Category Archives: Buku 351 – 360

Buku 351 (Seri IV Jilid 51)

“Dengan Ki Saba Lintang, maksudmu? Kau kenal Ki Saba Lintang?” “Persetan dengan Saba Lintang. Ia bukan seorang yang ilmunya pantas dikagumi. Kelebihan Saba Lintang satu-satunya adalah kepandaiannya membujuk orang-orang berilmu tinggi untuk berpihak kepadanya. Tetapi Ki Srengga Sura tidak dapat dibujuknya.” “Sekarang, aku yang memiliki pertanda kepemimpinan Perguruan Kedung Jati ada di sini.” “Persetan kau. …

Baca lebih lanjut

Buku 352 (Seri IV Jilid 52)

Sementara itu, ketika Sungsang masih saja meronta-ronta, maka Ki Lurah Agung Sedayu pun berkata, “Jika kau tidak dapat tenang, maka aku akan membiarkan kau menjadi tontonan. Aku akan meninggalkan pedati dengan kau terikat di dalamnya, di tengah-tengah jalan, dengan dijaga oleh dua orang prajurit. Aku akan memerintahkan prajurit itu mengedarkan tampah untuk memungut uang bagi …

Baca lebih lanjut

Buku 353 (Seri IV Jilid 53)

Ketika mereka sampai di rumah Ki Gede, Ki Gede yang baru saja mandi dan duduk di serambi sambil mendengarkan burungnya berkicau, terkejut ketika seorang pembantu di rumahnya memberitahukan bahwa Ki Lurah Agung Sedayu datang untuk menemuinya. “Ki Lurah?” “Ya.” “Sepagi ini? Dengan siapa?” “Dengan Glagah Putih dan Sukra. Anak yang tinggal bersamanya itu.” Ki Gede …

Baca lebih lanjut

Buku 354 (Seri IV Jilid 54)

“Kau jangan terlalu sombong, Ki Lurah. Kau sekarang bukan apa-apa lagi di sini. Kami tidak lagi mengagumimu sebagai seorang yang tidak dapat dikalahkan karena ilmumu yang tinggi. Di sini ada orang yang ilmunya lebih tinggi dari ilmumu dan ilmu Glagah Putih.” “Aku tahu. Tetapi aku datang tidak untuk memperbandingkan ilmu. Tetapi aku ingin berbicara atas …

Baca lebih lanjut

Buku 355 (Seri IV Jilid 55)

“Sikapmu memang sangat menarik, Ki Kapat Argajalu. Seakan-akan terpercik dari kata-katamu kebenaran yang bersih dari segala cacat. Mungkin kau dapat mengelabuhi anak-anak muda Pudak Lawang. Bahkan Ki Demang Pudak Lawang. Tetapi tidak aku, Ki Kapat.” “Tentu kau akan berpegang pada kata-kata ayahmu, Pandan Wangi. Tetapi itu tidak apa. Bahkan itu adalah sikap yang wajar sekali. …

Baca lebih lanjut

Buku 356 (Seri IV Jilid 56)

Dua orang putut yang tidak yakin tentang apa yang telah terjadi di halaman banjar, berusaha dengan sekuat tenaga bersama para cantriknya untuk dapat memasuki halaman, dengan meloncati dinding halaman samping. Mereka merasa berhasil ketika mereka sudah berada di halaman. Namun ketika mereka berlari-lari ke pendapa, mereka telah bertemu dengan sekelompok pengawal Tanah Perdikan serta sekelompok …

Baca lebih lanjut

Buku 357 (Seri IV Jilid 57)

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Peristiwa seperti itu masih juga terulang. Masih saja ada persoalan-persoalan kecil yang seharusnya tidak perlu terjadi. Tetapi agaknya anak-anak muda itu sulit untuk diajak berbicara. “Nah, rakit itu sudah semakin menepi. Marilah, Nduk, jangan takut. Kami tidak akan menyakitimu. Bahkan kau akan mendapatkan apa yang belum pernah diberikan oleh suamimu.” …

Baca lebih lanjut

Buku 358 (Seri IV Jilid 58)

Selendang Rara Wulan dan ikat pinggang Glagah Putih pun telah berputar seperti baling-baling. Beberapa ekor anjing hutan pun telah terbunuh. Bangkainya berserakan di sekitar arena pertempuran itu, sehingga akhirnya anjing hutan yang tersisa pun segera melarikan diri. Glagah Putih dan Rara Wulan pun termangu-mangu sejenak. Glagah Putih yang mendekati isterinya itu pun bertanya. “Bagaimana keadaanmu, …

Baca lebih lanjut

Buku 359 (Seri IV Jilid 59)

Karena itu, maka orang itu pun segera memberi isyarat kepada kedua orang kawannya untuk segera melibatkan diri. Ketika kedua orang yang lain meloncat turun ke arena, maka lawannya pun meloncat surut mengambil jarak. “Kalian akan bertempur bertiga?” bertanya orang itu. Orang Gunung Gandar itu-lah yang menjawab, “Kau-lah yang mencari perkara. Kalau kau menjadi ketakutan, menyerahlah. …

Baca lebih lanjut

Buku 360 (Seri IV Jilid 60)

qpiTerasa udara masih segar. Masih pula terdengar kicauan burung-burung liar di pepohonan yang tumbuh berjalan di pinggir jalan, yang di siang hari dapat menjadi pelindung dari teriknya panas matahari. Tetapi di pagi hari, mereka justru merasa hangat berjalan di bawah sinarnya yang mulai menggatalkan kulit. Jalan yang mereka lalui memang bukan jalan utama yang ramai, …

Baca lebih lanjut