Buku 011 (Seri I Jilid 11)

 

Tenaga Agung Sedayu, Swandaru, Hudaya, Sonya dan Patra Cilik yang terlepas dari ikatan kelompok itu benar-benar menguntungkan. Dengan lincahnya mereka segera menempatkan diri mereka masing-masing. Meskipun kelompok yang diperintahkannya belum dapat segera mengikutinya, namun mereka telah mulai dengan tekanan mereka pada sisi induk pasukan.

Karena pasukan Jipang bergerak maju, maka terbukalah sisi dari induk pasukan Jipang itu, sehingga kemudian Hudaya dan Sonya beserta kelompoknya akan merupakan sayap-sayap kecil pada induk pasukannya.

Tohpati melihat perubahan di dalam tata pertempuran pasukan Pajang. Ia melihat bagaimana Untara berusaha menyempurnakan gelar Garuda Nglayang itu menjadi gelar yang lebih berbahaya bagi gelar Dirada Meta. Karena itu, maka Tohpati tidak membiarkan Untara mendapat kesempatan untuk mengatur orang-orangnya. Dengan tangkasnya ia meloncat mengejar Untara yang sedanq menarik diri ke dalam laskarnya.

Melihat Tohpati memburunya, Untara menggeram marah. Ternyata senapati Jipang itu benar-benar berbahaya baginya dan bagi pasukannya. Terpaksa ia segera menyambut Macan Kepatihan yang seakan-akan menerkamnya. Tongkat baja putih dengan sebuah tengkorak kecil yang berwarna kuning itu benar-benar mengerikan. Tongkat itu terayun-ayun dengan dahsyatnya. Setiap sambarannya selalu diikuti oleh desingan angin yang keras.

Tetapi yang diserangnya adalah anak muda yang bernama Untara, sehingga dengan tangkasnya anak muda itu mampu melayaninya. Dengan pedang di tangannya, Untara merupakan lawan berat bagi Macan Kepatihan yang garang itu. Pedang Untara benar-benar seperti bermata di ujungnya. Pedang itu bahkan seakan-akan dapat menuntun gerak tangan yang menggenggamnya. Menusuk, menyambar dengan sengitnya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Buku 012 (Seri I Jilid 12)

 

Betapapun kebimbangan bergelora di dalam batinnya, namun akhirnya Sumangkar itu tidak juga dapat membiarkan kekalahan demi kekalahan melanda pasukan murid kakak seperguruannya. Karena itu berkali-kali terdengar ia berdesah, kemudian menggeram. Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Dan orang tua itu menjadi semakin kuat menggenggam senjatanya.

Ketika ia mendengar orang-orang Pajang bersorak, seakan-akan dirinyalah yang disorakinya. Seorang tua yang tidak berarti dan tidak tahu diri.

Di dalam arena pertempuran itu sendiri, Sanakeling terpaksa melihat kenyataan, bahwa adik Untara yang bernama Agung Sedayu itu benar-benar seorang anak muda yang tangguh. Anak muda yang lincah dan cekatan. Geraknya kadang-kadang terasa aneh dan membingungkan. Sebenarnya Agung Sedayu mempunyai cara yang khusus dalam olah pertempuran. la tidak saja mempergunakan unsur-unsur yang dipelajarinja dari gurunya, dari ayahnya, dari kakaknya, dan dari pengalamannya yang sedikit itu, tetapi Agung Sedayu telah berhasil membuat cara-cara dan unsur-unsur tersendiri, karena ketekunannya membuat gambar-gambar di atas rontal.

Sehingga Sanakeling yang dengan tatag berani melawan Widura kini terpaksa bertempur dengan memeras segenap ilmu yang dimilikinya.

