Tag Archives: Ki Patih Mandaraka

Buku 198 (Seri II Jilid 98)

Namun dalam pada itu, Raden Rangga yang ingin melihat kebakaran yang lebih besar lagi, telah memusatkan nalar budinya pula. Dari dalam dirinya pun telah memancar udara panas yang menghembus ke arah banjar yang terbakar. Bahkan beberapa orang tiba-tiba saja telah merasa dipanggang di atas api. Namun kemudian telah berhembus pula angin yang sejuk dan meluncurkan …

Baca lebih lanjut

Buku 200 (Seri II Jilid 100)

Glagah Putih tidak dapat berbuat sesuatu jika Raden Rangga memang ingin melakukannya. Tetapi ia masih mencoba memperingatkannya, “Apakah Raden lupa kepada pesan Ayahanda?” Kedua anak muda itu tidak sempat berbicara lebih lama lagi. Keempat orang itu telah melangkah mendekati seperti seseorang yang sedang merunduk kelinci. Suara tertawa Raden Rangga-lah yang meledak. Katanya, “Kenapa kalian merangkak …

Baca lebih lanjut

Buku 203 (Seri III Jilid 3)

Tetapi kedua orang prajurit itu tidak berpaling ke arah mereka. Bahkan nampaknya keduanya sedang membicarakan sesuatu yang lucu, sehingga keduanya tertawa tertahan. “Kita lihat, kemana keduanya pergi,“ berkata pemimpin kelompok itu. Kawannya mengangguk. Sehingga sejenak kemudian, di bawah bayangan rumpun-rumpun pohon bunga, kedua orang itu telah mengikuti arah kedua orang prajurit yang sedang meronda itu. Namun …

Baca lebih lanjut

Buku 204 (Seri III Jilid 4)

Ketika mereka keluar dari ujung lorong, maka Agung Sedayu mendahului para peronda, “Kami akan mengajari kuda Glagah Putih menjelajahi daerah ini di malam hari.“ Para peronda itu tertawa. Namun kemudian mereka menjadi bertanya-tanya juga. Sikap Agung Sedayu dan Glagah Putih agak lain. “Tampaknya mereka tergesa-gesa,“ berkata salah seorang peronda. “Mungkin,“ jawab seorang yang lain, “tetapi …

Baca lebih lanjut

Buku 205 (Seri III Jilid 5)

Ternyata Glagah Putih tidak sempat menjawab. Orang yang marah itu pun telah meloncat dan menyerangnya. Ia benar-benar ingin segera membunuh Glagah Putih, agar iapun dengan cepat membunuh putra Panembahan Senapati itu pula. Menurut perhitungannya maka anak itu tidak akan memiliki kemampuan setinggi anak Panembahan Senapati, yang tidak segera dapat dikalahkan oleh saudara seperguruannya. Glagah Putih …

Baca lebih lanjut

Buku 206 (Seri III Jilid 6)

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia percaya kepada kata-kata Raden Rangga itu. Namun iapun mengerti, bahwa Raden Rangga sebenarnya dapat mengurangi tenaga yang dipergunakan untuk melontarkan batu itu. Tetapi seperti biasanya, anak itu tidak sempat memperhitungkannya. Sementara itu, kuda Raden Rangga menjadi semakin lambat. Dengan dahi yang berkerut Raden Rangga berkata, “Ternyata dugaanmu benar. Orang …

Baca lebih lanjut

Buku 220 (Seri III Jilid 20)

Meskipun demikian Kiai Gringsing juga tidak mau menempuh jalan pegunungan yang rumit, karena dengan demikian maka perjalanan mereka akan menjadi terlalu lama. Namun iring-iringan itu tidak dapat berjalan terus semalam suntuk. Bagaimanapun juga para prajurit itu memerlukan waktu untuk beristirahat. Karena itu menjelang tengah malam, Kiai Gringsing yang tanggap akan keadaan para prajurit itu pun …

Baca lebih lanjut

Buku 221 (Seri III Jilid 21)

“Raden,“ Glagah Putih masih berusaha untuk mempersilahkan Raden Rangga untuk berbaring, “lebih baik Raden tetap berbaring.“ “Kenapa?“ bertanya Raden Rangga, “Aku tidak akan bertambah baik jika aku tetap berbaring, dan tidak akan menambah keadaanku semakin buruk jika aku bangkit dan duduk barang sejenak.“ Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memang tidak dapat memaksa Raden …

Baca lebih lanjut

Buku 223 (Seri III Jilid 23)

Demikianlah, maka serangan yang satu telah disusul dengan serangan berikutnya. Bahkan kadang-kadang datang beruntun dengan cepatnya. Glagah Putih berloncatan menghindari setiap serangan. Namun pada satu saat ia memang tidak dapat menghindar lagi. Serangan itu menyusul demikian cepatnya, sekejap setelah ia menghindari serangan sebelumnya. Karena itu, maka Glagah Putih harus menangkis serangan lawannya yang tubuhnya menjadi …

Baca lebih lanjut

Buku 241 (Seri III Jilid 41)

“Para petugas di dalam istana,“ jawab prajurit itu. “Jika tidak ada yang lewat?“ desak Agung Sedayu. “Nasibmu-lah yang buruk. Kau harus datang lagi besok pagi,“ jawab prajurit itu. “Baiklah. Kami akan menunggu. Tetapi jika Panembahan Senapati menjadi marah karena kami terlambat, serta barangkali dengan demikian sekelompok orang telah menjadi korban, maka itulah tanggung jawabmu. Panembahan …

Baca lebih lanjut