Komentar

Silakan memberi komentar, pertanyaan, masukan, kritik dan sebagainya.

163 Komentar

  1. Akhirnya saya baca rampung jilid terakhir yang tamat terpaksa karena Pak Mintardja berpulang.
    Terima kasih untuk admin.
    Semoga episode Namaskara akan ketemu dan diunggah. Saya kehilangan jejak tentang Namaskara. 🙂

  2. tommy sarwo

    Pertama kali membaca sejak SD di rumah kakek di Wonosalam, Jombang Jatim di akhir 80an. Cerita sangat menarik meski banyak dialog. Dialog yg dalam dg kosakata yg berbobot dan sanepan sesuai ciri khas Jawa. Dialog yg mengutamakan simbol2 dulu utk membuat lawan bicara mengerti tanpa menyebutkan maksud inti perkataan. Tapi di situlah saya suka nya. Banyak pelajaran berharga. Sehat terus semangat terus buat admin…Terimakasih banyak min….

    • Terima kasih juga, Ki Sanak. Semoga kita bisa mengambil nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan, dari cerita ini.

  3. Rini

    Pertama tertarik dg cerita adbm, karena kebetulan suami dari pegunungan menoreh kulonprogo, dan bercerita ada buku cerita adbm yg legendaris, karena saya orang seberang pulau, sangat tertarik cerita tersebut, omnya suami punya berjilid2 buku adbm namun drongsokin 😦 saya g bisa baca.
    Beberapa tahun kemudian kami pindah dari Jakarta k Sedayu Bantul Jogyakarta, saya kembali teringat akan cerita tersebut dan wow ternyata ada nama tokoh Agung sedayu, mulailah saya mencari2 akan cerita tersebut di online.Alhamdulilah saya dapat situs ini.
    Tetapi kami pindah lagi ke sentolo kulonprogo, namun sedihnya akses internet susah2 gampang.
    setelah 2 tahun kami pindah lagi, kali ini pindah ke pegunungan menoreh yg indah, dingin, sering banget berkabut dan kalau cerah puncak merapi terlihat jelas.
    Terimakasih admin adbm untuk cerita yg sangat2 menarik ini.
    tetap eksis selalu ya.

    • Wow.. tinggal di pegunungan Menoreh, membaca cerita ini sambil membayangkan suasana berabad-abad lalu, pasti menyenangkan sekali

  4. Gus Her

    Salam jumpa buat para penggemar AdBM.
    Pertama kali membaca AdBM saat bermain kerumah Pakde yg seorang PNS Kesehatan di Kodam V Brawijaya sekitar tahun 1988 ….. Dimana beliau berlangganan AdBM sehingga seri I-II koleksinya sangat lengkap ….. memasuki sei III beliau sudah berlangganan sehingga sy mencarinya di Persewaan Jl Gajayana Kota Malang sekitar tahun 1991 (awal masa kuliah – kebetulan dekat kampus Unibraw), setelah sekian lama menyewa dg perhitungan berhemat (kantong cekak mahasiswa) sampailah akhir seri III sudah hampir habis dan di persewaan tsb sdh tidak terbit lagi ….. akhirnya sekitar tahun 1996 kembali ke Pakde utk rutin berlangganan bulanan buku AdBM dan terhenti di pertengahan seri IV ….. hingga sekian tahun berlalu hampir 23 tahun lamanya di 2019 ktemu website ini. Rasanya kerinduan terpenuhi dengan membaca ulang mulai buku ke-1 hingga terakhir ….. Semoga bacaan ini membawa nilai kebaikan bagi kita semua sehingga menjadi ladang amal kebaikan bagi Sang Maestro Penulis.
    Mari kita doakan semoga Almarhum SH Mintardja diterima amal kebaikannya dan diampuni dosa2nya, sehingga nantinya kita semua dikumpulkan dalam surga-Nya. Aamiin.

    • Terima kasih Mas sudah berbagi pengalaman. Saya jadi ingin tahu, pada waktu itu penerbit Kedaulatan Rakyat menerbitkan buku AdBM setiap bulan oplah-nya berapa eksemplar ya? Karena sepertinya pada waktu itu susah-susah gampang untuk mendapatkan bukunya. Saya kurang tahu apakah kalau di daerah sekitar Yogyakarta (dekat dengan lokasi penerbit) ketersediaan bukunya lebih banyak, sedangkan di daerah lain lebih sedikit pasokan bukunya. Sedangkan orang-orang yang dulu memiliki sebagian edisi dan tidak lengkap (apalagi kalau cuma beberapa), mungkin tidak menganggap bukunya sangat berharga, sehingga tercecer, rusak, hilang dsb. Akibatnya, saat ini sangat jarang sekali ada yang memiliki koleksi lengkap, apalagi yang masih terawat. Nilai jualnya pasti cukup tinggi.

