Tag Archives: Gupita

Buku 034 (Seri I Jilid 34)

  Pandan Wangi masih belum menyahut. Tetapi ia mendengar seorang yang lain berkata, “Lihat, ia membawa sepasang pedang di lambungnya.” Orang yang berdiri di paling depan, yang berwajah mengerikan dengan kumis dan jambang yang tumbuh bagaikan rumput liar di musim hujan itu tertawa. “Ya, ya. Ia membawa sepasang pedang di lambungnya seperti seekor ayam betina …

Baca lebih lanjut

Buku 035 (Seri I Jilid 35)

  Ki Argapati menarik nafas dalam. Tetapi tatapan matanya sama sekali tidak bergeser serambut pun. Perlahan-lahan ia berkata, “Pandan Wangi. Aku tahu, betapa sulitnya perasaanmu. Seandainya kau tidak mencemaskan nasibku besok malam, maka kau akan berkata seperti yang sudah kau ucapkan sebelum ini. Bukankah kau berusaha mencegah aku melakukan gerakan hari ini?” Sekali lagi Ki …

Baca lebih lanjut

Buku 037 (Seri I Jilid 37)

  Pasukan kecil itupun segera menghilang dari pengawasan Pasukan Sidanti. Mundur dengan tergesa-gesa, merangkak di antara batang-batang jagung muda, supaya mereka dapat bergabung dengan pasukan cadangan yang agak besar, yang menunggu di padukuhan kecil di belakang mereka. Mereka mencoba menghilangkan segala macam jejak, agar Sidanti tidak mengetahui dengan pasti, bahwa mereka telah ditunggu di padukuhan …

Baca lebih lanjut

Buku 039 (Seri I Jilid 39)

  “Aku sudah menyebarkan perintah untuk menarik semua pasukan. Dan aku juga sudah menyiapkan pasukan berkuda yang akan mengimbangi semua gerak lawan, kalau perlu dengan melakukan kekerasan dan mengorbankan beberapa buah rumah penduduk yang kelak akan kita perhitungkan.” Wrahasta mengerutkan keningnya. Terbayang di dalam angan-angannya seakan-akan sekelompok burung elang yang terbang dari satu dahan ke …

Baca lebih lanjut

Buku 040 (Seri I Jilid 40)

  Karena itu, maka timbullah niatnya untuk berkata langsung saja berterus terang. Ia harus mengatakan, bahwa ia mendapat tugas untuk menemui Ki Argapati. Bahkan ia menyesal, bahwa ia menunda-nunda untuk mengatakannya, sehingga keadaan menjadi semakin memburuk. “Cepat,” bentak Wrahasta sambil menekankan pedangnya, “ayo berjalanlah!” “Aku akan mengatakannya,” berkata Gupita. “Aku akan mengatakan keperluanku sebenarnya.” “Aku …

Baca lebih lanjut

Buku 041 (Seri I Jilid 41)

  Sementara itu, Ki Tambak Wedi masih saja sibuk mencari orang yang telah mengganggunya. Tetapi seperti hantu, orang itu menghilang tanpa meninggalkan bekas apa pun. “Pasti bukan orang kebanyakan,” desisnya. Dan tiba-tiba saja diingatnya orang yang telah mengintainya, ketika ia menunggu orang-orang berkuda itu. “Kalau orang ini yang mengintai itu, maka apakah yang dapat dilakukan …

Baca lebih lanjut

Buku 042 (Seri I Jilid 42)

  “Silahkan. Semua serba darurat.” “Demikianlah agaknya, Ki Gede. Di peperangan semuanya harus menyesuaikan diri.” Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ini adalah anakku. Karena itu, aku tidak menyuruhnya pergi. Dalam keadaan serupa ini, lebih banyak yang diketahuinya, akan lebih baik baginya dan bagi Tanah ini.” Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku kira, ia perlu …

Baca lebih lanjut

Buku 043 (Seri I Jilid 43)

  Ki Argapati yang kemudian berdiri di depan regol itu memandangi bayangan barisan lawan di dalam gelap malam. Ia tidak dapat menduga, berapa besar pasukan lawan itu. Tetapi agaknya pasukan Ki Tambak Wedi itu pun berhenti beberapa puluh langkah di depan regol. Beberapa lama mereka mengatur gelar yang akan dipergunakan dan menempatkan orang-orang terpenting pada tempat …

Baca lebih lanjut

Buku 044 (Seri I Jilid 44)

  “Carilah alat untuk mengangkat Ki Argapati,” desis orang tua itu. “Ia harus segera berada di dalam rumah. Aku harus mencuci lukanya dan memberikan obat baru lagi.” Seorang dari antara mereka yang melingkarinya segera pergi mencari sebuah ekrak bambu. Dilambari dengan jerami kering, maka Ki Argapati pun kemudian dibaringkannya di atas ekrak itu dan diangkat …

Baca lebih lanjut

Buku 045 (Seri I Jilid 45)

  Dengan darah yang bergelora mereka telah bertekad untuk merebut padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Mereka harus merebut kembali pusat pemerintahan yang selama ini telah diduduki oleh Ki Tambak Wedi. Bagaimanapun juga, agaknya tempat itu berpengaruh pula bagi rakyat Menoreh yang berada agak jauh dari padukuhan induk itu. Ki Argapati ternyata benar-benar ingin ikut pula di …

Baca lebih lanjut