Tag Archives: Gupala

Buku 038 (Seri I Jilid 38)

  Tetapi Ki Tambak Wedi tidak dapat menyembunyikan kenyataan yang terjadi. Kedua kawannya menjadi semakin terdesak dan teka-teki yang meliputi benaknya tentang pasukan kecilnya yang seolah-olah hilang dihembus angin prahara. Ki Tambak Wedi menjadi ragu-ragu. Kalau ia memaksa diri untuk menundukkan Argapati yang telah terluka itu, maka apakah yang terjadi bukan sebaliknya? Yang mengejarnya kini …

Baca lebih lanjut

Buku 039 (Seri I Jilid 39)

  “Aku sudah menyebarkan perintah untuk menarik semua pasukan. Dan aku juga sudah menyiapkan pasukan berkuda yang akan mengimbangi semua gerak lawan, kalau perlu dengan melakukan kekerasan dan mengorbankan beberapa buah rumah penduduk yang kelak akan kita perhitungkan.” Wrahasta mengerutkan keningnya. Terbayang di dalam angan-angannya seakan-akan sekelompok burung elang yang terbang dari satu dahan ke …

Baca lebih lanjut

Buku 040 (Seri I Jilid 40)

  Karena itu, maka timbullah niatnya untuk berkata langsung saja berterus terang. Ia harus mengatakan, bahwa ia mendapat tugas untuk menemui Ki Argapati. Bahkan ia menyesal, bahwa ia menunda-nunda untuk mengatakannya, sehingga keadaan menjadi semakin memburuk. “Cepat,” bentak Wrahasta sambil menekankan pedangnya, “ayo berjalanlah!” “Aku akan mengatakannya,” berkata Gupita. “Aku akan mengatakan keperluanku sebenarnya.” “Aku …

Baca lebih lanjut

Buku 041 (Seri I Jilid 41)

  Sementara itu, Ki Tambak Wedi masih saja sibuk mencari orang yang telah mengganggunya. Tetapi seperti hantu, orang itu menghilang tanpa meninggalkan bekas apa pun. “Pasti bukan orang kebanyakan,” desisnya. Dan tiba-tiba saja diingatnya orang yang telah mengintainya, ketika ia menunggu orang-orang berkuda itu. “Kalau orang ini yang mengintai itu, maka apakah yang dapat dilakukan …

Baca lebih lanjut

Buku 042 (Seri I Jilid 42)

  “Silahkan. Semua serba darurat.” “Demikianlah agaknya, Ki Gede. Di peperangan semuanya harus menyesuaikan diri.” Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ini adalah anakku. Karena itu, aku tidak menyuruhnya pergi. Dalam keadaan serupa ini, lebih banyak yang diketahuinya, akan lebih baik baginya dan bagi Tanah ini.” Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku kira, ia perlu …

Baca lebih lanjut

Buku 043 (Seri I Jilid 43)

  Ki Argapati yang kemudian berdiri di depan regol itu memandangi bayangan barisan lawan di dalam gelap malam. Ia tidak dapat menduga, berapa besar pasukan lawan itu. Tetapi agaknya pasukan Ki Tambak Wedi itu pun berhenti beberapa puluh langkah di depan regol. Beberapa lama mereka mengatur gelar yang akan dipergunakan dan menempatkan orang-orang terpenting pada tempat …

Baca lebih lanjut

Buku 044 (Seri I Jilid 44)

  “Carilah alat untuk mengangkat Ki Argapati,” desis orang tua itu. “Ia harus segera berada di dalam rumah. Aku harus mencuci lukanya dan memberikan obat baru lagi.” Seorang dari antara mereka yang melingkarinya segera pergi mencari sebuah ekrak bambu. Dilambari dengan jerami kering, maka Ki Argapati pun kemudian dibaringkannya di atas ekrak itu dan diangkat …

Baca lebih lanjut

Buku 045 (Seri I Jilid 45)

  Dengan darah yang bergelora mereka telah bertekad untuk merebut padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Mereka harus merebut kembali pusat pemerintahan yang selama ini telah diduduki oleh Ki Tambak Wedi. Bagaimanapun juga, agaknya tempat itu berpengaruh pula bagi rakyat Menoreh yang berada agak jauh dari padukuhan induk itu. Ki Argapati ternyata benar-benar ingin ikut pula di …

Baca lebih lanjut

Buku 046 (Seri I Jilid 46)

  Namun suara cambuk itu masih juga terdengar. Sekali lagi dan sekali lagi. “Persetan,” desis Ki Peda Sura. “Mungkin akulah yang nanti akan menghentikannya. Tetapi kini lebih baik menyelesaikan kelinci-kelinci bodoh ini. Begitu menyenangkan, seperti menebas batang ilalang.” Ki Peda Sura tersenyum. Sepasang senjatanya pun kemudian berputar menyambar-nyambar. Senjata Ki Peda Sura benar-benar telah menimbulkan …

Baca lebih lanjut

Buku 047 (Seri I Jilid 47)

  “Aku akan menunggu sebentar. Kalau tidak segera ada pemberitahuan dari induk pasukanmu yang sedang bertempur itu, aku akan menyusul mereka. Mungkin mereka memerlukan bantuan.” Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipersilahkannya anak muda itu singgah sebentar di padukuhan itu sambil menunggu berita dari padukuhan induk tentang pertempuran untuk merebut kembali daerah yang telah dirampas …

Baca lebih lanjut