  5. andreas

    pertama kali saya baca buku ini waktu sy masih SMP (thn 90-an). itupun tdk berurutan. maklum, dikampung susah mencari buku ataupun taman bacaan. dengan adanya situs ini, sy sangat berterimakasih sekali, dan mencoba mulai membaca dari awal.
    oh ya, sy tdk sengaja menemukan situs ini. berawal iseng2 aja searching di google.

    • Sama mas, saya dulu juga hanya bisa baca sepotong-sepotong, sering jilid-jilid yang klimaks malah tidak baca. Beli tidak sanggup, pinjam juga tidak ada yang punya koleksi lengkap.

  6. Setiono

    Saat ini membaca AdBM seakan kilas balik pada masa kerajaan Islam di Nusantara baik suasana Alam, Masyarakat, Kondisi perpolitikan dan masyarakat serta Pemerintahan waktu itu. Berharap jika ada yang melanjutkan suasana tersebut masih bisa tergambar.

    • Setuju, itu salah satu ciri khas tulisan SH Mintardja yang membuat banyak penggemarnya tidak bosan-bosannya membaca karya-karya beliau

  7. Anung Handono

    Assalamu alaikum
    Trimakasih Sudah Ada Yang mau meng abadikan karya/tulisan budayya luhur bangsa ini.dulu saya harus menunggu _Satu Bulan_
    Untuk bisa ketemu Agung Sedayu @Sekar Mirah CS……sekarang dengan sekedepan Mata langsung bisa …… alhamdulillah
    Sekaliyan lagi matur nuwun.ww.

    • Betul mas, berkat para relawan yang mempelopori 10 tahun lalu, mulai scan, upload sampai ketik ulang buku yang ratusan jilid itu, akhirnya karya-karya SH Mintardja dapat dinikmati lewat internet, bahkan oleh generasi-generasi mendatang

  8. Anung Handono

    Assalamu alaikum
    Trimakasih Sudah Ada Yang mau meng abadikan karya/tulisan budayya luhur bangsa ini.dulu saya harus menunggu _Satu Bulan_
    Untuk bisa ketemu Agung Sedayu @Sekar Mirah CS……sekarang dengan sekedepan Mata langsung bisa …… alhamdulillah
    Sekaliyan lagi matur nuwun.ww.

  9. Saya bersyukur, akhirnya bisa baca kisah api di bukit menoreh…yang dulu cuma bisa lihat covernya saja…

    • Selamat menikmati ceritanya ya

  10. Tanu kentir

    Ada beberapa jilid yg terulang, sekitar jilid 310 ke atas dan di ulang lagi pada jilid lainnya sampai beberapa halaman, tolong admin hapuskan beberapa halaman yg terulang

    • Terima kasih masukannya. Saat ini memang sedang dilakukan review dan perbaikan penulisan mulai dari jilid pertama, dan sudah mencapai 60%. Perbaikan ini terutama untuk mengedit kesalahan seperti contohnya pengulangan (akibat copy-paste), dan sebagainya. Mudah-mudahan sebelum tahun baru 2019, seluruh jilid sudah bersih dari kesalahan-kesalahan seperti itu.

      • Koesmartono SN

        wah ditunggu nih revisinya jadi pengin baca ulang

      • Siap, laksanakan

  11. truna podang

    sejak kelas 4 SD saya baca buku ini, setelah habis selesai dibaca kakang dan mbokayu… (mereka kelas 3 SMA dan 1 SMA tahun 1971)….sebelumnya mereka rebutan baca… setelah selesai mereka diskusi ..jarak saya dengan mereka selisih 6 tahun..saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. suatu hari buku ADBM tergeletak di bawah meja..
    saya ambil dan saya baca dengan perlahan…dibawah kolong meja… ternyata sangat menarik..seorang bocah saat itu… dia pengin seperti Agung Sedayu, rendah hati, tapi berilmu sangat tinggi…
    setiap bulan kami selalu menantikan terbitan buku ADBM…sangat penginnnya baca saat itu kami langganan di persewaan buku… termasuk juga karya Kho Ping Hoo..
    sungguh beda dengan anak sekarang… fasilitasnya gadget !!!

    • Saya juga pertama kali membacanya sewaktu masih SD pertengahan tahun 80-an, kakak saya yang pinjam ke tetangga. Waktu itu siaran TV saja cuma ada satu, yaitu TVRI. Jaman ketika setiap hari setia menunggu jam diputarnya sandiwara radio Saur Sepuh, Misteri dari Gunung Merapi dll, hehe….

