Category Archives: Buku 241 – 250

Buku 241 (Seri III Jilid 41)

“Para petugas di dalam istana.“ jawab prajurit itu. “Jika tidak ada yang lewat?“ desak Agung Sedayu. “Nasibmulah yang buruk. Kau harus datang lagi besok pagi.“ jawab prajurit itu. “Baiklah. Kami akan menunggu. Tetapi jika Panembahan Senapati menjadi marah karena kami terlambat, serta barangkali dengan demikian sekelompok orang telah menjadi korban, maka itulah tanggung jawabmu. Panembahan …

Baca lebih lanjut

Buku 242 (Seri III Jilid 42)

“Kami memang orang-orang Mangir. Dua orang telah membujuk kami untuk melakukan hal ini. Ada dua hal yang mendorong kami untuk memenuhi keinginan orang itu. Pertama, orang itu telah membakar harga diri kami, orang-orang Mangir yang seakan-akan tidak dihargai sama sekali oleh Panembahan Senapati. Kedua, kami memang mendapat upah untuk berbuat seperti ini.“ berkata orang tertua …

Baca lebih lanjut

Buku 243 (Seri III Jilid 43)

“Silahkan “ berkata Prastawa. Lalu katanya pula, “Ki Jayaraga juga ikut nganglang siang tadi. Khusus memasuki hutan dilereng bukit. Agaknya untuk memasuki tempat yang berbahaya itu diperlukan seorang yang memiliki pengalaman yang luas. Ternyata kami tidak menjumpai apapun juga di lerehg bukit. Karena itu, maka nampaknya sampai saat ini tidak ada masalah yang perlu mendapat …

Baca lebih lanjut

Buku 244 (Seri III Jilid 44)

“Anak iblis.“ geram Putut Kaskaya yang juga terhitung masih muda. “Anak itu harus mendapat pelajaran. Ia harus menyadari, bahwa ia bukan orang terbaik di seluruh dunia. Baru kemudian ia dapat dibunuh.“ Putut Kaskaya itupun kemudian telah menyibak medan dan berkata kepada Senapati muda yang mengalami kesulitan menghapai Glagah Putih, “Aku mendapat perintah dari Panembahan Cahya …

Baca lebih lanjut

Buku 245 (Seri III Jilid 45)

Sesaat Wreksa Gora masih berusaha untuk berdiri tegak. Namun iapun kemudian telah terhuyung-huyung dan jatuh bertelekan pada lututnya. Tetapi ia tidak mampu untuk bertahan. Karena itu, niaka iapun kemudian jatuh terguling ditanah. Sesaat Agung Sedayu termangu-mangu. Sementara itu terdengar sorak para pengawal Tanah Perdikan. Satu lagi kemenangan telah direnggut oleh pasukan Tanah Perdikan Menoreh atas …

Baca lebih lanjut

Buku 246 (Seri III Jilid 46)

Para pengawal itupun telah melakukan pesan Sekar Mirah dengan sebaik-baiknya, karena merekapun menyadari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh orang itu. Sementara Sekar Mirah telah pergi ke dapur bersama beberapa orang pengawal yang dimintanya untuk membantu membenahi dapur dan alat-alat yang dipergunakan diluar dapur karena ruang dapur kurang mencukupi, serta menolong beberapa orang yang menjadi ketakutan …

Baca lebih lanjut

Buku 247 (Seri III Jilid 47)

Dalam pada itu, Kiai Gringsing justru teringat kepada Pandan Wangi yang berlandaskan pada ilmu dari aliran Tanah Perdikan Menoreh. Diluar sadarnya, karena ketekunannya meningkatkan ilmu, maka Pandan Wangi telah merambah kepada sejenis ilmu yang nampaknya memperkaya kemampuannya sebelum ia mengandung. Tetapi sudah tentu pada saat-saat ia menunggu kelahiran bayinya yang menjadi semakin dekat, maka Pandan …

Baca lebih lanjut

Buku 248 (Seri III Jilid 48)

Kedatangan mereka di padepokan kecil itu telah disambut dengan gembira oleh para cantrik yang jumlahnya memang hanya sedikit. Ki Widura yang berada di padepokan itu telah menyambut Kiai Gringsing pula di halaman. Dengan ramah Ki Widura telah mempersilahkan Swandaru untuk naik dan duduk di pendapa. “Marilah. Silahkan“ berkata Ki Wiruda, “kami persilahkan pula para pengawal.“ …

Baca lebih lanjut

Buku 249 (Seri III Jilid 49)

Agaknya Kiai Gringsing dapat membaca gejolak perasaan Agung Sedayu itu. Karena itu, maka katanya, “Sudahlah. Kita tidak perlu memikirkan persoalan yang lebih mendalam tentang retaknya hubungan Mataram dan Madiun. Jika kita sudah memilih tempat, maka biarlah kita berpegangan pada satu keyakinan yang mendasari pilihan kita itu.“ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud gurunya. Karena itu, …

Baca lebih lanjut

Buku 250 (Seri III Jilid 50)

“Jika kalian menolak, maka Panembahan Senapati tentu akan marah sekali. Pimpinanmu tentu juga akan menjadi malu, karena prajurit-prajuritnya bertindak seperti yang kau lakukan itu.“ Orang-orang berkuda itu tidak dapat berbuat lain. Merekapun telah berbelok menuju ke penyeberangan Utara tempat mereka menyeberang ke Barat. Ketika mereka sampai ditepian, maka tukang-tukang satang semula memang berkeberatan menyeberangkan mereka, …

Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 84 pengikut lainnya