Category Archives: Buku 231 – 240

Buku 231 (Seri III Jilid 31)

Dengan demikian maka Agung Sedayupun menyadari, bahwa persoalan antara Mataram dan Madiun masih belum mereda, dan justru menjadi semakin panas. “Agaknya beberapa orang mengambil sikap masing-masing.“ berkata Agung Sedayu. “Ya“ jawab Untara, “beberapa orang dari Mataram telah mengambil sikap sendiri tanpa menunggu perintah Panembahan Madiun. Sementara itu Panembahan Senapati telah memerintahkan Pangeran Singasari untuk berada …

Baca lebih lanjut

Buku 232 (Seri III Jilid 32)

Orang itu tersenyum. Katanya, “Ternyata kau memang memiliki kemampuan mempergunakan nalarmu. Itulah sebabnya rencana Jaka Rampan telah gagal. Agaknya kau memang lebih cerdik dari adik seperguruanmu, anak Demang Sangkal Putung itu. Tetapi agaknya benar juga kata orang, bahwa ilmu anak Ki Demang itu lebih tinggi dari ilmumu.“ “Biarlah orang lain menilai perbandingan ilmu kami.“ berkata …

Baca lebih lanjut

Buku 233 (Seri III Jilid 33)

“Satu hal yang rumit.“ berkata Ki Gede. “Ki Gede.“ Ki Panji Wiralaga memang agak ragu-ragu. Tetapi kemudian ia mengatakan juga, “satu contoh adalah Ki Tumenggung Surayuda. Ia adalah saudara seayah dengan Arya Penangsang, meskipun ia lahir dari ibu yang berbeda. Lahir dari seorang selir. Tetapi ia merasa bahwa darah keturunan Demak mengalir didalam tubuhnya. Sementara …

Baca lebih lanjut

Buku 234 (Seri III Jilid 34)

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. “Biarlah mereka mengenal kenyataan yang keras dari kehidupan ini.“ katanya. Lalu, “kalian jangan terlalu berendah hati. Sekali-sekali kalian menunjukkan kenyataan-kenyataan itu. Jika tidak demikian maka gagallah usahaku membawa mereka kemari. Terutama Teja Prabawa. Ayahnya, yang memang seorang Tumenggung, terlalu memanjakan mereka dan mendidiknya menjadi seorang bangsawan yang sombong dan keras …

Baca lebih lanjut

Buku 235 (Seri III Jilid 35)

“Tetapi ternyata murid-muridmu sama sekali tidak tahu unggah-ungguh.“ Wirastama hampir berteriak, “tanpa bimbingan gurunya aku tidak yakin, bahwa yang diucapkan itu benar-benar satu janji yang akan dipatuhi.“ “Percaya atau tidak percaya itu adalah hakmu. Sekarang aku akan membawa murid-muridku pergi. Mereka sudah lama menjadi tontonan disini, justru disaat mereka berlima dikalahkan dalam satu perkelahian. Meskipun …

Baca lebih lanjut

Buku 236 (Seri III Jilid 36)

Beberapa saat kemudian, maka serangan-serangan merekapun telah mulai mengenai sasaran. Tangan anak Ki Lurah Citrabawa itu sempat menyambar lambung Glagah Putih. Tetapi dengan mengerahkan daya tahan tubuhnya, maka dengan cepat ia menguasai dirinya sepenuhnya. Bahkan ketika kaki lawannya terjulur kearah dadanya, Glagah Putih sempat merendah. Satu putaran kakinya telah menyambar kaki lawannya demikian ia berjejak …

Baca lebih lanjut

Buku 237 (Seri III Jilid 37)

Agung Sedayu masih saja bergeser untuk mengelak. Bahkan kemudian ia telah meloncat mengambil jarak, sehingga menjauhi Rara Wulan yang berdiri termangu-mangu dalam kegelapan. Demikianlah, maka Agung Sedayupun segera terlibat dalam pertempuran sengit. Ia tidak sekedar berloncat mengelakkan serangan lawannya, tetapi Agung Sedayupun telah berganti menyerang. Ki Sigarwelat memang sudah memperhitungkan bahwa Agung Sedayu tentu memiliki …

Baca lebih lanjut

Buku 238 (Seri III Jilid 38)

Agung Sedayu tersenyum sambil menjawab, “Seperti biasanya, Ki Gede setiap kali menilai perkembangan Tanah Perdikan ini. Manakah yang sudah dapat dianggap. memenuhi keinginan rakyat Tanah Perdikan ini dan yang manakah yang masih harus dibenahi.“ “Jadi tidak ada hal-hal yang baru yang dibicarakan?“ bertanya Ki Lurah. “Tidak Ki Lurah. Memang Ki Gede menyinggung serba sedikit tentang …

Baca lebih lanjut

Buku 239 (Seri III Jilid 39)

“Itu baik sekali Swandaru.“ sahut Kiai Gringsing, “aku memang sudah memikirkan kemungkinan untuk singgah di Sangkal Putung dari Mataram. Tetapi agaknya memang lebih baik kau datang kemari.“ “Atau barangkali Guru singgah di Sangkal Putung, kemudian baru kembali ke padepokan ini?“ bertanya Swandaru. “Kau sajalah yang datang kemari. Bukankah kau dapat segera kembali tanpa bermalam disini? …

Baca lebih lanjut

Buku 240 (Seri III Jilid 40)

Suaranya berdesing menyambar-nyambar dari segala arah. Tetapi Agung Sedayupun telah mengimbanginya. Iapun meningkatkan ilmunya melampaui beberapa tataran. Meskipun ia masih harus menyesuaikan namun Agung Sedayu tidak terlambat. Tetapi pada saat orang itu meloncat dengan garangnya menghantam dada diarah jantung, Agung Sedayu telah menjajagi kemampuan dari kekuatan lawannya itu telah menangkis serangan itu. Tetapi ia tidak …

Baca lebih lanjut