Komentar

Silakan memberi komentar, pertanyaan, masukan, kritik dan sebagainya.

Iklan

110 Komentar

  1. suka sekali dengan cerita ini..udah 2 kali tamat, hehe

  2. bam antariksa

    bisa nostalgia lagi…
    dulu baca waktu SD kelas 4an… (baca setelah bapak selesai baca)
    novel ori entah pada kemana karena rumah dulu sering kena banjir

    many thanks untuk admin
    sangat bermanfaat

  3. Mathe

    Terima kasih sudah upload cerita mahakarya ini di internet. Saya banyak belajar tentang hidup dari cerita ini. Maturnuwun sanget.

  4. SUBIHANDONO SUBIHANDONO

    Literasi yang bermanfaat untuk membangun karakter bangsa

  5. ang

    Sayang sekali,cerita yg sdah terjalin dengan baik tidak memiliki akhir di sebabkan meninggalnya kyai SH mintardja.apapun itu terima kasih kepada para kisanak yang sudah memperkenalkan kepada saya sebuah cerita adiluhung karya novelis indonesia di tengah maraknya karya fiksi dari ranah sebrang.sekali lagi terima kasih kepada para kisanak sekalian..saluut

  6. riswanto

    hal kedua yakni pertemuan tiba-tiba ki grinsing dan ki jaya raga yang pulang bersama dari pajang usai berakhir pertempuran, peran ki jayaraga tidak terlihat sementara tiba tiba hadir dan pulang bersama ki jayaraga,,,,,saya tidak menemukan peran awal atas kehadiran ki jaya raga dalam penyerbuan tersebut,,,,,apakah saya ada yang terlewat,
    terima kasih

  7. riswanto

    assalamu alaikum wr, wb, saya tidak menemukan pengembalian tombak dicuri oleh ki argajaya dari ki argapati, apakah dicerita tersebut tidak disampaikan,
    terima kasih

  8. Gus Arya

    Terima kasih untuk TIM yang sudah menulis ulang cerita ADBM dari jilid 1 sd terakhir.
    Sangat2 suka cerita karangan beliau dengan cara bertutur yang mendetail ttg suatu hal.

    Semangat untuk admin dan TIM

  9. Didhien Suryakusumah

    Terimakasih untuk tim penulis blog ini, karena telah melestarikan maha karya peninggalan almarhum bapak S.H. Mintardja ini.

    Saya pun kebetulan mendapat “warisan” dari almarhum kakek saya yaitu buku Api Di Bukit Menoreh dari Jilid 1 (masih dgn ejaan lama) sampai 4. Meski tidak lengkap. Namun saya sangat bersyukur karena bisa memiliki buku2 bersejarah tersebut.

    Tetap semangat kisanak sekalian. Sekali lagi saya haturkan rasa terimakasih & penghormatan setinggi2nya atas usaha kisanak sekalian menulis ulang dan melestarikan cerita ini ke dalam blog.

    • @Didhien Suryakusumah – terima kasih atas komentarnya, semoga semakin banyak pembaca yang menggemari cerita ini πŸ™‚

  10. @Usamah Zahid – terima kasih, biar makin nyaman menikmati jalannya cerita ini πŸ™‚

    @Rosihan Roro – usul yang bagus, dan meskipun agak sulit, akan coba dibuatkan nanti πŸ™‚

    @Wahyu – jilid 393 baru saja tayang. seluruh jilid adalah karya dari penulis aslinya πŸ™‚

    @Syamsu Alhadi – materi yang tayang disini semuanya bersumber dari situs induk, yang ditulis ulang (retype) oleh para sukarelawan dari hasil scan buku aslinya. setahu saya, dalam proses retype tersebut, tidak ada perubahan dari tulisan asli di bukunya. terima kasih πŸ™‚

  11. Syamsu Alhadi

    Mau tanya, Api di Bukit Menoreh jilid yg awal ada perubahan dari aslinya, nggak, ya?
    Saya baca yg jilid-jilid awal, sepertinya agak berbeda dg yg pernah saya baca dulu. Apa betul?
    Mohon maaf, saya baca jilid-jilid terakhir, banyak kata “namun demikian,” yg seharusnya “meskipun demikian.”
    Terima kasih dan salut atas ditayangkannya “Api di Bukit Menoreh.”