Di induk pasukan Tohpati pun mengalami banyak kesulitan. Apalagi setelah Untara dapat melepaskan segenap perhatiannya atas sayap kanannya yang agak mengalami kesulitan. Kini sayap itu telah menjadi mantap kembali. Karena itu ia tinggal memusatkan perhatiannya kepada Tohpati dan induk pasukannya. Namun Sonya, di sisi kiri dan Swandaru di sisi kanan, ternyata banyak membantunya, memperingan tekanan-tekanan yang Iangsung ke pusat pasukannya.

Baca lebih lanjut

Buku 013 (Seri I Jilid 13)

 

Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa lemah. Suara itu melontar dari balik sebatang pohon yang besar. Hampir bersamaan muncullah sebuah bayangan hitam, berjalan beberapa langkah mendekati mereka.

“Hem, kalian telah terbenam dalam kepentingan kalian masing-masing sehingga kalian tidak sempat memperhatikan saat-saat yang paling berbahaya dalam hidup seseorang.”

Agung Sedayu tersentak. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar ia berdesis, “Kiai Gringsing.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. la berjalan terus ke arah orang yang terbaring itu. Dengan cekatan ia memijit-mijit beberapa bagian dari sisi luka itu, kemudian mengambil sebungkus ramu-ramuan obat-obatan dari dalam bajunya.
Terdengar orang itu berdesis, kemudian mengerang semakin keras.

“Memang agak pedih,” berkata Kiai Gringsing, “mudah-mudahan akan dapat menolongmu” berkata Kiai Gringsing sambil mengusap luka itu dengan ramuan obatnya.

Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata, “Bawalah orang ini ke tepi hutan. Carilah air untuknya, dan bawalah ke banjar desa bersama orang-orang lain yang terluka.”

“Kiai,” potong Sumangkar, “apakah artinya ini?”

Kiai Gringsing berpaling. Dipandanginya wajah Sumangkar dalam kesamaran gelap malam.

“Biarlah aku mencoba menolong jiwanya. Aku adalah seorang dukun. Aku tidak dapat melihat seseorang yang berjuang melawan maut tanpa berbuat apa-apa. Sedang kalian masih saja bertengkar tanpa ujung pangkal. Sehingga aku tidak tahan lagi bersembunyi sambil mendengar keluhan ini.”

Baca lebih lanjut

Buku 014 (Seri I Jilid 14)

 

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar pertanyaan itu. Baru kini disadari bahwa ia telah melanggar perintah kakaknya. Tetapi menurut pendapatnya, pertanggungan jawab atas peristiwa itu ada pada gurunya. Karena itu maka jawabnya, “Aku telah mencoba melakukan perintah itu Kakang. Tetapi guruku, Kiai Gringsing menyuruh aku kembali membawa orang ini. Kiai Gringsing sendirilah yang akan mengambil alih tugas yang harus aku lakukan itu.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tersenyum di dalam hati. Perhitungannya ternyata tepat seperti yang dikehendaki. Kiai Gringsing tidak akan melepaskan Agung Sedayu sendiri melakukan tugas yang sangat berbahaya itu. Namun meskipun demikian kini terasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Seandainya. Ya seandainya Kiai Gringsing membiarkan Agung Sedayu itu berjalan menyusur hutan yang belum dikenalnya pada waktu itu? Alangkah berbahayanya. Kalau adiknya waktu itu mengalami bencana, maka ialah yang telah membunuh adiknya itu.

Tetapi adiknya kini telah kembali dengan selamat. Bahkan membawa seorang Jipang yang terluka. Agaknya Tuhan benar-benar telah melindungi anak itu.

Meskipun demikian wajahnya sama sekali tidak mengesankan kegembiraan hatinya itu. Dengan kerut-kerut pada keningnya, Untara berkata, “Apakah kau yakin bahwa Kiai Gringsing dapat melakukan tugas itu?”

Pertanyaan inipun mengherankannya. Untara telah lebih lama bergaul dengan Kiai Gringsing daripada dirinya. Menurut pendapatnya, Untara pasti lebih banyak mengenal orang itu, orang yang bernama Ki Tanu Metir, yang telah melindunginya di dukuh Pakuwon.

