Tag Archives: Ki Demang Sangkal Putung

Buku 068 (Seri I Jilid 68)

  Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Sekilas ia memandang Ki Sumangkar. Dan jawabnya kemudian, “Tidak banyak. Hanya sekedar hadiah untuk bakal menantunya.” “O, jadi Ki Demang Sangkal Putung akan pergi ke bakal menantunya di Menoreh?” “Ya.” Penjual itu tertawa. Katanya, “Kenapa kau membuat dirimu sendiri bingung, dengan cerita bahwa kau akan pergi ke Mataram? Mungkin kau …

Baca lebih lanjut

Buku 069 (Seri I Jilid 69)

  “Aku kira, jika ada prajurit-prajurit peronda sampai ke daerah ini, maka tentu ada gardu-gardu dan tempat-tempat pengawas yang menjadi tempat peristirahatan dan pusat-pusat perondaan.” “Mungkin demikian,” Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk. “Jika demikian, kita dapat menempuh jalan yang semula akan kita lalui. Bukan jalan ini,” berkata Agung Sedayu kemudian. Tiba-tiba Swandaru mengerutkan keningnya. Sambil berpaling …

Baca lebih lanjut

Buku 070 (Seri I Jilid 70)

  Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sekali dua kali ayahnya sudah harus menolak lamaran yang datang dari orang-orang penting di Menoreh, bahkan dari daerah tetangga. Agaknya ayahnya pun masih juga menunggu karena ia sudah pernah membicarakannya dengan Kiai Gringsing, apalagi Ki Argapati mengetahui bahwa agaknya anaknya telah bersetuju di dalam hati. Perlahan-lahan Pandan Wangi itu …

Baca lebih lanjut

Buku 073 (Seri I Jilid 73)

  Namun ketika para peronda itu berusaha menghentikan iring-iringan kuda itu, maka mereka pun berloncatan minggir, karena mereka mendengar suara Pandan Wangi yang berkuda di paling depan, “Aku. Akulah yang akan lewat. Pandan Wangi.” Seseorang sempat bertanya keras-keras, “Malam-malam begini?” “Aku dari hutan perburuan,” sahut Pandan Wangi sambil berderap menjauh. Para peronda itu menarik nafas …

Baca lebih lanjut

Buku 074 (Seri I Jilid 74)

  “Tetapi tentu lawan sudah sangat lemah, dan kita tinggal menghancurkan mereka seperti memijat buah ranti.” “Kau benar. Namun segala jalan akan kita tempuh. Kau harus berusaha dapat menghadap Ki Gede Pemanahan atau orang yang dipercaya, yang dapat diyakini akan menyampaikan kabar itu kepada Ki Gede.” “Ya. Kami akan berusaha.” “Nah, berangkatlah. Saat ini Sutawijaya …

Baca lebih lanjut

Buku 075 (Seri I Jilid 75)

  Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi. Dalam pada itu, Putut Nantang Pati duduk di atas sebuah batu sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Tubuhnya menjadi gemetar oleh getaran yang serasa menyesakkan dadanya. Di sekitarnya beberapa orang pengawalnya berjaga-jaga dengan senjata telanjang untuk melindunginya selama ia mengerahkan kemampuannya, permulaan dari ilmu yang …

Baca lebih lanjut

Buku 076 (Seri I Jilid 76)

  Dengan demikian maka bersama di dalam satu kelompok dengan Ki Lurah Branjangan, Raden Sutawijaya berusaha untuk menahan Daksina. Meskipun Raden Sutawijaya sadar, bahwa Daksina memiliki kemampuan yang lebih baik daripada dirinya sendiri, tetapi seperti yang pernah di lakukan, Raden Sutawijaya tidak berdiri sendiri. Di pihak yang lain, senapati pangapit Panembahan Alit tertahan oleh Ki …

Baca lebih lanjut

Buku 078 (Seri I Jilid 78)

  Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah menduga sebelumnya. Meskipun demikian, pengakuan Raden Sutawijaya itu telah menggetarkan dadanya. Hubungan antara Raden Sutawijaya dengan seorang gadis yang dikehendaki oleh Sultan Pajang, tentu akan menimbulkan persoalan yang sangat rumit, justru pada saat Mataram sedang tumbuh dan berkembang menjadi suatu negeri yang ramai. “Paman,” berkata …

Baca lebih lanjut

Buku 080 (Seri I Jilid 80)

  “Nah, jika kau meragukan kebenarannya, kau dapat menemui utusan itu. Ia masih hidup sampai sekarang. Orang itu tentu akan dapat mengatakan bahwa ia ditugaskan langsung oleh Kanjeng Sultan atas dasar laporan petugas sandi. Jika kau masih belum yakin, ajaklah orang itu menghadap Kanjeng Sultan, agar kau tahu pasti bahwa perintah itu datang dari Kanjeng …

Baca lebih lanjut

Buku 081 (Seri I Jilid 81)

  Kiai Gringsing memandang Ki Sumangkar sejenak. Seolah-olah ia minta pertimbangannya. Tetapi Ki Sumangkar tidak memberikan tanggapan apapun juga. Bahkan orang tua itu sedang menundukkan kepalanya sambil merenungi persoalan yang sedang berlaku itu. Ki Demang Sangkal Putung sama sekali tidak dapat memberikan kesan yang dapat dipertimbangkan. Bahkan ia sendiri bingung menghadapi keadaan itu. Sehingga karena …

Baca lebih lanjut