Tag Archives: Ki Ajar Gurawa

Buku 267 (Seri III Jilid 67)

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin cepat. Raden Antal yang tidak menduga bahwa Rara Wulan benar-benar memiliki bekal olah kanuragan, telah meningkatkan ilmunya. Ia tidak lagi terlalu berharap untuk dapat mengalahkan lawannya dengan cepat. Tetapi Raden Antal mulai memperhatikan dan menjajagi kemampuan lawannya. Gadis yang pernah dipinangnya untuk menjadi istrinya itu. Sementara itu, Rara Wulan …

Baca lebih lanjut

Buku 268 (Seri III Jilid 68)

Namun Ki Ajar Gurawa itu berkata, “Untuk menghilangkan keragu-raguanmu, marilah kita bertemu dengan Ki Patih Mandaraka.” Glagah Putih tidak dapat menolak. Ia memang ingin membuktikan apakah orang itu tidak berbohong. Demikianlah, maka sejenak kemudian, lima orang telah berkuda menuju ke Mataram. Ki Ajar ternyata juga membawa seekor kuda yang disembunyikannya ditempat yang sepi. Glagah Putih …

Baca lebih lanjut

Buku 269 (Seri III Jilid 69)

Para anggota kelompok Gajah Liwung mengangguk-angguk. Mereka pun sudah tanggap bahwa kemungkinan itulah yang mereka lihat kemudian. Ki Jayaraga sambil mengangguk-angguk berkata, “Sayang aku tidak dapat ikut dalam permainan itu, karena aku akan dapat dikenali oleh Podang Abang, yang mungkin juga merupakan bagian dari mereka.” “Satu hal yang perlu dipertimbangkan,” berkata Ki Ajar, “sejak semula …

Baca lebih lanjut

Buku 270 (Seri III Jilid 70)

“Baik Guru,” jawab kedua orang muridnya hampir berbareng. Demikianlah, maka Ki Ajar Gurawa itu pun telah pergi ke Sumpyuh selagi masih sempat. Ternyata ia dapat bertemu dengan hampir semua orang-orang Gajah Liwung. Kecuali Mandira dan Naratama yang pergi ke pasar di Kotaraja dan belum kembali. “Jika dua hari lagi aku datang ke rumah Ki Rangga …

Baca lebih lanjut

Buku 271 (Seri III Jilid 71)

Murid-murid Ki Ajar Gurawa justru mulai gelisah melihat lawan-lawannya. Mereka telah melukai di beberapa tempat. Bahkan senjata-senjata mereka telah menggores dada, menusuk lambung dan pundak serta lengan mereka. Tetapi Rubah-Rubah itu masih saja berloncatan menerkam tanpa perhitungan, karena mereka tidak pernah berhasil. Sabungsari pun akhirnya kehilangan kesabaran. Tetapi ia tidak merasa perlu untuk menghentikan Rubah …

Baca lebih lanjut

Buku 272 (Seri III Jilid 72)

Pandan Wangi dan Sekar Mirah menundukkan kepalanya, matanya menjadi basah. Sementara Rara Wulan termangu-mangu. Sekali-sekali dipandanginya Ki Widura, kemudian Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti. Bahkan kemudian ia melihat dua orang cantrik yang menangis. Benar-benar menangis, sehingga terasa dada Rara Wulan ikut menjadi sesak oleh isaknya. Betapapun keduanya berusaha untuk bertahan, tetapi ternyata bahwa keduanya telah …

Baca lebih lanjut

Buku 273 (Seri III Jilid 73)

Dengan demikian, maka orang-orang yang tiba-tiba saja membuat kekacauan itu telah hilang dari penilikan para prajurit yang terkejut. Bukan saja para prajurit, tetapi orang-orang yang menyaksikan pertandingan itu pun terkejut. Bahkan Sabungsari dan Glagah Putih juga terkejut. Demikian pula Ki Ajar Gurawa dan anggota Gajah Liwung yang lain. Mereka tidak sempat melihat kemana orang-orang itu …

Baca lebih lanjut

Buku 274 (Seri III Jilid 74)

“Ternyata mereka adalah orang-orang yang juga berilmu tinggi. Mungkin mereka memiliki kelebihan seperti Ki Podang Abang dan Ki Wanayasa. Namun agaknya mereka mempunyai caranya tersendiri untuk mengacaukan Mataram, dan bahkan kedua kelompok itu agaknya justru bersaing. Karena itu, demikian Ki Wanayasa dan Ki Podang Abang lenyap dari Mataram, mereka telah hadir untuk melaksanakan cara mereka …

Baca lebih lanjut

Buku 277 (Seri III Jilid 77)

Namun peristiwa itu merupakan satu peringatan bagi Tanah Perdikan Menoreh, bahwa sebenarnyalah bahaya masih ada di antara mereka. Orang-orang berilmu tinggi dan pengikutnya itu masih tetap mendendam Sabungsari dan Glagah Putih. Apalagi setelah beberapa orang di antara mereka justru terbunuh di Tanah Perdikan Menoreh beberapa waktu yang lewat. Malam itu seisi rumah Agung Sedayu seakan-akan …

Baca lebih lanjut

Buku 278 (Seri III Jilid 78)

Nampaknya memang tidak ada jalan lain kecuali menyerahkan Rara Wulan, jika mereka tidak ingin Raras hilang untuk selamanya dari lingkungan keluarganya. Bagi mereka yang tersangkut dalam persoalan hilangnya Raras, maka setiap tarikan nafas rasa-rasanya merupakan ketegangan yang semakin mencengkam, sejalan dengan beredarnya waktu. Ketika malam lewat, maka pagi-pagi benar Agung Sedayu telah bersiap bersama Glagah …

Baca lebih lanjut