Baca lebih lanjut

Buku 015 (Seri I Jilid 15)

 

Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka berdua telah terlibat dalam sebuah pekelahian yang semakin sengit. Pedang Sidanti berputar dengan cepatnya sedang senjata khususnya di tangan kiri dipergunakannya sebagai perisai, namun kadang-kadang senjata itulah yang mematuk dengan sangat berbahaya. Sebuah sentuhan dan goresan pada kulit lawan, maka akibatnya akan dapat berarti maut.

Tetapi lawan Sidanti itu dapat mempergunakan senjatanya dengan sangat cekatan pula. Sepasang kakinya ternyata terlampau lincah. Loncatan-loncatan yang panjang telah membingungkan lawannya. Ujung tombaknya yang bernama Kiai Pasir Sewukir ternyata dapat menusuk lawannya dari segala arah. Ujung yang satu itu seolah-olah kini berubah menjadi berpuluh-puluh mata tombak yang mematuk dari segenap penjuru.

Sementara itu pertempuran semakin lama menjadi semakin seru. Orang-orang Jipang yang berjumlah lebih dari dua kali lipat itu terpaksa menahan nafsu mereka untuk segera dapat membinasakan lawan mereka. Para prajurit Pajang ternyata mampu menguasai medan dengan derap kuda mereka. Bahkan kini orang-orang Jipang sama sekali sudah tidak mampu untuk mengepung para prajurit Pajang yang dapat bergerak lebih cepat dari mereka.

Tetapi orang-orang Jipang yang seakan-akan mendapat kesempatan untuk meluapkan dendam mereka itu, bertempur dengan nafsu yang menyala-nyala. Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya adalah penyebab langsung dari kematian Adipati Jipang. Karena itu, maka apabila orang-orang Jipang itu dapat membinasakan keduanya, maka seolah-olah sebagian dari dendam mereka sudah dapat mereka lepaskan. Apalagi jumlah mereka yang jauh lebih banyak dari pada lawan-lawan mereka.

Baca lebih lanjut

Buku 016 (Seri I Jilid 16)

 

Dalam kegelisahannya, Ki Tambak Wedi itu kemudian berjalan mendekati desa Benda. Di sepanjang langkahnya, tak habis-habisnya ia mengumpat-umpat. “Akhirnya aku harus pergi juga ke desa itu. Lebih baik sejak semula aku kerjakan sendiri pekerjaan ini.”

Setelah meloncati beberapa buah parit dan menyibak beberapa macam tanaman di sawah-sawah, akhirnya Ki Tambak Wedi berdiri di luar dinding desa itu. Dari tempatnya berdiri Ki Tambak Wedi dapat melihat jalan yang membujur di tengah-tengah bulak memasuki desa kecil itu. Tetapi Ki Tambak Wedi tidak mau masuk desa lewat jalan yang dilihatnya. Lebih baik baginya untuk meloncati dinding batu desa itu.

Ketika Ki Tambak Wedi menjejakkan kakinya di dalam lingkungan dinding batu, orang tua itu menggeram. Api yang dilihatnya sudah menjadi semakin besar. Dengan hati-hati ia berjalan ke arah api itu. Tetapi, di sekitar api itu tampaknya terlampau sepi. Ia tidak melihat Sidanti, Sanakeling dan Alap-Alap Jalatunda.

“Hem” geramnya berulang kali. “Anak-anak gila itu pergi ke mana saja. Mereka sama sekali tidak mau memperhitungkan keadaan. Mereka menuruti saja perasaannya.”

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi teringat, bahwa di desa itu pasti ada prajurit Pajang yang sedang mengawasi keadaan menjelang saat penyerahan orang-orang Jipang. Gumamnya, “Hem, mungkin Sidanti sedang melihat-lihat, apakah di desa ini ada orang-orang Pajang. kalau benar diketemukannya beberapa orang prajurit, maka anak itu pasti sedang melepaskan kemarahannya.”