  12. Wahyu

    Belum ada update lagi ?
    Terakhir di jilid 392 …

    Ditunggu update nya …
    Cerita sambungannya nyaris tidak berbeda gaya bahasa dan alurnya…. saluuut

  13. rosihan roro

    Min,,… bisa dibantu dibuatkan ilustrasi peta wilayah2 “tkp”nya seperti letak mataram, menoreh, sangkal putung , jati anom dll, sehingga bisa menambah bayangan kejadiannya…

  14. usamah zahid

    wah keren nih, tampilannya sekarang makin mantap, semakin enak nih bacanya πŸ™‚

  15. @Ramto Ragle Mbah Darmo – sami-sami πŸ™‚

    @Ang – sami-sami. Wah, Ki Sanak jeli sekali πŸ™‚

  16. ang

    Maaf gan,,koq sya merasa klo mulai buku 380 gaya bahasa nya sedikit berbeda.terlalu byk menggunakan kata seperti namun,demikian,tetapi,justru..
    Sedikit berbeda dr buku2 terdahulu
    matur nuwun

    • rosihan roro

      Mungkin yg menulis serii 380 keatas sdh bukan sang maestro(setelah wafat)…

      • Didhien Suryakusumah

        Persis yg saya rasakan. Gaya bahasa dan alur ceritanya sdh jauh berbeda. Bahkan inti ceritapun terasa sama dan diulang2 dgn ending yg terasa terburu2 selesai.

  17. Ramto Ragle mbah Darmo

    Wahhh joss sebuah mahakarya SH Mintardja yg dulu semasa di Jogja selalu saya ikuti tentang Agung Sedayu, Kyai Gringsing, Swandanru, Pandan Wangi..

    Matur nuwun sekali

  18. Anima Nutritiaa

    Gan, saya mau koleksi dalam bentuk pdf, bagaimana caranya

    • Kami memang tidak menyediakan dalam bentuk PDF di sini. Semua materi kami ambil dari posting & komentar di situs induk, yang linknya kami cantumkan di bagian blogroll. Sepertinya di situs induk ada fasilitas untuk download edisi PDF setiap jilid.

  19. @Ag – siip…

    @pelita – wah, sayang sekali koleksinya hilang ya

    @Suhanda – semoga cukup terhibur mengikuti sampai jilid terakhir nanti

    @yarda feto – saya pribadi sangat berharap itu bisa terwujud, tapi memang secara bisnis mungkin beda lagi pertimbangannya

    @Marsadi – setahu saya dari pihak keluarga SHM tidak menghalangi, dan ada beberapa penggemar yang sudah menulis lanjutan cerita versi masing-masing, tapi kalau dilanjutkan secara resmi, memang harus seijin pemegang hak cipta

    @Ndra – kalau untuk format PDF bisa dicari situs induk, linknya ada bagian blogroll

    • yarda feto

      Seharusnya sih secara komersial tidak perlu khawatir.. penggemar ADBM sangat banyak.. sebagai indikator yg mudah dilihat, misalnya pengunjun situs ini. (yg sudah lebih dr 5 juta pengunjung kl tdk salah ingat).. dgn asumsi minimalis, misalnya 10 % pengunjung akan membeli buku ADBM, maka akan terjual +- 500.000 buku.. (dgn asumsi buku tebal spt bukunya eiji yoshikawa, Musashi, yg harganya diatas Rp. 100 ribu, maka akan didapat omset > 5 M

      • yarda feto

        Maaf revisi, > Rp. 50 Milyard (bukan 5 M seperti diatas)

      • Yang ditunjukkan statistik (jumlah hit) sebenarnya bukan jumlah kunjungan dari orang individu, tapi berapa kali website ini ditayangkan. Begitu pula dengan jumlah kunjungan, tidak mewakili jumlah orang individu yang pernah mampir di sini.

        Di luar itu semua, saya setuju dan berharap suatu saat serial ini akan diterbitkan kembali dalam edisi koleksi (atau sejenisnya), sehingga ada kesempatan bagi para pecintanya untuk memiliki edisi lengkap Api di Bukit Menoreh.

  20. Ndra

    Pak/Bu Admin ..apakah ada versi dengan format PDF yang bisa didownload ? matur nuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: