Category Archives: Buku 391 – 396

Buku 391 (Seri IV Jilid 91)

Ternyata Prastawa yang masih terhitung muda itu tidak sabar lagi. Ia pun telah menarik pedangnya sambil berkata, “Jika ada di antara kalian yang terbunuh, itu bukan salahku.” “Persetan dengan kalian,” geram pemimpin pengawal itu. Yang dilihatnya hanya seorang saja di antara empat orang yang datang dari Tanah Perdikan itu yang bersenjata. Namun ketika para pengawal …

Baca lebih lanjut

Buku 392 (Seri IV Jilid 92)

Glagah Putih dan Rara Wulan itu kemudian memasuki pintu gerbang padepokan yang terbuka. Sementara seorang di antara kedua cantrik itu beranjak sambil berkata, “Aku akan memberitahukan kepada Ki Widura.” Seorang lagi telah mempersilahkan Glagah Putih dan Rara Wulan naik ke pendapa bangunan utama padepokan itu. Sejenak kemudian pintu pringgitan bangunan utama padepokan itu pun terbuka. …

Baca lebih lanjut

Buku 393 (Seri IV Jilid 93)

Dengan wajah yang tidak nampak ceria, pelayan itu pun bertanya dengan kalimat-kalimat pendek, “Kalian mau pesan apa?” Glagah Putihlah yang menjawab, “Wedang sere satu mangkuk dan nasi tumpang dua mangkuk, Ki Sanak.” “Apa lagi?” “Sudah.” “Hanya itu? Kenapa wedang serenya hanya satu?” “Cukup untuk dua orang, Ki Sanak.” “Kalian telah tersesat memasuki kedai ini. Seharusnya …

Baca lebih lanjut

Buku 394 (Seri IV Jilid 94)

“Jangan. Lalu dari mana kami mendapatkan dana bagi kepentingan kademangan dan padukuhan kami?” “Itu adalah urusan kalian. Jika kalian tidak ingin terjadi, maka kalian harus menepati kewajiban kalian tentang pajak yang harus kalian bayar.” “Ki Lurah,” berkata Ki Demang, “kami tidak dapat memutuskan sekarang. Kami akan berbicara dahulu dengan para bebahu kademangan dan padukuhan ini.” …

Baca lebih lanjut

Buku 395 (Seri IV Jilid 95)

Tetapi mereka pun terdiam. Beberapa langkah di belakang mereka, ketiga orang itu pun melihat tiga orang lagi yang berjalan searah dengan ketiga orang sebelumnya. “Yang itu juga,” desis Rara Wulan. Glagah Putih mengangguk. Katanya, “Ya. Lima orang, dan bahkan ditambah dengan seorang lagi. Tentu orang itu seorang yang dipercaya untuk dapat mengalahkan kedua orang yang …

Baca lebih lanjut

Buku 396 (Seri IV Jilid 96)

Sebenarnyalah bahwa berita tentang adon-adon itu bukan sekadar berita burung. Di hari berikutnya telah tersiar pengumuman dari Istana Kadipaten Panaraga, bahwa Pangeran Jayaraga, penguasa baru di Panaraga, akan memanggil seorang Senapati yang mumpuni untuk melengkapi kedudukan Senapati di Panaraga. Orang-orang yang berilmu tinggi dipanggil untuk mengikuti perebutan kedudukan itu dengan melewati pertarungan. Siapa yang memenangkan …

Baca lebih lanjut