Category Archives: Buku 361 – 370

Buku 361 (Seri IV Jilid 61)

— Tetapi kita sudah berada disini. Mereka tentu akan mencurigai kita — bisik Glagah Putih. Orang yang memikul beberapa bumbung legen itu berdiri termangu-mangu. Sementara Glagah Putihpun kemudian berkata — Ki Sanak. Kami adalah dua orang suami istri yang sedang mengembara. Jika hari ini kami sampai di padukuhan Ki Sanak, maka kami berniat memperkenalkan diri …

Baca lebih lanjut

Buku 362 (Seri IV Jilid 62)

Glagah Putih dan Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Sebelum mereka menjawab Ki Umbul Telu itupun berkata pula, “Kami masih ingin juga mendapat petunjuk angger berdua.” Glagah Putih menarik nafas panjang. Katanya, “Bagaimana mungkin kami memberrikan petunjuk kepada Ki Umbul Telu. Yang mungkin dapat kami sampaikan adalah sekedar gagasan-gagasan yang mungkin banyak berarti.” “Gagasan-gagasan itulah yang sebenarnya ingin …

Baca lebih lanjut

Buku 363 (Seri IV Jilid 63)

Glagah Putihpun mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku ingin bertemu dengan Ki Demang.” Anak itu tidak bertanya lebih banyak lagi. Ia pun segera meninggalkan tempat itu. Katanya, “Maaf, Kang. Kawan-kawanku tentu sudah menunggu di bendungan.” “Kau akan memancing ikan?” “Ya,” jawab anak itu sambil berlari-lari. “Mudah-mudahan Ki Demang tanggap, Rara,” desis Glagah Putih.

Baca lebih lanjut

Buku 364 (Seri IV Jilid 64)

Glagah Putih yang telah bergeser menjauh itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku akan menjalani laku untuk menjadi kebal seperti kakang Agung Sedayu.” Ketika Rara Wulan mendekat, Glagah Putih masih juga bergeser menjauh. Tetapi Rara Wulan pun kemudian berkata, “aku tidak apa-apa. Aku tidak akan menyakitimu lagi.” Glagah Putih nampak ragu-ragu. Tetapi Rara Wulan memang tidak mencubitnya …

Baca lebih lanjut

Buku 365 (Seri IV Jilid 65)

Namun Glagah Putih bertahan untuk tidak segera tidur. Ia menunggu orang-orang yang berbeda di banjar itu kembali ke penginapan. Mungkin orang yang berada di bilik sebelah akan berbicara serba sedikit tentang kelompok mereka yang sedang berada di Seca itu. Glagah Putih memang harus bersabar. Sementara itu, suara gamelan masih saja terdengar di pringgitan melantunkan lagu-lagu …

Baca lebih lanjut

Buku 366 (Seri IV Jilid 66)

Ki Murdakapun akhirnya sampai pada satu pilihan yang menentukan. Dengan geram iapun bergumam — Aku tidak peduli jika tubuh perempuan itu akan menjadi lumat. — Dengan tangkasnya Ki Murdakapun segera berloncatan surut untuk mengambil jarak. Tiba-tiba saja dilepaskannya pedang pusakanya itu. Rara Wulan terkejut. Ia segera menyadari, apa yang akan dilakukan oleh lawannya. Karena itu …

Baca lebih lanjut

Buku 367 (Seri IV Jilid 67)

Orang yang terbaring itu masih berusaha untuk bangkit. Tetapi ia sudah tidak berdaya lagi untuk melawan. Sementara kawannya masih saja berdiri diam di kubangan berlumpur itu. Sementara itu. dua orang yang bertempur melawan Glagah Putihpun sudah kehilangan kesempatan mereka. Senjata mereka telah terlepas dari tangan. Sedangkan tulang-tulang mereka rasa-rasanya telah berpatahan.

Baca lebih lanjut

Buku 368 (Seri IV Jilid 68)

Setelah beberapa saat tidak ada gerakan apa-apa di antara para prajurit Mataram, maka Raden Panengahpun telah memerintahkan orang-orangnya untuk beristirahat kembali. Namun mereka diperintahkan untuk tetap berada di tempat mereka masing-masing. Mereka tidak perlu berkumpul lagi di gubug-gubug yang telah mereka bangun di ujung hutan itu. Tetapi justru karena itu, maka sebagian dari mereka tidak …

Baca lebih lanjut

Buku 369 (Seri IV Jilid 69)

Ki Lurah Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Apakah Nyi Demang akan memaksa kami menunggu kedatangan mereka?” “Ya. Kami akan memaksa Ki Lurah menunggu mereka datang.” “Jika sebelum mereka datang kami sudah pergi.” “Tidak. Tidak. Kalian tidak boleh pergi sekarang.”

Baca lebih lanjut

Buku 370 (Seri IV Jilid 70)

Namun prajurit yang telah tersinggung itu pun menggeram. “Tetapi sebaliknya jika kau gagal, maka kau akan terkubur di sini. Kau tidak akan pernah sampai ke Mataram.” Dahi perampok yang bertubuh tinggi itu berkerut. Tetapi ia sudah bertekad untuk mengadu nasib melawan prajurit itu. Ia merasa sebagai seorang perampok, ia sudah banyak berpengalaman dalam dunia olah …

Baca lebih lanjut