Tag Archives: Ki Argajaya

Buku 018 (Seri I Jilid 18)

  Prajurit yang agak kecil dan bahkan semua orang terperanjat melihat orang itu. Orang itu pun ternyata prajurit Pajang pula. “Kenapa kau?” bertanya prajurit yang bertubuh kecil. “Kenapa kau berada di situ pula” jawab prajurit yang ditanya. Dan mereka pun terdiam. Namun kembali mereka terkejut ketika mereka tiba-tiba mendengar suara tertawa dari kegelapan. Ternyata suara …

Baca lebih lanjut

Buku 019 (Seri I Jilid 19)

  Karena itu, maka kepala Argajaya terdorong ke belakang. Sentuhan tangkai tombak Sutawijaya memang tidak begitu keras, sehingga Argajaya pun tidak sampai kehilangan keseimbangan. ­Tetapi tangkai tombak Sutawijaya itu pun telah membuat luka pada pelipis Argajaya, sehingga luka itu rnoneteskan darah.     Terdengar tiba-tiba Argajaya mengumpat kasar. Dengan tiba-tiba ia menyerang kembali Sutawijaya. Namun …

Baca lebih lanjut

Buku 020 (Seri I Jilid 20)

  Akhirnya dari tempat yang terlindung itu Kiai Gringsing melihat dua orang mendekatinya. “Benarkah kau, Kiai?” “Ya, aku datang bersama dengan Anakmas Swandaru dan Agung Sedayu.” “Oh, di mana mereka sekarang?” “Itu, di situ. Kami tidak ingin mengejutkan kalian. Kalau kalian melihat kami berempat, maka kalian akan terkejut dan mungkin berbuat sesuatu diluar perhitungan kami.” …

Baca lebih lanjut

Buku 021 (Seri I Jilid 21)

  Sekali lagi Sidanti tersenyum. Betapapun dadanya bergolak karena lepasnya Agung Sedayu, namun terhadap anak muda Jati Anom ini ia ingin bersikap baik, sebagai permulaan dari hubungannya dengan anak-anak muda di kademangan ini. “Ia menjadi ketakutan, Paman. Mungkin aku dapat menolongnya.” “Apakah pedulimu atas pengecut itu?” Sidanti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Hubungan yang baik antara …

Baca lebih lanjut

Buku 023 (Seri I Jilid 23)

  Maka katanya kemudian, “Alap-Alap Jalatunda, aku tidak dapat mengerti maksud kata-katamu. Bukankah dengan demikian persoalan kita akan menjadi berkepanjangan? Kau harus berbuat sesuatu supaya kita untuk seterusnya tidak terganggu lagi. Baik oleh Sidanti maupun oleh orang-orang lain.” “Sekar Mirah,” jawab Alap-Alap Jalatunda, “kalau aku dapat datang kemari tanpa diketahui oleh seorang pun, maka pasti …

Baca lebih lanjut

Buku 028 (Seri I Jilid 28)

  Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. “Jangan Mirah. Kau akan kepanasan. Sebaiknya kita duduk sebentar di gardu itu. Aku dapat mengurus apa yang harus kita lakukan. Aku akan mencari Kakang Untara.” “Tidak perlu, Kakang. Kita tamu di sini. Kita tidak perlu mencari orang untuk mempersilahkan kita. Kalau kita tetap di sini dan tetap tidak seorang …

Baca lebih lanjut

Buku 029 (Seri I Jilid 29)

  Ki Tambak Wedi perlahan-lahan memalingkan wajahnya. Dipandanginya muridnya yang berdiri tegang di sampingnya. “Benarkah begitu Sidanti?” tiba-tiba Ki Tambak Wedi bertanya. Sidanti menjadi heran mendengar pertanyaan itu, maka ia pun bertanya pula, “Apakah maksud Kiai?” “Apakah benar bahwa perlakuan prajurit-prajurit Pajang sangat menyakitkan hati?” “Apakah Guru tidak merasakan betapa kita harus mengalami penghinaan ini?” …

Baca lebih lanjut

Buku 030 (Seri I Jilid 30)

  Ketika Sumangkar menghentakkan tangkai parang  itu, maka yang  kemudian berada didalam genggamannya hanyalah tinggal tangkainya saja. Ternyata parang itu patah. Kekuatan Sumangkar dan jepitan batang kayu yang ditebasnya ternyata melampaui kekuatan parang pembelah kayu itu. “Ah,” sekali terdengar Sekar Mirah berdesah. “Patah ngger ,” Sumangkar berkata lirih, “aku tidak sengaja mematahkannya.” Sekar Mirah masih …

Baca lebih lanjut

Buku 031 (Seri I Jilid 31)

  Sidanti masih saja diam mematung. Dengan tanpa memandanginya Pandan Wangi mengulangi, “Marilah Kakang. Bilikmu telah tersedia. Aku juga telah menyediakan pakaian dan perlengkapan lainnya di dalam gledeg. Aku juga telah menyediakan pakaian untuk gurumu, Ki Tambak Wedi.” Sidanti menganggukkan kepalanya. Tetapi terasa betapa canggungnya menghadapi adiknya. Ia masih saja terpengaruh oleh perbuatannya di rumah …

Baca lebih lanjut

Buku 034 (Seri I Jilid 34)

  Pandan Wangi masih belum menyahut. Tetapi ia mendengar seorang yang lain berkata, “Lihat, ia membawa sepasang pedang di lambungnya.” Orang yang berdiri di paling depan, yang berwajah mengerikan dengan kumis dan jambang yang tumbuh bagaikan rumput liar di musim hujan itu tertawa. “Ya, ya. Ia membawa sepasang pedang di lambungnya seperti seekor ayam betina …

Baca lebih lanjut