Category Archives: Buku 301 – 310

Buku 301 (Seri IV Jilid 1)

Glagah Putih tertawa pendek. Katanya, “Rasa-rasanya ingin makan dan minum dengan tenang dan tidak terganggu, sementara selera minuman dan makanannya sesuai dengan selera kita.” Agung Sedayu pun tertawa pula. Katanya, “Kau ingin bermanja-manja lagi?” “Sekali-sekali, Kakang,” jawab Glagah Putih. Demikianlah, mereka pun kemudian masuk ke sebuah kedai yang tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu …

Baca lebih lanjut

Buku 302 (Seri IV Jilid 2)

Kawan-kawannya termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat persiapan orang-orang Tanah Perdikan itu untuk melakukan perburuan. Meskipun demikian, anak-anak muda itu telah berusaha secepatnya memanjat tebing. Kemudian menuruni sisi yang lain dan keluar dari tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Pada saat yang bersamaan, Ki Jayaraga telah berada di padepokan Kiai Warangka di dekat padukuhan Kronggahan. …

Baca lebih lanjut

Buku 303 (Seri IV Jilid 3)

Ketika malam turun menyelimuti padukuhan-padukuhan yang dipergunakan sebagai tempat berkemah para prajurit Mataram itu, suasana pun menjadi sepi. Para prajurit masih belum mapan sesuai dengan pembagian tempat yang sedang disusun. Tetapi mereka masih menebar di sekitar banjar padukuhan. Sementara itu, para prajurit dan pengawal yang berjaga-jaga pun masih mereka lakukan sebagaimana sebelumnya. Namun di malam …

Baca lebih lanjut

Buku 304 (Seri IV Jilid 4)

“Dengan demikian, apakah Ki Resa benar-benar melakukan semadi dalam rangka menemukan peti itu?” bertanya Ki Jayaraga. “Aku memang benar-benar melihat apakah peti itu ada di padepokan ini. Ternyata di dalam semadiku, aku mendapatkan keyakinan bahwa peti itu tidak ada di sini. Maksudku, tidak ada di padepokan ini. Tetapi aku belum berhasil mengetahui di mana peti …

Baca lebih lanjut

Buku 305 (Seri IV Jilid 5)

Tetapi sebelum Agung Sedayu sempat menyerang, tiba-tiba saja Ki Tumenggung itu bagaikan melayang dengan kaki terjulur lurus menyamping menyambar keningnya. Agung Sedayu terkejut. Dengan cepat ia memiringkan tubuhnya untuk mengelakkan sambaran kaki Ki Tumenggung. Tetapi adalah di luar dugaannya bahwa demikian cepatnya Ki Tumenggung Wimbasara mengayunkan tangannya menebas ke samping. Agung Sedayu terlambat mengelak. Kecepatan …

Baca lebih lanjut

Buku 306 (Seri IV Jilid 6)

Namun Agung Sedayu itu terkejut ketika Panembahan Senapati itu berkata, “Tetapi perjalanan ini mendekatkan kita kepada batas akhir dari segala-galanya.” “Panembahan,” desis Agung Sedayu, “jika nanti senja turun dan malam menjadi gelap, bukankah itu berarti bahwa kita berada di dalam penantian untuk menyongsong matahari yang terbit esok?” Panembahan Senapati tersenyum. Katanya, “Sudahlah, Agung Sedayu. Mudah-mudahan …

Baca lebih lanjut

Buku 307 (Seri IV Jilid 7)

Orang-orang yang menyerang padepokan itu mulai merasa tertekan. Senjata mereka yang beraneka itu sama sekali tidak menggetarkan lawan-lawan mereka yang lebih banyak mempergunakan senjata yang banyak dipakai. Sebagian besar di antara mereka mempergunakan senjata pedang dan tombak pendek, tetapi ada juga prajurit dari Pasukan Khusus yang mempergunakan senjata yang lain. Seorang prajurit yang bertubuh raksasa …

Baca lebih lanjut

Buku 308 (Seri IV Jilid 8)

Sekar Mirah tidak segera menjawab. Tetapi Ki Saba Lintang itu justru menyerahkan tongkat itu sambil berkata, “Lihatlah, Nyi Lurah. Dengan memegang langsung tongkat ini, Nyi Lurah akan merasakan getaran keaslian tongkat itu. Sengaja atau tidak sengaja.” Seakan-akan di luar sadarnya, Sekar Mirah telah menerima tongkat itu. Diamatinya tongkat itu dari pangkal sampai ke ujungnya. Memang …

Baca lebih lanjut

Buku 309 (Seri IV Jilid 9)

Sementara itu Sekar Mirah pun berkata, “Rara. Bukankah bukan kita, dan bukan pula Nyi Dwani, yang menentukan kapan aku akan terbujur diam tanpa menyapamu lagi? Kenapa kita harus menjadi gelisah?” Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling memandangi wajah Agung Sedayu dan Ki Jayaraga, yang dilihatnya justru keduanya tersenyum-senyum saja. Tetapi Glagah Putih tidak tersenyum …

Baca lebih lanjut

Buku 310 (Seri IV Jilid 10)

Namun Sukra itu pun kemudian bangkit sambil berkata, “Aku berharap bahwa pada suatu saat aku dapat berbuat sesuatu.” “Tentu, Sukra,” jawab Glagah Putih. Sukra berpaling memandang Glagah Putih. Tetapi tidak seperti biasanya, Glagah Putih nampak bersungguh-sungguh. Bahkan kemudian katanya, “Asal kau bersungguh-sungguh, maka kau akan dapat berbuat sesuatu.” Tetapi Sukra itu justru bertanya, “Apakah aku …

Baca lebih lanjut