Category Archives: Buku 311 – 320

Buku 311 (Seri IV Jilid 11)

Namun yang diperhitungkan oleh Sekar Mirah adalah benar. Orang yang menyebut dirinya Ki Sawung Semedi itu memang datang menemuinya lagi. Sekar Mirah yang sudah membawa bekal pesan-pesan dari Agung Sedayu dan Ki Jayaraga memang menjadi semakin berhati-hati. Tetapi Sekar Mirah berusaha untuk tidak menunjukkan kecurigaannya kepada Ki Sawung Semedi. Dengan ramah Sekar Mirah menerima Ki …

Baca lebih lanjut

Buku 312 (Seri IV Jilid 12)

Namun di antara pertempuran yang sengit itu, Sekar Mirah masih sempat bertanya, “Bagaimana Nyi Dwani, apakah kau setuju? Jika kau setuju, maka kita membuat persetujuan tersendiri.” “Tetapi apakah kau berkata sebenarnya, bahwa Ki Saba Lintang telah mengambil Rara Wulan?” “Jika tidak, kami tidak akan menempuh perjalanan yang demikian jauhnya.” Nyi Dwani tidak menjawab. Tetapi diulurkannya …

Baca lebih lanjut

Buku 313 (Seri IV Jilid 13)

Nyi Dwani tidak bertanya lagi. Ia mencemaskan dirinya sendiri. Jika jantungnya meledak, maka ia tidak akan dapat mengendalikan dirinya sendiri, sehingga dengan demikian rencananya justru akan gagal. Ketika kemudian Nyi Dwani masuk ke ruang dalam bersama Empu Wisanata, maka dilihatnya dua orang yang duduk terkantuk-kantuk. Tetapi ketika pintu berderit, maka keduanya terkejut. Keduanya segera bangkit …

Baca lebih lanjut

Buku 314 (Seri IV Jilid 14)

Demikian minuman itu lewat tenggorokan, maka ia pun menjadi sedikit tenang. “Apa yang terjadi?” bertanya Empu Wisanata. “Aku telah mereka tinggalkan.” “Mereka siapa?” “Kakang Saba Lintang dan beberapa orang kawannya yang berhasil melarikan diri.” “Kenapa?” Nyi Dwani menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian meneguk minumannya lagi sambil berdesah. Ayahnya tidak mendesaknya. Ia tahu bahwa anaknya …

Baca lebih lanjut

Buku 315 (Seri IV Jilid 15)

“Jika demikian, Ki Gede Menoreh memang harus menjadi sangat berhati-hati,” berkata Ki Patih, “Menoreh harus benar-benar bersiap menghadapi kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Ki Lurah pun harus menyiapkan prajurit dari Pasukan Khusus. Mungkin pasukan itu dengan tiba-tiba saja harus dipergunakan.” “Ya, Ki Patih. Kami di Tanah Perdikan Menoreh akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dari pembicaraan kami …

Baca lebih lanjut

Buku 316 (Seri IV Jilid 16)

“Aku sependapat,” sahut Ki Gede. Namun katanya kemudian, “Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika kita memperhitungkan berbagai macam kemungkinan.” “Ya, Kakang. Menurut pendapatku, para petugas sandi kita akan mengamati persiapan Ki Saba Lintang lebih cermat lagi, meskipun kita tidak akan tunduk kepada ketentuannya” “Ya. Aku minta Angger Glagah Putih nanti menyampaikannya kepada Ki Lurah.” “Baik, …

Baca lebih lanjut

Buku 317 (Seri IV Jilid 17)

Namun ketiga orang yang terhitung pendek itu mampu bergerak dengan cepat pula. Bahkan beberapa saat kemudian ketiganya telah menggenggam senjata mereka masing-masing. Semacam tongkat baja yang di ujungnya terdapat sebuah bulatan sebesar kepalan tangannya, yang semula terselip di punggung mereka. Benturan-benturan yang kemudian terjadi, membuat Glagah Putih menjadi semakin berhati-hati. Ketiga orang itu ternyata memiliki …

Baca lebih lanjut

Buku 318 (Seri IV Jilid 18)

Agung Sedayu menggeleng sambil menjawab, “Belum Ki sanak. Baru sekarang aku mendengar namamu.” “Ternyata namamu lebih semarak dari namaku, Ki Lurah. Aku sudah mendengar nama kebanggaan prajurit Mataram dari Pasukan Khusus yang ada di Tanah Perdikan ini. Juga nama kebanggaan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.” “Terima kasih atas pujianmu itu, Ki Sanak.” “Tetapi sayang bahwa aku …

Baca lebih lanjut

Buku 319 (Seri IV Jilid 19)

Bengkring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Selamat tinggal, Suranata.” Suranata tidak menjawab. Bengkring itu pun kemudian melangkah meninggalkannya. Sekali ia masih berpaling dan berkata, “Orang-orang lain yang tertinggal akan berbesar hati karena kau juga tidak pergi, Suranata.” Suranata tidak menjawab lagi. Demikianlah, beberapa saat kemudian, perkemahan itu menjadi sepi. Bengkring telah berjalan menyusul kawan-kawannya yang berjalan …

Baca lebih lanjut

Buku 320 (Seri IV Jilid 20)

Kedatangan Ki Demang yang begitu cepat, memang tidak diduga oleh Ki Gede. Glagah Putih dan Sabungsari memang sudah melaporkan, bahwa mereka memberi waktu tiga hari bagi Ki Demang untuk memberikan jawaban. Tetapi Ki Demang itu datang begitu cepat. Ki Demang dan pengiringnya diterima dengan baik oleh Ki Gede yang kebetulan tidak bepergian. Ki Gede sendiri …

Baca lebih lanjut