Baca lebih lanjut

Buku 017 (Seri I Jilid 17)

 

Mereka pun kemudian memungut busur-busur mereka, menyilangkannya di punggungnya. Endong, tempat anak panah merekapun segera mereka ikat pada pinggang masing-masing. Di kiri tergantung pedang dan di kanan tergantung endong-endong itu, kecuali Sutawijaya yang bersenjatakan tombak.

Ketiganya kemudian dengan hati-hati berjalan menjauhi perapian mereka. Agung Sedayu dan Swandaru telah menarik pedang-pedang mereka dari sarungnya. Kalau seseorang sengaja menarik perhatian mereka dengan sebuah perapian, maka menghadapi mereka harus cukup waspada.

Dengan penuh kewaspadaan mereka kemudian memasuki rimbunnya pepohonan di sekeliling halaman yang sempit dan kotor itu. Dengan senjata siap di tangan, selangkah-selangkah mereka maju. Segera mereka pun mengetahui, dari manakah sumber cahaya yang memancar, membuat bayangan yang kemerah-merahan pada pepohonan dan dedaunan.

“Dari situlah sumber cahaya itu” desis Swandaru.

“Ya,” sahut Sutawijaya perlahan-lahan, “marilah kita lihat.”

Ketika mereka maju beberapa langkah lagi, maka segera mereka menjadi semakin jelas arah api yang telah mengganggu itu. Dan beberapa langkah lagi, maka langkah mereka pun terhenti. Ternyata kini mereka berdiri beberapa langkah dari sebuah halaman yang lain, halaman serupa dengan halaman tempat mereka beristirahat. Tetapi halaman ini ternyata lebih luas. Dalam cahaya api yang menyala-nyala itu mereka melihat gubug-gubug yang lebih banyak dan di antaranya ada beberapa gubug yang agak lebih besar dari gubug-gubug yang telah mereka lihat lebih dahulu.

Baca lebih lanjut

Buku 018 (Seri I Jilid 18)

 

Prajurit yang agak kecil dan bahkan semua orang terperanjat melihat orang itu. Orang itu pun ternyata prajurit Pajang pula.

“Kenapa kau?” bertanya prajurit yang bertubuh kecil.

“Kenapa kau berada di situ pula” jawab prajurit yang ditanya.

Dan mereka pun terdiam. Namun kembali mereka terkejut ketika mereka tiba-tiba mendengar suara tertawa dari kegelapan.

Ternyata suara tertawa itu telah memecahkan ketegangan yang semakin memuncak. Ketika anak-anak muda Sembojan, Tlaga Kembar, dan anak-anak muda induk Kademangan Prambanan melihat, bahwa di kedua belah pihak berdiri beberapa orang prajurit Pajang, maka mereka pun menjadi berdebar-debar.

Dan kini seperti disentakkkan oleh sebuah tenaga, maka semua kepala berpaling ke arah suara tertawa itu. Namun suara tertawa itu sendiri segera terputus.

Yang terdengar kemudian adalah suara gamelan di pendapa banjar desa. Suara gamelan dalam irama yang semakin panas dan orang-orang tua pun menjadi semakin gila. Mereka telah melupakan ketuaan mereka. Namun orang-orang di halaman itu, tidak saja laki-laki, tetapi perempuan-perempuan, beranggapan bahwa orang-orang laki-laki yang jantan, harus berani turun ke gelanggang tayub. Bahkan ada di antara istri-istri mereka sendiri akan menjadi malu bahwa laki-lakinya, suaminya, tidak berani menggandeng seorang ledek. Dan perempuan-perempuan yang demikian, telah ikut membantu suaminya terjerumus ke dalam daerah yang semakin kelam. Tetapi dengan demikian, semakin gila seorang suami, maka kesempatan bagi perempuan-perempuanpun semakin menjadi semakin luas. Sebab suaminya semakin sering berada di luar rumah, meskipun ada juga di antara mereka, di antara istri-istri itu, yang hanya dapat menangis dan menekan dadanya apabila suaminya menjadi kambuh. Tuak dan beraneka perbuatan terkutuk. Tetapi dalam keadaan yang demikian, banyak pula perempuan yang tenggelam dalam daerah yang suram. Dan celakalah anak-anak mereka. Sebab orang-orang tua yang demikian tidak akan sempat memperdulikan anak-anaknya. Seperti anak-anak muda dari Sembojan dan Tlaga Kembar saat itu. Tak seorang pun yang berada di pendapa itu menaruh perhatian.

