Tag Archives: Ki Juru Martani / Ki Patih Mandaraka

Buku 073 (Seri I Jilid 73)

  Namun ketika para peronda itu berusaha menghentikan iring-iringan kuda itu, maka mereka pun berloncatan minggir, karena mereka mendengar suara Pandan Wangi yang berkuda di paling depan, “Aku. Akulah yang akan lewat. Pandan Wangi.” Seseorang sempat bertanya keras-keras, “Malam-malam begini?” “Aku dari hutan perburuan,” sahut Pandan Wangi sambil berderap menjauh. Para peronda itu menarik nafas …

Baca lebih lanjut

Buku 080 (Seri I Jilid 80)

  “Nah, jika kau meragukan kebenarannya, kau dapat menemui utusan itu. Ia masih hidup sampai sekarang. Orang itu tentu akan dapat mengatakan bahwa ia ditugaskan langsung oleh Kanjeng Sultan atas dasar laporan petugas sandi. Jika kau masih belum yakin, ajaklah orang itu menghadap Kanjeng Sultan, agar kau tahu pasti bahwa perintah itu datang dari Kanjeng …

Baca lebih lanjut

Buku 081 (Seri I Jilid 81)

  Kiai Gringsing memandang Ki Sumangkar sejenak. Seolah-olah ia minta pertimbangannya. Tetapi Ki Sumangkar tidak memberikan tanggapan apapun juga. Bahkan orang tua itu sedang menundukkan kepalanya sambil merenungi persoalan yang sedang berlaku itu. Ki Demang Sangkal Putung sama sekali tidak dapat memberikan kesan yang dapat dipertimbangkan. Bahkan ia sendiri bingung menghadapi keadaan itu. Sehingga karena …

Baca lebih lanjut

Buku 082 (Seri I Jilid 82)

  Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Tetapi terasa sebuah getaran yang aneh telah mengguncangkan dinding jantungnya. Ki Waskita-lah yang kemudian berkata, “Tetapi semuanya itu masih harus dijelaskan. Dan agaknya Kiai Gringsing akan dapat menjelaskannya.” Kiai Gringsing memandang Ki Waskita sejenak. Kemudian ia pun justru bertanya, “Ki Waskita, apakah aku harus mulai dengan Empu Windujati sebelum …

Baca lebih lanjut

Buku 083 (Seri I Jilid 83)

  Ki Waskita tidak menyahut. “Memang terlalu sekali. Mereka sama sekali tidak menghormati perjalananku untuk menyampaikan kabar wafatnya Ki Gede Pemanahan. Setiap orang berhak membenci aku, dan bahkan berusaha untuk mencelakai aku sekalipun. Tetapi tidak dalam keadaan seperti sekarang ini.” “Ki Juru,” berkata Ki Waskita, ”tetapi agaknya hal itu akan terjadi di hadapan kita sekarang …

Baca lebih lanjut

Buku 084 (Seri I Jilid 84)

  “Gila!” Sorohpati menggeram. Kemudian katanya di dalam hati, “Sesudah Kanjeng Kiai Pleret, kini Kanjeng Kiai Mendung. Apakah artinya ini semua? Apakah sebenarnya Kanjeng Sultan di Pajang sudah mengetahui bahwa kekuasaan Pajang akan berpindah ke Mataram?” Sejenak Sorohpati berdiam diri. Kemudian seperti orang terbangun dari mimpinya, ia melihat dua orang lewat beberapa langkah di hadapannya. …

Baca lebih lanjut

Buku 085 (Seri I Jilid 85)

  Terbayang sebuah ngarai yang luas berbatasan gunung-gunung padas yang ditumbuhi batang-batang perdu. Di kaki pegunungan itu terbentang sebuah hutan yag besar, panjang dan lebat. Tetapi Nyai Demang menggelengkan kepalanya. Katanya kepada diri sendiri, “Tentu gambaranku keliru. Bukit-bukit itu panjang membujur ke utara. Ah entahlah.” Sekilas terbayang gunung Merapi yang megah, berjajar dengan gunung Merbabu, …

Baca lebih lanjut

Buku 087 (Seri I Jilid 87)

  Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing pun sadar, bahwa ia dan kedua kawannya itu pun telah terlibat terlampau jauh seperti saat ia terlibat dalam perang yang terjadi di Sangkal Putung. “Saat itu aku memang memilih Pajang,” bertata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “tetapi Pajang tidak memberikan harapan apa pun juga kepada bumi ini di …

Baca lebih lanjut

Buku 099 (Seri I Jilid 99)

  Para prajurit dari Pajang itu masih tetap tegang. Namun pemimpinnya kemudian berkata, “Marilah, kami akan mengawasi perjalanan kalian karena kalian berada di dalam wilayah kekuasaan Pajang.” Terdengar seorang pengawal menggeretakkan giginya. Tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Para pengawal itu pun kemudian meneruskan perjalanan mereka. Di belakang mereka sekelompok prajurit Pajang mengikutinya pada jarak …

Baca lebih lanjut

Buku 102 (Seri II Jilid 2)

  Orang-orang yang membuat lingkaran di sekitar arena itu termangu-mangu sejenak. Mereka bagaikan dicengkam oleh peristiwa yang hampir di luar nalar. Ledakan cambuk Swandaru telah mengenai punggung harimau yang menerkamnya dan karah-karah besi baja dan kepingan-kepingan baja yang melingkar di antaranya ternyata telah berhasil menyobek kulit harimau itu, sehingga luka yang panjang telah menganga di …

Baca lebih lanjut