Tag Archives: Ki Saba Lintang

Buku 307 (Seri IV Jilid 7)

Orang-orang yang menyerang padepokan itu mulai merasa tertekan. Senjata mereka yang beraneka itu sama sekali tidak menggetarkan lawan-lawan mereka yang lebih banyak mempergunakan senjata yang banyak dipakai. Sebagian besar di antara mereka mempergunakan senjata pedang dan tombak pendek, tetapi ada juga prajurit dari Pasukan Khusus yang mempergunakan senjata yang lain. Seorang prajurit yang bertubuh raksasa …

Baca lebih lanjut

Buku 308 (Seri IV Jilid 8)

Sekar Mirah tidak segera menjawab. Tetapi Ki Saba Lintang itu justru menyerahkan tongkat itu sambil berkata, “Lihatlah, Nyi Lurah. Dengan memegang langsung tongkat ini, Nyi Lurah akan merasakan getaran keaslian tongkat itu. Sengaja atau tidak sengaja.” Seakan-akan di luar sadarnya, Sekar Mirah telah menerima tongkat itu. Diamatinya tongkat itu dari pangkal sampai ke ujungnya. Memang …

Baca lebih lanjut

Buku 309 (Seri IV Jilid 9)

Sementara itu Sekar Mirah pun berkata, “Rara. Bukankah bukan kita, dan bukan pula Nyi Dwani, yang menentukan kapan aku akan terbujur diam tanpa menyapamu lagi? Kenapa kita harus menjadi gelisah?” Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling memandangi wajah Agung Sedayu dan Ki Jayaraga, yang dilihatnya justru keduanya tersenyum-senyum saja. Tetapi Glagah Putih tidak tersenyum …

Baca lebih lanjut

Buku 313 (Seri IV Jilid 13)

Nyi Dwani tidak bertanya lagi. Ia mencemaskan dirinya sendiri. Jika jantungnya meledak, maka ia tidak akan dapat mengendalikan dirinya sendiri, sehingga dengan demikian rencananya justru akan gagal. Ketika kemudian Nyi Dwani masuk ke ruang dalam bersama Empu Wisanata, maka dilihatnya dua orang yang duduk terkantuk-kantuk. Tetapi ketika pintu berderit, maka keduanya terkejut. Keduanya segera bangkit …

Baca lebih lanjut

Buku 315 (Seri IV Jilid 15)

“Jika demikian, Ki Gede Menoreh memang harus menjadi sangat berhati-hati,” berkata Ki Patih, “Menoreh harus benar-benar bersiap menghadapi kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Ki Lurah pun harus menyiapkan prajurit dari Pasukan Khusus. Mungkin pasukan itu dengan tiba-tiba saja harus dipergunakan.” “Ya, Ki Patih. Kami di Tanah Perdikan Menoreh akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dari pembicaraan kami …

Baca lebih lanjut

Buku 316 (Seri IV Jilid 16)

“Aku sependapat,” sahut Ki Gede. Namun katanya kemudian, “Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika kita memperhitungkan berbagai macam kemungkinan.” “Ya, Kakang. Menurut pendapatku, para petugas sandi kita akan mengamati persiapan Ki Saba Lintang lebih cermat lagi, meskipun kita tidak akan tunduk kepada ketentuannya” “Ya. Aku minta Angger Glagah Putih nanti menyampaikannya kepada Ki Lurah.” “Baik, …

Baca lebih lanjut

Buku 317 (Seri IV Jilid 17)

Namun ketiga orang yang terhitung pendek itu mampu bergerak dengan cepat pula. Bahkan beberapa saat kemudian ketiganya telah menggenggam senjata mereka masing-masing. Semacam tongkat baja yang di ujungnya terdapat sebuah bulatan sebesar kepalan tangannya, yang semula terselip di punggung mereka. Benturan-benturan yang kemudian terjadi, membuat Glagah Putih menjadi semakin berhati-hati. Ketiga orang itu ternyata memiliki …

Baca lebih lanjut

Buku 318 (Seri IV Jilid 18)

Agung Sedayu menggeleng sambil menjawab, “Belum Ki sanak. Baru sekarang aku mendengar namamu.” “Ternyata namamu lebih semarak dari namaku, Ki Lurah. Aku sudah mendengar nama kebanggaan prajurit Mataram dari Pasukan Khusus yang ada di Tanah Perdikan ini. Juga nama kebanggaan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh.” “Terima kasih atas pujianmu itu, Ki Sanak.” “Tetapi sayang bahwa aku …

Baca lebih lanjut

Buku 321 (Seri IV Jilid 21)

Sementara itu, Agung Sedayu pun telah bertanya kepada Sabungsari, apakah ia akan kembali ke Jati Anom atau untuk sementara masih akan berada di Tanah Perdikan Menoreh. Sabungsari nampak menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia pun berkata, “Ki Lurah. Aku akan singgah di Mataram.” “Bagus,” sahut Agung Sedayu, “aku hampir menanyakannya.” “Aku mohon Ki Lurah menyampaikannya kepada …

Baca lebih lanjut

Buku 323 (Seri IV Jilid 23)

Lawannya itu pun mulai menjadi gelisah. Kekalahan saudara seperguruannya bukan karena kelengahan atau karena saudara seperguruannya itu meremehkan lawannya. Tetapi ilmu perempuan itu memang lebih tinggi dari ilmu yang dimiliki oleh saudara seperguruannya. Karena itu, maka saudara seperguruan Kebo Remeng yang bertempur melawan Sekar Mirah itu menjadi sangat berhati-hati. Ia tidak mau mengalami nasib yang …

Baca lebih lanjut