanya, “Jangan memperbodoh kami. Jika anak dan isterimu aku bawa kemari, maka kau yakin akan dapat mengalahkan kami dan membebaskan anak dan …

Baca lebih lanjut

Buku 225 (Seri III Jilid 25)

“Ampun, Panembahan.“ jawab Agung Sedayu, “memang agaknya orang itulah yang paling banyak mengetahui tentang gerakan yang dilakukan. Terutama tentang usaha untuk memeras Kiai Sasak agar menuruti perintah orang-orang yang menduduki rumahnya itu dengan menculik anak perempuan dan isterinya. Namun agaknya selain orang itu, Kiai Sasak sendiri akan dapat memberikan keterangan tentang keadaan yang dialaminya.“ Panembahan …

Baca lebih lanjut

Buku 226 (Seri III Jilid 26)

Untuk mengurangi gangguan yang mungkin datang, karena perkelahian itu secara kebetulan dilihat orang, maka kedua lawan Agung Sedayu telah berusaha mendesak Agung Sedayu masuk ke dalam hutan. Mereka berusaha menyerang Agung Sedayu dari satu sisi. Dengan serangan yang datang beruntun, mereka berharap bahwa sedikit demi sedikit Agung Sedayu akan terdesak kedalam hutan kecil itu. “Mau …

Baca lebih lanjut

Buku 227 (Seri III Jilid 27)

“Aku peringatkan agar kau tidak berbuat kasar. Aku memang seorang perempuan dan laki-laki itu adalah suamiku dan adikku. Nah, pergilah. Aku bersama suamiku.“ berkata Sekar Mirah. Tetapi laki-laki itu justru tertawa. Katanya, “Suamimu terlalu lemah untuk melindungi seorang perempuan cantik seperti kau. Lihat, ia belum berbuat sesuatu dalam keadaan seperti ini. Jika ia memang seorang …

Baca lebih lanjut

Buku 228 (Seri III Jilid 28)

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Ternyata cantrik itu sudah mampu memberikan dasar-dasar ilmu dari perguruan yang berbeda. Glagah Putih memang tidak mempelajari ilmu dari jalur perguruan Kiai Gringsing. Tetapi dari jalur perguruan Ki Sadewa meskipun juga lewat Agung Sedayu. Dilengkapi dengan ilmu yang disadapnya dari Ki Jayaraga. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku memang mempunyai jalur …

Baca lebih lanjut

Buku 229 (Seri III Jilid 29)

Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Segalanya terserah kepada kakang. Tetapi aku merasa gembira jika kesempatan itu diberikan kepadaku.“ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah bahwa kau bersedia melakukannya. Mudah-mudahan akan memberikan arti bagi jalur-jahir ilmu yang kau pelajari.“

Baca lebih lanjut

Buku 230 (Seri III Jilid 30)

Sementara itu, orang-orang yang memasuki padepokan itu segera menyadari keadaan mereka. Pemimpin kelompok mereka telah dikalahkan oleh lawannya. Karena itu, maka mereka tidak lagi dapat mengharapkan perlindungannya. Adalah kebetulan bahwa orang-orang yang berilmu tinggi tidak ada didalam kelompok itu, tetapi ada di kelompok yang lain. Namun orang-orang didalam kelompok itu tidak mengetahui, bahwa seorang diantara …

Baca lebih lanjut