Category Archives: Buku 261 – 270

Buku 261 (Seri III Jilid 61)

Orang-orang dari kelompok Macan Putih itu mengumpat didalam hati. Tetapi mereka harus menambah uang yang sudah mereka bayar kepada orang-orang yang memenangkan taruhan. Ketika orang-orang itu menolak untuk menerima, maka Mandira membentaknya — Jika kau menolak, maka kau yang akan aku pukuli.— Orang itu menjadi heran. Tetapi ia terpaksa menerima uang lebih dari taruhan yang …

Baca lebih lanjut

Buku 262 (Seri III Jilid 62)

Orang-orang Gajah Liwung tidak memburu orang-orang yang melarikan diri. Namun Pranawa sempat berteriak sambil menekan lawannya — Inilah orang-orang Gajah Liwung yang sebenarnya Jika kau masih berani sekali lagi mengaku orang-orang Gajah Liwung, maka kami akan menyapu bersih semua kekuatan yang ada di bukit ini.— — Persetan — geram pemimpin kelompok itu — kamilah kelompok …

Baca lebih lanjut

Buku 263 (Seri III Jilid 63)

Rara Wulan mengangguk. Katanya — Silahkan kakang.— — Biarlah mbokayumu Sekar Mirah mengawanimu di sanggar — berkata Agung Sedayu kemudian. — Tetapi sebaiknya kita beristirahat dahulu —berkata Sekar Mirah kemudian. Keempat orang itupun kemudian telah keluar dari sanggar. Namun Rara Wulan masih tetap berada di halaman belakang bersama Glagah Putih. Rara Wulan yang pakaiannya masih …

Baca lebih lanjut

Buku 264 (Seri III Jilid 64)

Tetapi untunglah bahwa beberapa orang telah berhasil mencegahnya. — Kita masih memerlukan orang ini—berkata Sabungsari. — Kawan-kawannya telah membakar rumahku — geram Suratama. — Kita akan membuat perhitungan. Tetapi tidak sekedar dengan orang ini. Tetapi dengan seluruh kelompok yang menamakan diri kelompok Gajah Liwung itu. — Suratama melepaskan tangannya. Tetapi giginya masih gemeretak menahan kemarahan …

Baca lebih lanjut

Buku 265 (Seri III Jilid 65)

– Utusan itu berpesan, agar Ki Lurah segera datang ke rumah putera Ki Lurah itu.- berkata pembantunya itu. – Bukan aku yang harus datang kepadanya. Tetapi ia harus datang kepadaku.- berkata Ki Lurah. – Tetapi nada-nadanya, mereka tahu bahwa Ki Lurah tidak ada di rumah.- berkata pembantunya itu. – Agaknya malah sudah ada utusan ke …

Baca lebih lanjut

Buku 266 (Seri III Jilid 66)

Tetapi tiba-tiba saja sebuah pertanyaan muncul didalam hatinya – Apakah hakku untuk merasa berkeberatan? Bukankah seharusnya Rara Wulan memang berbicara kepada kedua orang tuanya? – Diluar kehendaknya, telah muncul didalam angan-angannya, orang tuanya yang berada di Banyu Asri. Ayah Glagah Putih tidak lebih dari seorang prajurit yang meskipun pernah memimpin satu kesatuan prajurit di Sangkal …

Baca lebih lanjut

Buku 267 (Seri III Jilid 67)

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin cepat. Raden Antal yang tidak menduga bahwa Rara Wulan benar-benar memiliki bekal olah kanuragan, telah meningkatkan ilmunya. Ia tidak lagi terlalu berharap untuk dapat mengalahkan lawannya dengan cepat. Tetapi Raden Antal mulai memperhatikan dan menjajagi kemampuan lawannya. Gadis yang pernah dipinangnya untuk menjadi isterinya itu. Sementara itu, Rara Wulanpun …

Baca lebih lanjut

Buku 268 (Seri III Jilid 68)

Namun Ki Ajar Gurawa itu berkata — Untuk menghilangkan keragu-raguanmu, mariah kita bertemu dengan Ki Patih Mandaraka. – Glagah Putih tidak dapat menolak. Ia memang ingin membuktikan apakah orang itu tidak berbohong. Demikianlah, maka sejenak kemudian, lima orang telah berkuda menuju ke Mataram. Ki Ajar ternyata juga membawa seekor kuda yang disembunyikannya ditempat yang sepi. …

Baca lebih lanjut

Buku 269 (Seri III Jilid 69)

Para anggota kelompok Gajah Liwung mengangguk-angguk. Merekapun sudah tanggap bahwa kemungkinan itulah yang mereka lihat kemudian. Ki Jayaraga sambil mengangguk-angguk berkata — Sayang aku tidak dapat ikut dalam permainan itu, karena aku akan dapat dikenali oleh Podang Abang yang mungkin juga merupakan bagian dari mereka. — – Satu hal yang perlu dipertimbangkan – berkata Ki …

Baca lebih lanjut

Buku 270 (Seri III Jilid 70)

— Baik guru — jawab kedua orang muridnya hampir berbareng. Demikianlah maka Ki Ajar Gurawa itupun telah pergi ke Sumpyuh selagi masih sempat. Ternyata ia dapat bertemu dengan hampir semua orang-orang Gajah Liwung. Kecuali Mandira dan Naratama yang pergi ke pasar di Kotaraja dan belum kembali. — Jika dua hari lagi aku datang kerumah Ki …

Baca lebih lanjut