Baca lebih lanjut

Buku 019 (Seri I Jilid 19)

 

Karena itu, maka kepala Argajaya terdorong ke belakang. Sentuhan tangkai tombak Sutawijaya memang tidak begitu keras, sehingga Argajaya pun tidak sampai kehilangan keseimbangan. ­Tetapi tangkai tombak Sutawijaya itu pun telah membuat luka pada pelipis Argajaya, sehingga luka itu rnoneteskan darah.

 

 

Terdengar tiba-tiba Argajaya mengumpat kasar. Dengan tiba-tiba ia menyerang kembali Sutawijaya. Namun Sutawijaya telah ber­siaga dan dalam waktu yang singkat, ia segera dapat menguasai lawannya. Apalagi kini Argajaya tidak lagi bersenjata.

“Bunuh aku anak setan!” teriak Argajaya­.

“Tidak, aku akan membuatmu cacat seunur hidup. Tang­kai tombakku akan dapat mematuk kedua belah matamu, dan kau akan menjadi buta karenanya. Nah, apakah yang dapat kau laku­kan tanpa sepasang matamu. Aku tidak akan mempergunakan ujung tombakku, sebab setiap goresan dapat berakibat maut.”

Ancaman itu benar-benar mengerikan. Tiba-tiba Argajaya meloncat mundur. Ternyata Sutawijaya membiarkannya. Ia sama sekali tidak mengejarnya.

Terdengar kemudian Argajaya menggeram. Suaranya meng­geletar melontarkan kemarahan yang pepat di dalam dadanya, “Aku akan pergi anak demit. Tetapi jangan kau sangka bahwa aku takut menghadapi kau. Bukan berarti aku lari dari kematian. Tetapi kau ternyata bengis melampaui iblis. Aku akan menunggumu di Sangkal Putung kalau kau benar-benar anak Sangkal Putung. Aku akan mencari kesempatan untuk melakukan perang tanding sekali lagi di hadapan para pemimpin prajurit Pajang di Sangkal Patung. Perang tan­ding sampai salah seorang di antara kita mati”

Baca lebih lanjut

Buku 020 (Seri I Jilid 20)

 

Akhirnya dari tempat yang terlindung itu Kiai Gringsing melihat dua orang mendekatinya.

“Benarkah kau, Kiai?”

“Ya, aku datang bersama dengan Anakmas Swandaru dan Agung Sedayu.”

“Oh, di mana mereka sekarang?”

“Itu, di situ. Kami tidak ingin mengejutkan kalian. Kalau kalian melihat kami berempat, maka kalian akan terkejut dan mungkin berbuat sesuatu diluar perhitungan kami.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam pada itu Swandaru yang tidak sabar telah keluar dari persembunyiannya diikuti oleh Sutawijaya dan Agung Sedayu.

“Seluruh kademangan menunggu kalian” kata penjaga itu. “ Kita telah menjadi bingung.”

“Apakah mereka mencemaskan nasib kami?” bertanya Swandaru. “Dan karena itu ibu menangis?”

“Bukan saja karena itu,” jawab penjaga, “kami menghadapi soal yang lain.”

Dada Swandaru berdesir mendengar jawaban penjaga itu. Karena itu dengan serta-merta ia bertanya, “Apakah ada soal lain yang penting?”

“Ya” sahut penjaga itu.

“Apa?”

Baca lebih lanjut