Category Archives: Buku 271 – 280

Buku 271 (Seri III Jilid 71)

Murid-murid Ki Ajar Gurawa justru mulai gelisah melihat lawan-lawannya. Mereka telah melukai di beberapa tempat. Bahkan senjata-senjata mereka telah menggores dada, menusuk lambung dan pundak serta lengan mereka. Tetapi Rubah-Rubah itu masih saja berloncatan menerkam tanpa perhitungan, karena mereka tidak pernah berhasil. Sabungsari pun akhirnya kehilangan kesabaran. Tetapi ia tidak merasa perlu untuk menghentikan Rubah …

Baca lebih lanjut

Buku 272 (Seri III Jilid 72)

Pandan Wangi dan Sekar Mirah menundukkan kepalanya, matanya menjadi basah. Sementara Rara Wulan termangu-mangu. Sekali-sekali dipandanginya Ki Widura, kemudian Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti. Bahkan kemudian ia melihat dua orang cantrik yang menangis. Benar-benar menangis, sehingga terasa dada Rara Wulan ikut menjadi sesak oleh isaknya. Betapapun keduanya berusaha untuk bertahan, tetapi ternyata bahwa keduanya telah …

Baca lebih lanjut

Buku 273 (Seri III Jilid 73)

Dengan demikian, maka orang-orang yang tiba-tiba saja membuat kekacauan itu telah hilang dari penilikan para prajurit yang terkejut. Bukan saja para prajurit, tetapi orang-orang yang menyaksikan pertandingan itu pun terkejut. Bahkan Sabungsari dan Glagah Putih juga terkejut. Demikian pula Ki Ajar Gurawa dan anggota Gajah Liwung yang lain. Mereka tidak sempat melihat kemana orang-orang itu …

Baca lebih lanjut

Buku 274 (Seri III Jilid 74)

“Ternyata mereka adalah orang-orang yang juga berilmu tinggi. Mungkin mereka memiliki kelebihan seperti Ki Podang Abang dan Ki Wanayasa. Namun agaknya mereka mempunyai caranya tersendiri untuk mengacaukan Mataram, dan bahkan kedua kelompok itu agaknya justru bersaing. Karena itu, demikian Ki Wanayasa dan Ki Podang Abang lenyap dari Mataram, mereka telah hadir untuk melaksanakan cara mereka …

Baca lebih lanjut

Buku 275 (Seri III Jilid 75)

Ketika pedang pendek Ki Samepa menyambar ke arah leher Agung Sedayu, ia sempat menghindar sambil merendahkan tubuhnya. Dengan tangkasnya Agung Sedayu menghentakkan juntai cambuk. Tidak menebas sendal pancing, tetapi juntai cambuk Agung Sedayu itu seakan-akan menjadi sebatang tombak kecil yang tajam. Juntai itu menusuk lurus ke arah lambung Ki Samepa. Ki Samepa memang terkejut. Ia …

Baca lebih lanjut

Buku 276 (Seri III Jilid 76)

“Dan kalian telah mengulang kembali kesalahan itu. Di sini kalian telah mulai dengan cara yang salah. Bencana itu akan datang lagi pada suatu saat. Seandainya hal itu bukan kalian anggap bencana, namun ternyata telah mengusir kalian dari pemukiman kalian,“ berkata Sabungsari. “Jadi apa yang harus kami lakukan?“ bertanya orang yang tertua di antara orang-orang itu. …

Baca lebih lanjut

Buku 277 (Seri III Jilid 77)

Namun peristiwa itu merupakan satu peringatan bagi Tanah Perdikan Menoreh, bahwa sebenarnyalah bahaya masih ada di antara mereka. Orang-orang berilmu tinggi dan pengikutnya itu masih tetap mendendam Sabungsari dan Glagah Putih. Apalagi setelah beberapa orang di antara mereka justru terbunuh di Tanah Perdikan Menoreh beberapa waktu yang lewat. Malam itu seisi rumah Agung Sedayu seakan-akan …

Baca lebih lanjut

Buku 278 (Seri III Jilid 78)

Nampaknya memang tidak ada jalan lain kecuali menyerahkan Rara Wulan, jika mereka tidak ingin Raras hilang untuk selamanya dari lingkungan keluarganya. Bagi mereka yang tersangkut dalam persoalan hilangnya Raras, maka setiap tarikan nafas rasa-rasanya merupakan ketegangan yang semakin mencengkam, sejalan dengan beredarnya waktu. Ketika malam lewat, maka pagi-pagi benar Agung Sedayu telah bersiap bersama Glagah …

Baca lebih lanjut

Buku 279 (Seri III Jilid 79)

Raras tidak menjawab. Tetapi dari sorot matanya nampak bahwa ia tidak yakin akan kata-kata Raden Teja Prabawa, dan bahkan kata-kata ibunya. Raden Teja Prabawa sendiri masih saja berdiri termangu-mangu menanggapi sikap Raras. Namun Nyi Rangga-lah yang kemudian mempersilahkan duduk. Raden Teja Prabawa pun kemudian duduk di sebelah Wacana. Tetapi ia tidak segera dapat menyatakan sesuatu. …

Baca lebih lanjut

Buku 280 (Seri III Jilid 80)

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Tetapi katanya kemudian, “Aku akan berbicara dengan keduanya. Tetapi bukankah Mataram nampaknya juga dalam keadaan tenang?” Ki Wirayuda mengangguk. Katanya, “Ya. Sekarang kita tidak melihat gejolak di Mataram. Mudah-mudahan untuk selanjutnya Mataram dalam keadaan tenang. Meskipun demikian, mendung yang mengalir dari Pati masih tetap memungkinkan untuk mencurahkan hujan angin dan prahara.” …

Baca lebih lanjut