Tag Archives: Glagah Putih

Buku 100 (Seri I Jilid 100)

  Tetapi Agung Sedayu sudah bersiap menghadapinya. Dengan serta-merta, sebuah ledakan yang dahsyat telah mengejutkan kedua orang lawannya. Ledakan itu terdengar jauh lebih menggetarkan daripada ledakan-ledakan yang didengarnya sebelumnya. Dalam keragu-raguan itu, Agung Sedayu-lah yang kemudian menyerang lawannya dengan ujung cambuknya. Ledakan yang mengejutkan itu disusul pula oleh ledakan lain, yang langsung menyerang lawannya. Tetapi …

Baca lebih lanjut

Buku 101 (Seri II Jilid 1)

  Sebuah padepokan kecil akan lahir di sebelah Kademangan Jati Anom. Di atas sebuah pategalan yang sudah ditumbuhi dengan berbagai macam pohon buah-buahan, akan dibangun kelengkapan dari sebuah padepokan betapapun kecilnya. Sebuah rumah induk dengan pendapa dan bagian-bagian yang lain, sebuah tempat ibadah, kolam dan sebuah kandang kuda. Di bagian belakang akan terdapat beberapa buah …

Baca lebih lanjut

Buku 102 (Seri II Jilid 2)

  Orang-orang yang membuat lingkaran di sekitar arena itu termangu-mangu sejenak. Mereka bagaikan dicengkam oleh peristiwa yang hampir di luar nalar. Ledakan cambuk Swandaru telah mengenai punggung harimau yang menerkamnya dan karah-karah besi baja dan kepingan-kepingan baja yang melingkar di antaranya ternyata telah berhasil menyobek kulit harimau itu, sehingga luka yang panjang telah menganga di …

Baca lebih lanjut

Buku 103 (Seri II Jilid 3)

  Orang-orang yang berada di dalam sanggar itupun menjadi tegang. Mereka mulai membayangkan apa yang bakal terjadi. Kedua anak muda itu adalah anak-anak muda yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga apabila keduanya tenggelam dalam arus perasaan yang tidak terkendali, maka akan terjadi perang tanding yang sangat dahsyat di dalam sanggar itu. Tetapi di dalam sanggar …

Baca lebih lanjut

Buku 114 (Seri II Jilid 14)

  Pengawal itupun bergeser surut. Sejenak ia hilang di luar pintu paseban dalam. Namun kemudian ia nampak kembali bersama seorang anak muda. Agung Sedayu. Wajah Untara benar-benar menjadi tegang. Ketika Agung Sedayu bergeser sambil berjongkok setapak demi setapak, rasa-rasanya anak itu menjadi sangat lamban. Hampir saja ia berteriak agar adiknya itu bersikap sedikit cepat. Ketika …

Baca lebih lanjut

Buku 115 (Seri II Jilid 15)

  Dalam pada itu, para petani yang meninggalkan Agung Sedayu itu pun telah memasuki halaman Kademangan. Dengan wajah yang merah padam, mereka memaksa para pengawal yang menahan mereka, untuk dapat bertemu dengan Ki Demang. “Ada persoalan apa?” bertanya para pengawal. “Persoalan penting. Persoalan yang akan kami laporkan langsung kepada Ki Demang.” “Tetapi masih banyak tamu …

Baca lebih lanjut

Buku 117 (Seri II Jilid 17)

  Swandaru pun sejenak tercenung diam. Ia menghubungkan keadaan lawannya dengan benturan yang terjadi, sebelum keduanya terlibat pada pertempuran yang aneh itu. Menurut perhitungan Swandaru, benturan yang meskipun telah melemparkan Agung Sedayu itu, agaknya menumbuhkan luka-luka di bagian tubuh lawannya yang lengah, karena ia menganggap bahwa Agung Sedayu sudah tidak berdaya. Namun dalam pada itu, …

Baca lebih lanjut

Buku 118 (Seri II Jilid 18)

  “Ayah tentu memperbolehkan jika Kakang tidak berkeberatan.” “Aku tidak berkeberatan, jika Paman Widura mengijinkan.” “Itu namanya berputar-putar,” Glagah Putih bersungut-sungut, “tetapi aku akan ikut Kakang melihat sawah dan pategalan.” “Hanya sawah di ujung lorong itu,” potong Agung Sedayu. “Ya. Sawah di ujung lorong.” Glagah Putih tetap pada pendiriannya. Agaknya Ki Widura memang tidak melarangnya, …

Baca lebih lanjut

Buku 119 (Seri II Jilid 19)

“Ki Waskita,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”apakah dengan membiarkan mereka, persoalan ini telah dapat kita anggap selesai?” “Tentu tidak, Agung Sedayu. Tetapi kita tidak perlu menghiraukannya.” “Ki Waskita, bagaimana jika kita berusaha menemui dan berbicara dengan mereka?” Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia merenung sejenak. Namun kemudian katanya, ”Kita akan menunggu Ngger. Mudah-mudahan tidak ada …

Baca lebih lanjut

Buku 120 (Seri II Jilid 20)

  Sabungsari yang hampir tidak sabar mengawasi kelima orang-orangnya, ternyata sempat melihat mereka meninggalkan tempat persembunyiannya, sehingga ia pun segera menyusul mereka. Sementara itu kegelisahan dan hampir ketidaksabaran, membuatnya semakin mendendam. Setiap kali ia menggeretakkan giginya. Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu untuk meremas dada Agung Sedayu. “Aku harus membunuhnya, sebagaimana ia membunuh ayahku. Mayatnya …

Baca lebih lanjut