Category Archives: Buku 291 – 300

Buku 291 (Seri III Jilid 91)

Ketika pertempuran menjadi semakin sengit, maka lawan Swandaru itu semakin merasakan betapa kekuatan dan kemampuan orang yang terhitung agak gemuk itu semakin menekannya. Sekali-sekali Swandaru telah berhasil menembus pertahanan lawannya. Serangan-serangannya mulai menyentuh tubuh lawannya. Karena itu, maka lawan Swandaru itu telah meningkatkan ilmunya sampai batas kemampuannya yang tertinggi. Seperti Ki Wreksadana, maka saudara seperguruannya …

Baca lebih lanjut

Buku 292 (Seri III Jilid 92)

Demikian Wikan itu tegak berdiri, maka lawannya yang lebih kecil itu segera menyerangnya. Tetapi lawannya itu menjadi semakin berhati-hati agar ia tidak lagi dapat disekap oleh tangan Wikan. Karena itu, maka anak itu telah berusaha menyerang dengan cepat kemudian menjauhinya dengan cepat pula. Demikian Wikan tegak berdiri, maka lawannya yang kecil itu pun telah meloncat. …

Baca lebih lanjut

Buku 293 (Seri III Jilid 93)

Glagah Putih mengangguk-angguk. Jawabnya, “Nampaknya Kanthi telah menjadi benar-benar berputus-asa. Karena itu, kedatangan Rara Wulan merupakan sebuah harapan baru baginya, karena Kanthi merasa pernah mendapat perlindungan darinya. Sehingga dengan demikian, dekat dengan Rara Wulan dapat memberikan ketenangan baginya.” Sekar Mirah mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti perasaan Kanthi. Namun kemudian Sekar Mirah itu pun berdesis, “Tetapi justru …

Baca lebih lanjut

Buku 294 (Seri III Jilid 94)

Rara Wulan yang melihat Kanthi tersenyum itu pun ikut tersenyum pula. Bahkan di luar sadarnya Rara Wulan berkata, “Jika kau tersenyum, maka kau menjadi sangat cantik Kanthi.” “Ah, kau Rara,“ Kanthi menjulurkan tangannya untuk mencubit lengan Rara Wulan. Tetapi Rara Wulan bergeser sambil berkata, “Aku berkata sesungguhnya.” Sekar Mirah pun tertawa. Namun Sekar Mirah tahu …

Baca lebih lanjut

Buku 295 (Seri III Jilid 95)

Tetapi para pemimpin prajurit Pati masih saja berteriak-teriak. Mereka berusaha untuk mendorong para prajuritnya untuk meningkatkan kemampuan mereka. Tetapi para prajurit Pati itu sudah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka memang tidak mampu berbuat lebih dari yang sudah mereka lakukan. Karena itu, perlahan-lahan para prajurit Mataram yang semula jumlahnya lebih sedikit itu kemudian mampu mendesak dan …

Baca lebih lanjut

Buku 296 (Seri III Jilid 96)

Dengan teliti Untara telah memberikan perintah dan pesan kepada seluruh pemimpin kelompok dalam pasukannya. Kapan mereka mulai menyerang sasaran dan sejauh mana mereka bergerak. Isyarat kepada seluruh pasukan saat mereka harus menarik diri. Kemana mereka harus mundur, dan kemudian menentukan tempat untuk berkumpul seluruh pasukan pada kemungkinan pertama, kedua dan terakhir. Beberapa saat kemudian, maka …

Baca lebih lanjut

Buku 297 (Seri III Jilid 97)

Pada hari pertama, kedua pasukan yang besar dari Mataram dan Pati seakan-akan masih tetap dalam keseimbangan. Kedua Senapati Agung dari kedua pasukan itu masih belum langsung turun ke medan. Keduanya masih mengendalikan pertempuran dari kepala gelar mereka masing-masing. Meskipun korban telah berjatuhan di kedua belah pihak, tetapi kekuatan kedua pasukan itu rasa-rasanya masih belum menjadi …

Baca lebih lanjut

Buku 298 (Seri III Jilid 98)

Agung Sedayu tidak dapat segera melihat dengan jelas apa yang terjadi dengan pasukan Pati. Namun menurut pendapat Agung Sedayu, induk pasukan Pati di bawah pimpinan langsung Kanjeng Adipati Pati telah berada di sebuah padukuhan yang cukup besar tetapi kosong. Para penghuninya yang sejak semula telah mengungsi, masih belum kembali ke padukuhan mereka. “Apakah Kanjeng Adipati …

Baca lebih lanjut

Buku 299 (Seri III Jilid 99)

“Baik,” geram orang yang di dadanya ditumbuhi bulu-bulu yang lebat itu, “kami akan memaksa kalian untuk menyerahkan leher kalian. Tetapi kami ingin melihat lebih dahulu, bagaimana kalian menyesali kesombongan kalian.” Agung Sedayu tidak menyahut lagi. Tetapi iapun segera mempersiapkan diri. Orang yang bertubuh tegap dan berdada bidang itu pun kemudian menggeram, “Marilah. Kita bertempur di …

Baca lebih lanjut

Buku 300 (Seri III Jilid 100)

Tetapi Glagah Putih yang sudah jemu dengan pembicaraan yang berkepanjangan itu-lah yang menyahut, “Peluang kita menjadi sama. Kalian membunuh kami, atau kami membunuh kalian.” “Anak iblis,” geram Ki Rangga, “kau sadari apa yang kau katakan?” “Sadar atau tidak sadar, kami tidak mempunyai pilihan lain. Kami harus mempertahankan diri dari kesewenang-wenangan. Jangan kalian mengira bahwa kami …

Baca lebih lanjut