Category Archives: Buku 381 – 390

Buku 381 (Seri IV Jilid 81)

Karena itu, maka Kangjeng Pangeran Puger itupun kemudian berkata — Ki Tumenggung Derpayuda. Ki Tumenggung adalah utusan bersama dengan beberapa orang narapraja yang lain. Aku hargai kedudukan Ki Tumenggung. Namun sebagai utusan sebaiknya Ki Tumenggung tidak mengambil sikap yang mati. Sampaikan saja kepada Adimas Panembahan, jawabku. Aku akan datang kemudian. Terserah kepada Adimas Panembahan Hanyakrawati, …

Baca lebih lanjut

Buku 382 (Seri IV Jilid 82)

Ki Patih Mandaraka tertawa. Ki Patihpun kemudian berkata kepada Kangjeng Pangeran Puger — wayah. Bagaimana sikap yang akan wayah ambil ? Aku tahu, bahwa disekitar wayah sekarang terdapat orang-orang pintar seperti Ki Tumenggung Gending, Ki Panjer, serta beberapa orang Narpacundaka serta para pemimpin yang lain, yang mempunyai sikap dan pandangan yang berbeda dengan tatanan dan …

Baca lebih lanjut

Buku 383 (Seri IV Jilid 83)

Pertempuran antara keduanya menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah meningkatkan ilmu mereka. Semakin lama menjadi semakin tinggi. Pedang mereka berputar, menebas dan mematuk berganti-ganti. Bunga-bunga apipun menjadi semakin banyak terhambur dari benturan kedua senjata di tangan kedua orang Senapati yang berilmu tinggi itu. Disisi lain dari benturan kedua pasukan induk itu telah mempertemukan beberapa …

Baca lebih lanjut

Buku 384 (Seri IV Jilid 84)

Ketika kemudian terdengar isyarat yang kedua, maka setiap prajuritpun telah bersiap untuk bergerak maju dalam gelarnya masing-masing. Beberapa saat kemudian, terdengar isyarat ke tiga mengumandang disel ruh medan. Kedua pasukanpun mulai bergerak. Namun yang agak berbeda adalah pasukan Demak. Demikian mereka mulai bergerak, maka terdengar sorak yang bagaikan mengguncang bukit-bukit. — Ada apa dengan pasukan …

Baca lebih lanjut

Buku 385 (Seri IV Jilid 85)

Pertempuranpun menjadi semakin sengit. Tongkat baja putih yang berada di tangan orang itu ternyata tidak mampu menembus pertahanan ikat pinggang Glagah Putih. Namun semakin lama mereka bertempur dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka, maka pertahanan merekapun mulai merenggang. Sekali-sekali tongkat baja putih Ki Wiradipa serta ikat pinggang Glagah Putih mampu menembus pertahanan mereka masing-masing. …

Baca lebih lanjut