  12. Muhammad Nurrahman Rifai

    Alhamdulillah, akhirnya aku temukan juga cerita kesayanganku. Api di Bukit Menoreh. 3 buah lemari kecil aku buat untuk menyimpan koleksi buku AdBM mulai dari seri I Jilid 1 sampai seri IV Jilid 49. Seluruh keluarga sangat suka dengan cerita ini. Koleksi yang lain adalah seri Suramnya Bayang-bayang, Istana yang Suram dan Mata Air di Bayangan Bukit. Namun yang paling lengkap adalah AdBM.

    • Wah beruntung sekali Mas & keluarga masih punya koleksinya lengkap, sudah langka sekarang yang punya koleksi lengkap sejak jilid pertama,

  13. Ipunk

    Saya sudah 2x khatam baca adbm, dulu ibu saya punya banyak koleksinya, ssyang tidak dirawat dgn baik hingga bukunya rusak dimakan kutu..

    • Sayang sekali, tapi memang dengan masa terbit yang sampai puluhan tahun, menjadi mudah rusak, apalagi dengan jenis kertas yang digunakan untuk mencetak bukunya

  14. Terima kasih atas kesediaanya mengunggah cerita klasik ini. Mohon izin untuk menyebutkan situs ini di blog saya. Terima kasih!

    • Terima kasih. Silakan, semoga bisa menghibur dan bermanfaat

  15. Salam kenal. Sebelumnya saya mohon maaf karena tanpa ijin dari pihak keluarga Bapak SH Mintardja dan penerbit telah mencoba meneruskan lanjutan kisah Api di Bukit Menoreh.

    Mohon maaf sebesar-besarnya dan terima kasih.
    Salam
    www tansaheling com

    • Memang beberapa penggemar berinisiatif menulis lanjutan cerita versi masing-2. Semoga upaya Ki Sanak bisa menghibur para penggemar lain

      • guguntoro 1982

        Assalamualaikum kisanak
        Salam knal smuanya fans Adbm 🙂
        Trims buat admin

      • Salam kenal juga, Ki Sanak. Silakan menikmati jalinan ceritanya.

  16. Neneng natalina

    Terimakasih banyak sudah.memuat serial AdBM…bapak semasih hidup selalu beli edisinya…dan saya dari kecil ikut baca…sekarang ini jadi kenangan manis…dan saya sedang baca dari awal…seandainya ada ediai cetaknya lagi, saya berniat beli….terutama jika covernya tetap seperti aslinya dulu.
    Salam.

    • Terima kasih, semoga bisa menghibur dan bernostalgia ke masa kecil

  17. Salam kenal. Sebelumnya saya mohon maaf karena tanpa ijin dari pihak keluarga Bapak SH Mintardja dan penerbit telah mencoba meneruskan lanjutan kisah Api di Bukit Menoreh.

    uraian https://tansaheling.com/2017/10/16/tentang-kelanjutan-api-di-bukit-menoreh/

    dan sejenak kemudian saya coba hadirkan https://tansaheling.com/2017/10/16/lanjutan-api-di-bukit-menoreh-397-1/

    Mohon maaf sebesar-besarnya dan terima kasih.
    Salam

    • Semoga upaya Ki Sanak bisa menghibur para penggemar lain

  18. Novita Sekardianto

    Yth Prima
    Glagah Putih sudah menikah dg Rara Wulan lalu terakhir mereka mendapat tugas dari ki patih Mandaraka sbg prajurit sandi dari Matram. Pernikahqnnya sedehana sekali jd mungkinnanda terlewat membacanya.

    Saya berharap ada mujizat buat Agung Sedayu dan Sekar Mirah mendapatkan karunia anak di usianyg tdk muda lagi. Perhitungan saya mereka msh usia kepala 4. Saya bersedia jd anggota darimtim pengarang yg barunutk melanjutkan karya ini krn byk sekalimkandungan nilai 2 baik kehidupan di dalam buku ini

    Salam hormat

    • Banyak penggemar yang mengharapkan mujizat tersebut bagi Agung Sedayu & Sekar Mirah. Seandainya penulis masih hidup hingga jaman now, pasti terus “direcoki” oleh penggemar yang ingin ceritanya begini, begitu, dll, dsb, hehe…

  19. saya bernostalgia lagi baca serial ini baru sampe serial I ep. 5 sih. dahulu waktu muda saya gandrung banget dgn buku ini…..trima kasih sudah muncul di dunia maya…

    • Terima kasih Ki Sanak, semoga bisa menghibur dan bermanfaat

  20. prima

    Dulu kalau terbit selalu rebutan dengan almarhum ayah (sambil mengenang ayah) saran : apa gak bisa dilanjutkan ya oleh putra/i sh mintarja biar gak gantung ceritanya mungkin tamat sampai di pernikahan glagah putih dan roro

    • Setahu saya belum ada rencana dari pihak keluarga terkait kelanjutan cerita. Ada beberapa penggemar berinisiatif menulis lanjutan versi masing-2

Tinggalkan Balasan ke Ipunk Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: