Category Archives: Buku 341 – 350

Buku 341 (Seri IV Jilid 41)

Ki Citra Jati beringsut setapak. Iklan

Baca lebih lanjut

Buku 342 (Seri IV Jilid 42)

— Tentu saja aku tidak dapat melimpahkan ilmuku

Baca lebih lanjut

Buku 343 (Seri IV Jilid 43)

Dengan demikian, maka rasa-rasanya Ki Citra Jati dan keluar menjadi agak tergesa-gesa. Setelah membayar harga minuman dan makanan, maka merekapun meninggalkan perempuan tua penjual makanan itu. Anak muda itu masih saja menyertai Ki Citra Jati sekeluarga. Namun anak muda itupun kemudian berkata — Sebaiknya aku memisahkan diri. Aku banyak dikenal disini. Meskipun mereka sudah menduga bahwa …

Baca lebih lanjut

Buku 344 (Seri IV Jilid 44)

-Ya, Ki Demang. -Aku ingin berbicara dengan orang yang menginap di penginapan ini yang isteri dan anaknya baru saja diculik orang. Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Ia menjadi agak ragu-ragu untuk menjawab. Namun Ki Demangpun membentaknya – Di bilik yang mana orang itu menginap he ? – Anak muda itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun menjawab …

Baca lebih lanjut

Buku 345 (Seri IV Jilid 45)

Dua orang terlempar dari arena. Sementara itu orang yang didorong oleh kawannya yang berkumis lebat serta orang yang dilanggarnya, telah bersiap pula untuk menyerang. Sejenak kemudian, pertempuranpun segera menjadi sengit. Glagah Putih sendiri harus bertempur melawan lebih dari lima orang. Namun setiap kali orang-orang yang mengeroyoknya itu terpelanting dari arena, jatuh terlempar dengan kerasnya. Tetapi merekapun …

Baca lebih lanjut

Buku 346 (Seri IV Jilid 46)

Glagah Putih mengangguk-angguk. Meskipun demikian, diwajahnya nampak keragu-raguannya. Beberapa saat Glagah Putih terdiam. Namun kemudian Ki Jayaragalah yang berbicara — Ki Lurah, Ada baiknya disamping usaha para petugas sandi untuk mengamati keadaan, kita berusaha untuk menemukan perempuan yang mengaku bernama Nyi Lurah Agung Sedayu itu. — Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata – Ki …

Baca lebih lanjut

Buku 347 (Seri IV Jilid 47)

Wajah Ki Gerba Lamatan menegang, katanya – Ternyata kau sombong sekali, Ki Widura.- – Ya. Aku memang seorang yang sombong. Kau lihat senjataku ? Sebuah cambuk dan sebilah parang. Kau tentu dapat membaca pertanda itu. Bahwa aku adalah orang yang sangat sombong – Ki Gerba Lamatan menarik nafas panjang. Katanya – Baiklah. Kita akan bertempur. …

Baca lebih lanjut

Buku 348 (Seri IV Jilid 48)

— Terima kasih, kakang — sahut Rara Wulan — kami ingin sekali untuk dapat ikut pergi ke Demak. Aku memang belum pernah ke Demak Selain itu, mungkin kami akan mendapat kesempatan bertemu lagi dengan Ki Saba Lintang.— Malam itu, Rara Wulan menjadi gelisah. Ia benar-benar ingin dapat pergi ke Demak. Nalurinya mengatakan, bahwa Ki Saba …

Baca lebih lanjut

Buku 349 (Seri IV Jilid 49)

— Bukan itu— — Siap atau tidak siap, aku akan menyerangmu.— Pangeran Puger benar-benar tidak memberi kesempatan Ki Naga Samekta untuk berbicara. Dengan cepat tombak Pangeran Puger itu berputar, kemudian terayun mendatar menyambar kearah dada. Namun ketika Ki Naga Samekta menghindar dengan meloncat surut, maka tombak itu terjulur lurus memburu lambung.

Baca lebih lanjut

Buku 350 (Seri IV Jilid 50)

Ternyata Glagah Putih tidak terlalu bodoh untuk tidak menghubungkan sikap laki-laki itu dengan ancaman Ki Tumenggung Panjer. Agaknya prajurit itu sengaja memancing persoalan. Jika terjadi perselisihan, maka ia akan dapat ditangkap dan ditahan di Demak. Karena itu, maka Glagah Putihpun menjadi semakin berhati-hati menghadapi sikap prajurit itu.

Baca lebih lanjut