Tag Archives: Ki Jayaraga

Buku 174 (Seri II Jilid 74)

  Tetapi lawannya adalah orang-orang yang berpengalaman. Karena itu, maka pada saat-saat tertentu, mereka pun berhasil mengambil sikap. Bahkan tiba-tiba ketika pisau-pisau meluncur ke arah tiga ujud yang dilontarkan oleh kedua bajak laut itu, terdengar desis perlahan. Sebuah pisau berhasil menyusup ilmu kebal Agung Sedayu dan mengenai sekaligus mengoyak lengannya. Ketegangan pun menjadi semakin memuncak. …

Baca lebih lanjut

Buku 175 (Seri II Jilid 75)

  “Meskipun mungkin orang itu juga tidak terkena sirepku, tetapi di malam hari, ia juga akan tidur sebagaimana kebiasaan seseorang. Dalam keadaan tidur, maka sirep itu akan mencekiknya semakin dalam sehingga tidak seorangpun akan dapat melawan. Para peronda adalah anak-anak muda yang akan segera kehilangan kesadarannya.” Demikianlah, maka orang bertubuh kecil dan berjalan terbongkok-bongkok itu …

Baca lebih lanjut

Buku 176 (Seri II Jilid 76)

  Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun Sekar Mirah-lah yang menyahut, “Pangeran Benawa menghadapi musuhnya sendiri. Ada tiga orang bajak laut waktu itu.” Swandaru memandang adiknya sekilas. Namun ia hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Agung Sedayu sendiri saat itu mengangguk-angguk sambil bergumam, “Bajak laut itu memiliki kemampuan yang nggegirisi. Aku memang mengalami kesulitan melawannya. Untunglah, …

Baca lebih lanjut

Buku 177 (Seri II Jilid 77)

  Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Aku pun melakukan seperti yang kau lakukan. Aku ternyata makan lebih banyak dan saat-saat aku belum mengalami luka yang parah ini. Dengan demikian, seperti yang kau harapkan, pertama-tama wadagku harus pulih lebih dahulu.” “Karena itu Ki Waskita, aku ingin mohon diri kepada Ki Gede untuk kembali ke rumahku yang sudah …

Baca lebih lanjut

Buku 178 (Seri II Jilid 78)

  Tidak seorangpun yang menyahut. Semuanya terdiam dengan ketegangan yang menghimpit dada. Dalam pada itu, maka terdengar suara Ki Saudagar, “Nah, marilah. Aku minta orang yang telah membunuh guruku untuk maju beberapa langkah.” “Aku yang membunuh gurumu,” geram Swandaru. Tetapi Ki Saudagar itu tertawa. Katanya, “Jangan mengigau. Guruku akan mampu memecahkan kepalamu dengan ujung jarinya. …

Baca lebih lanjut

Buku 179 (Seri II Jilid 79)

  Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian minta diri kepada anak-anak muda itu. Pekerjaan mereka di bendungan Itu sudah hampir selesai, sehingga kepergiannya sama sekali tidak akan mengganggu. Meskipun demikian, Agung Sedayu itu berkata juga kepada Prastawa yang ada di bendungan itu pula, “Terserahlah kepadamu. Aku akan pergi menemui Guru yang datang kemari.” “Pergilah,” …

Baca lebih lanjut

Buku 182 (Seri II Jilid 82)

  Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Aku percaya kepada kesungguhan Kiai. Karena itu, aku tidak berkeberatan, jika Kiai bersedia untuk tinggal di rumah ini. Di sini Kiai akan dapat berbicara dengan beberapa orang tetua Tanah Perdikan dan beberapa orang tamuku yang lain, di antaranya adalah seorang yang bernama Kiai Jayaraga.” “Kiai Jayaraga?” jawab Kiai Bagaswara menegang, …

Baca lebih lanjut

Buku 183 (Seri II Jilid 83)

  Warak Ireng mengerutkan keningnya. Dengan sorot mata yang bagaikan menyala ia bertanya, “He, apakah kau bermimpi atau mengigau?” Glagah Putih bergeser mendekat. Tetapi ia tetap berhati-hati menghadapi orang yang besar itu. Setiap saat orang itu akan dapat berbuat sesuatu di luar dugaannya. “Siapa kau?” tiba-tiba saja Glagah Putih bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan Warak Ireng. …

Baca lebih lanjut

Buku 184 (Seri II Jilid 84)

  Keduanya telah saling mendorong dengan kekuatan yang sangat besar, sehingga kaki-kaki mereka telah semakin membenam ke dalam tanah. Asap pun telah mengepul dan wajah-wajah mereka telah menjadi semakin pucat. Titik-titik keringat yang mengembun di kening dan dahi mulai mengalir dan membasahi wajah-wajah mereka. Bahkan kemudian di seluruh tubuh mereka telah mengembun keringat yang kemudian …

Baca lebih lanjut

Buku 185 (Seri II Jilid 85)

  Anak muda itu tertawa. Katanya, “Kau memang sangat menarik. Ayolah. Berlatihlah. Kita tidak usah merasa segan. Kau tidak tahu namaku, dan aku tidak bertanya siapa namamu.” Tetapi Glagah Putih tetap menggeleng. Katanya, “Tidak mau. Aku tidak akan meneruskan latihan. Aku akan pulang. Sebelumnya aku masih harus membuka pliridan.” “Waktunya masih lama,” jawab anak muda …

Baca lebih lanjut