Tag Archives: Alap-Alap Jalatunda

Buku 001 (Seri I Jilid 1)

    BAGIAN I MASA-MASA MUDA   Sekali-sekali terdengar petir bersambung di udara. Setiap kali suaranya menggelegar memenuhi lereng Gunung Merapi. Hujan di luar seakan-akan tercurah dari langit. Agung Sedayu masih duduk menggigil di atas amben bambu. Wajahnya menjadi kian pucat. Udara sangat dingin dan suasana sangat mencemaskan. “Aku akan berangkat,” tiba-tiba terdengar suara kakaknya, …

Baca lebih lanjut

Buku 006 (Seri I Jilid 6)

  Untara dan Agung Sedayu kemudian tidak membuang-buang waktu lagi. Segera mereka mulai dengan suatu latihan yang keras. Ternyata Untara benar-benar ingin melihat, sampai di mana puncak kemampuan adiknya. Ketika latihan itu telah berjalan beberapa lama, maka tahulah Untara bahwa apa yang dikatakan oleh Widura itu memang sebenarnya demikian. Agung Sedayu mempunyai bekal yang cukup …

Baca lebih lanjut

Buku 008 (Seri I Jilid 8)

    “Jangan panggil dengan sebutan yang terlalu jauh. Panggillah dengan sebutan yang lebih dekat. Kakang. Juga kepada Untara lebih baik kau memanggilnya demikian” potong Widura. “Ya” sahut Agung Sedayu. “Aku lebih senang.” “Baiklah” sahut Swandaru. “Marilah, minumlah.” Widura dan Agung Sedayupun minum pula air jahe yang hangat. Dengan demikian maka keringat mereka semakin banyak …

Baca lebih lanjut

Buku 009 (Seri I Jilid 9)

    Sampai di gubug Alap-Alap Jalatunda Tohpati berhenti. Wajahnya tampak berkerut-kerut. Diangkatnya telinganya sambil bergumam lirih, “Siapa itu Paman?” Sumangkar menarik pundaknya tinggi-tinggi. Katanya, “Itulah Raden, gambaran kehidupan kita.” Tohpati menggeram. Didengarnya sekali lagi suara tertawa perempuan seperti seekor kucing tercekik. Kemudian terdengar suara Alap-Alap Jalatunda yang muda itu, “Jangan merajuk anak muda. Tinggalkan …

Baca lebih lanjut

Buku 012 (Seri I Jilid 12)

  Betapapun kebimbangan bergelora di dalam batinnya, namun akhirnya Sumangkar itu tidak juga dapat membiarkan kekalahan demi kekalahan melanda pasukan murid kakak seperguruannya. Karena itu berkali-kali terdengar ia berdesah, kemudian menggeram. Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Dan orang tua itu menjadi semakin kuat menggenggam senjatanya. Ketika ia mendengar orang-orang Pajang bersorak, seakan-akan dirinyalah yang disorakinya. …

Baca lebih lanjut

Buku 013 (Seri I Jilid 13)

  Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa lemah. Suara itu melontar dari balik sebatang pohon yang besar. Hampir bersamaan muncullah sebuah bayangan hitam, berjalan beberapa langkah mendekati mereka. “Hem, kalian telah terbenam dalam kepentingan kalian masing-masing sehingga kalian tidak sempat memperhatikan saat-saat yang paling berbahaya dalam hidup seseorang.” Agung Sedayu tersentak. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar …

Baca lebih lanjut

Buku 015 (Seri I Jilid 15)

  Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka berdua telah terlibat dalam sebuah pekelahian yang semakin sengit. Pedang Sidanti berputar dengan cepatnya sedang senjata khususnya di tangan kiri dipergunakannya sebagai perisai, namun kadang-kadang senjata itulah yang mematuk dengan sangat berbahaya. Sebuah sentuhan dan goresan pada kulit lawan, maka akibatnya akan dapat berarti maut. Tetapi lawan Sidanti itu dapat mempergunakan …

Baca lebih lanjut

Buku 016 (Seri I Jilid 16)

  Dalam kegelisahannya, Ki Tambak Wedi itu kemudian berjalan mendekati desa Benda. Di sepanjang langkahnya, tak habis-habisnya ia mengumpat-umpat. “Akhirnya aku harus pergi juga ke desa itu. Lebih baik sejak semula aku kerjakan sendiri pekerjaan ini.” Setelah meloncati beberapa buah parit dan menyibak beberapa macam tanaman di sawah-sawah, akhirnya Ki Tambak Wedi berdiri di luar …

Baca lebih lanjut

Buku 021 (Seri I Jilid 21)

  Sekali lagi Sidanti tersenyum. Betapapun dadanya bergolak karena lepasnya Agung Sedayu, namun terhadap anak muda Jati Anom ini ia ingin bersikap baik, sebagai permulaan dari hubungannya dengan anak-anak muda di kademangan ini. “Ia menjadi ketakutan, Paman. Mungkin aku dapat menolongnya.” “Apakah pedulimu atas pengecut itu?” Sidanti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Hubungan yang baik antara …

Baca lebih lanjut

Buku 022 (Seri I Jilid 22)

  “Aku tidak pernah mempunyai keberanian yang cukup untuk menegurnya, meskipun aku sering berpapasan dengan gadis itu.” Wuranta tertawa, ditatapnya wajah Alap-Alap yang keras dan bermata seperti mata burung alap-alap itu. Katanya, “Tuan adalah seorang anak muda yang perkasa. Semuda umur Tuan, Tuan telah memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda sebaya Tuan, bahkan yang lebih …

Baca lebih lanjut