Tag Archives: Ki Ambara

Buku 324 (Seri IV Jilid 24)

Glagah Putih tertawa. Katanya, “Tidak. Tidak apa-apa.” Yang mendengarnya pun tertawa pula. Namun Glagah Putih pun kemudian minta diri untuk meninggalkan pertemuan itu, karena ia berjanji untuk bertemu dengan Prastawa. “Apakah ada sesuatu yang penting?” bertanya Agung Sedayu. “Tidak,” jawab Glagah Putih, “tetapi kami akan pergi ke padukuhan Sembung untuk menghadiri upacara pernikahan pemimpin pengawal …

Baca lebih lanjut

Buku 325 (Seri IV Jilid 25)

Mangesthi menganggukkan kepalanya. Katanya, “Kau benar, Wiyati. Aku memang belum waktunya untuk meninggalkan padepokan ini.” Demikianlah, Wiyati pun segera mempersiapkan dirinya. Kawan-kawannya pun segera mengerumuninya. Pada umumnya mereka mengucapkan selamat kepada Wiyati yang mendapat kesempatan untuk terjun langsung ke kancah perjuangan. “Aku iri kepadamu, Wiyati,” berkata seorang kawannya. “Semoga aku dapat menjalankan tugas ini dengan …

Baca lebih lanjut

Buku 326 (Seri IV Jilid 26)

“Sudahlah. Jangan ganggu aku lagi. Aku akan pulang.” “Tunggu! Kau tidak akan dapat meninggalkan tempat ini. Ikut aku. Uangku lebih dari sebangsal.” “Buat apa uang sebangsal? Belilah perempuan di simpang empat itu kalau ada yang bersedia kau beli. Tetapi aku tidak.” “Jangan keras kepala. Kau akan menyesal.” Wiyati mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia berkata, …

Baca lebih lanjut

Buku 327 (Seri IV Jilid 27)

Tetapi Pandan Wangi tidak memburunya. Dibiarkannya perempuan itu mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya. “Kau memang sombong, perempuan cantik,” geram perempuan itu, “kau beri kesempatan aku bersiap menghadapi seranganmu. Kau sengaja memberi waktu kepadaku. Tetapi kau akan menyesal. Waktu yang sekejap yang kau berikan kepadaku ini akan mengubah segala-galanya.” “Aku tahu, kau bukan perempuan yang bengis. Kau hanya …

Baca lebih lanjut

Buku 329 (Seri IV Jilid 29)

“Jadi maksudmu aku harus memberontak kepada Mataram?” “Apa boleh buat.” “Seberapa kekuatan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, seandainya Ki Gede dan Kakang Agung Sedayu bersedia? Namun aku tidak akan pernah dapat membayangkan bahwa aku harus melawan Mataram. Apalagi Kakang Agung Sedayu.” “Kakang Swandaru dapat memanfaatkan adik perempuan Kakang itu. Sekar Mirah harus dapat mempengaruhi …

Baca lebih lanjut

Buku 330 (Seri IV Jilid 30)

Namun Swandaru tidak mau menyerah kepada kenyataan itu. Ia justru melihat Agung Sedayu menjadi lengah. Karena itu, maka Swandaru pun telah meloncat sambil mengayunkan cambuknya. Swandaru sempat melihat Agung Sedayu meloncat. Namun tiba-tiba saja Swandaru itu berdiri bagaikan membeku. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia melihat bukan hanya seorang Agung Sedayu yang meloncat …

Baca lebih lanjut

Buku 331 (Seri IV Jilid 31)

Sedikit wayah sepi bocah, para pengawal telah berkumpul di sebuah ara-ara perdu yang luas, di pinggir sungai yang mengalir membelah Kademangan Sangkal Putung. Hanya kebetulan saja, karena sama sekali tidak mereka rencanakan, bulan pun nampak hampir bulat di langit. Sinarnya yang lembut menyelimuti pasukan pengawal Sangkal Putung yang sudah siap untuk berangkat itu. Tidak ada …

Baca lebih lanjut

Buku 332 (Seri IV Jilid 32)

Namun ketika Ki Ambara bertekad untuk segera membalas kematian Wiyati, ternyata bahwa lawannya bukan seorang yang mudah dikalahkannya. Ketika Ki Ambara meningkatkan ilmunya, maka Ki Jayaraga pun telah melakukan hal yang sama. Dengan demikian maka Ki Jayaraga masih saja tetap mampu mengimbangi kemampuan Ki Ambara. Dalam pada itu, Swandaru dan Pandan Wangi yang tidak terikat …

Baca lebih lanjut