Category Archives: Buku 331 – 340

Buku 331 (Seri IV Jilid 31)

Sedikit wayah sepi bocah, para pengawal telah berkumpul di sebuah ara-ara perdu yang luas, di pinggir sungai yang mengalir membelah Kademangan Sangkal Putung. Hanya kebetulan saja, karena sama sekali tidak mereka rencanakan, bulan pun nampak hampir bulat di langit. Sinarnya yang lembut menyelimuti pasukan pengawal Sangkal Putung yang sudah siap untuk berangkat itu. Tidak ada …

Baca lebih lanjut

Buku 332 (Seri IV Jilid 32)

Namun ketika Ki Ambara bertekad untuk segera membalas kematian Wiyati, ternyata bahwa lawannya bukan seorang yang mudah dikalahkannya. Ketika Ki Ambara meningkatkan ilmunya, maka Ki Jayaraga pun telah melakukan hal yang sama. Dengan demikian maka Ki Jayaraga masih saja tetap mampu mengimbangi kemampuan Ki Ambara. Dalam pada itu, Swandaru dan Pandan Wangi yang tidak terikat …

Baca lebih lanjut

Buku 333 (Seri IV Jilid 33)

Glagah Putih, diantar oleh Ki Patih Mandaraka dan Agung Sedayu, telah menghadap Pangeran Adipati Anom. Ia langsung mendengar perintah Pangeran Adipati Anom kepadanya, “Bawa tongkat baja putih itu ke Mataram, dan serahkan padaku.” Glagah Putih menunduk dalam-dalam. Terdengar suaranya bergetar, “Hamba, Pangeran. Hamba akan membawa tongkat baja putih itu ke Mataram. Semoga Yang Maha Agung …

Baca lebih lanjut

Buku 334 (Seri IV Jilid 34)

Dengan nada rendah Glagah Putih pun berkata, “Itulah rahasia yang tersimpan di Kadipaten Jipang. Pangeran Arya Penangsang sebagai pribadi yang seharusnya menerima wahyu keraton, ternyata tidak sejalan dengan orang yang memiliki sarang wahyu keraton itu.” “Bukankah Ki Patih Mantahun orang yang sangat setia kepada pepundennya?” “Aku masih terlalu muda waktu itu, Ki Sanak. Aku hanya …

Baca lebih lanjut

Buku 335 (Seri IV Jilid 35)

Rumah itu memang bukan rumah yang besar. Tetapi nampaknya terawat. Halamannya pun nampak bersih. Sinar bulan yang terang membuat bayang-bayang dedaunan dari pepohonan yang tumbuh di halaman depan rumah itu. Sejenak kemudian pintu pun terbuka. Seorang laki-laki yang sudah separuh baya melangkah keluar. Namun sebelum orang itu duduk, perempuan yang ditemui di jalan itu pun …

Baca lebih lanjut

Buku 336 (Seri IV Jilid 36)

“Kita telah kehilangan,” berkata ayah gadis yang pertama kali dibebaskan oleh Glagah Putih dan Rara Wulan, “gadis yang menyebut dirinya Wara Sasi itu telah mengumpankan dirinya sendiri. Sebagai seorang gadis yang cantik, ia berharap bahwa Ki Demang yang telah dicurigai itu menculiknya. Dengan tingkat kemampuannya yang tinggi, ia justru berhasil menawan Ki Demang serta membebaskan …

Baca lebih lanjut

Buku 337 (Seri IV Jilid 37)

“Ya. Sumunar akan datang kemari untuk membunuhku. Tetapi aku sudah siap menerima kedatangan mereka. Namun dengan peristiwa yang baru saja terjadi, aku tidak tahu apakah Sumunar akan memanggil orang-orangnya yang lain. Mungkin ia merasa bahwa ia harus berhadapan dengan dua orang tengkulak yang akan mengganggu kehadirannya di sini.” “Paman,” berkata Glagah Putih, “apakah Paman telah …

Baca lebih lanjut

Buku 338 (Seri IV Jilid 38)

Pemilik sawah itu pun termangu-mangu. Namun kemudian ia berdesis, “Mudah-mudahan.” Orang-orang yang pergi ke sawah itu pun kemudian meninggalkan tempat itu, kecuali pemilik sawah itu sendiri. Sedang seorang yang lain, yang ketika ditemui pemilik sawah itu sudah bersiap pergi ke sawahnya, langsung pergi ke sawahnya yang tidak terlalu jauh lagi. Namun peristiwa itu menjadi pembicaraan …

Baca lebih lanjut

Buku 339 (Seri IV Jilid 39)

Ki Wurcitra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Entahlah.” Mata Nyi Citra Jati itu pun kemudian menjadi redup. “Sudahlah. Silahkan beristirahat.” Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati pun kemudian dipersilahkan tidur di sentong sebelah kiri. Sementara Ki Wurcitra sendiri di sentong sebelah kanan. Sedangkan Glagah Putih dan Rara Wulan tidur di amben yang …

Baca lebih lanjut

Buku 340 (Seri IV Jilid 40)

Padmini dan Baruni bergeser mengambil jarak. Ketika Padmini tiba-tiba saja hampir terantuk kaki seorang pengikut Srini, maka tanpa bertanya apapun, dilepaskannya anak panahnya dari jarak yang dekat, menembus dada orang itu. Orang itu terkejut. Anak panah itu langsung menyentuh jantungnya, sehingga orang itu pun terguling jatuh di kegelapan. Kawannya yang berdiri tidak terlalu jauh, terkejut. …

Baca lebih lanjut