Tag Archives: Ki Tambak Wedi / Paguhan

Buku 023 (Seri I Jilid 23)

  Maka katanya kemudian, “Alap-Alap Jalatunda, aku tidak dapat mengerti maksud kata-katamu. Bukankah dengan demikian persoalan kita akan menjadi berkepanjangan? Kau harus berbuat sesuatu supaya kita untuk seterusnya tidak terganggu lagi. Baik oleh Sidanti maupun oleh orang-orang lain.” “Sekar Mirah,” jawab Alap-Alap Jalatunda, “kalau aku dapat datang kemari tanpa diketahui oleh seorang pun, maka pasti …

Baca lebih lanjut

Buku 024 (Seri I Jilid 24)

  Wuranta sendiri tidak dapat mengerti apa yang terjadi dalam dirinya. Ia sama sekali tidak berkeberatan, apa pun yang akan terjadi dengan Sekar Mirah setelah ia diselamatkan dan berada di tangan keluarganya kembali. Tak ada hubungan apa pun antara dirinya dengan gadis itu, selain peranan yang harus dilakukannya. Namun, ketika peranannya hampir selesai, terasa kenapa …

Baca lebih lanjut

Buku 028 (Seri I Jilid 28)

  Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. “Jangan Mirah. Kau akan kepanasan. Sebaiknya kita duduk sebentar di gardu itu. Aku dapat mengurus apa yang harus kita lakukan. Aku akan mencari Kakang Untara.” “Tidak perlu, Kakang. Kita tamu di sini. Kita tidak perlu mencari orang untuk mempersilahkan kita. Kalau kita tetap di sini dan tetap tidak seorang …

Baca lebih lanjut

Buku 029 (Seri I Jilid 29)

  Ki Tambak Wedi perlahan-lahan memalingkan wajahnya. Dipandanginya muridnya yang berdiri tegang di sampingnya. “Benarkah begitu Sidanti?” tiba-tiba Ki Tambak Wedi bertanya. Sidanti menjadi heran mendengar pertanyaan itu, maka ia pun bertanya pula, “Apakah maksud Kiai?” “Apakah benar bahwa perlakuan prajurit-prajurit Pajang sangat menyakitkan hati?” “Apakah Guru tidak merasakan betapa kita harus mengalami penghinaan ini?” …

Baca lebih lanjut

Buku 030 (Seri I Jilid 30)

  Ketika Sumangkar menghentakkan tangkai parang  itu, maka yang  kemudian berada didalam genggamannya hanyalah tinggal tangkainya saja. Ternyata parang itu patah. Kekuatan Sumangkar dan jepitan batang kayu yang ditebasnya ternyata melampaui kekuatan parang pembelah kayu itu. “Ah,” sekali terdengar Sekar Mirah berdesah. “Patah ngger ,” Sumangkar berkata lirih, “aku tidak sengaja mematahkannya.” Sekar Mirah masih …

Baca lebih lanjut

Buku 031 (Seri I Jilid 31)

  Sidanti masih saja diam mematung. Dengan tanpa memandanginya Pandan Wangi mengulangi, “Marilah Kakang. Bilikmu telah tersedia. Aku juga telah menyediakan pakaian dan perlengkapan lainnya di dalam gledeg. Aku juga telah menyediakan pakaian untuk gurumu, Ki Tambak Wedi.” Sidanti menganggukkan kepalanya. Tetapi terasa betapa canggungnya menghadapi adiknya. Ia masih saja terpengaruh oleh perbuatannya di rumah …

Baca lebih lanjut

Buku 032 (Seri I Jilid 32)

  Mendengar jawaban ayahnya, dan sikapnya yang lunak, Pandan Wangi menjadi lebih berani. “Ayah,” suara Pandan Wangi agak bergetar. Sejenak ia menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian diberanikannya bertanya, “Ayah, kenapa Ayah tidak sependapat dengan Ki Tambak Wedi untuk melindungi Kakang Sidanti?” “Aku tidak berkeberatan Wangi,” sahut ayahnya, “Tetapi bukankah Ayah menolak?” Argapati menarik nafas dalam-dalam. Ia …

Baca lebih lanjut

Buku 033 (Seri I Jilid 33)

  Dada kedua laki-laki itu berdesis tajam. Sejenak mereka merasa terjebak dalam suatu keputusan yang tidak mereka kehendaki sehingga hati mereka melonjak. Tetapi ketika terpandang oleh mereka tubuh Rara Wulan yang terbujur di tanah itu, maka mereka, menjadi ragu-ragu. Karena itu mereka masih berdiri saja tanpa bergeser setapak pun. Perempuan tua itu terdiam sejenak. Namun …

Baca lebih lanjut

Buku 034 (Seri I Jilid 34)

  Pandan Wangi masih belum menyahut. Tetapi ia mendengar seorang yang lain berkata, “Lihat, ia membawa sepasang pedang di lambungnya.” Orang yang berdiri di paling depan, yang berwajah mengerikan dengan kumis dan jambang yang tumbuh bagaikan rumput liar di musim hujan itu tertawa. “Ya, ya. Ia membawa sepasang pedang di lambungnya seperti seekor ayam betina …

Baca lebih lanjut

Buku 035 (Seri I Jilid 35)

  Ki Argapati menarik nafas dalam. Tetapi tatapan matanya sama sekali tidak bergeser serambut pun. Perlahan-lahan ia berkata, “Pandan Wangi. Aku tahu, betapa sulitnya perasaanmu. Seandainya kau tidak mencemaskan nasibku besok malam, maka kau akan berkata seperti yang sudah kau ucapkan sebelum ini. Bukankah kau berusaha mencegah aku melakukan gerakan hari ini?” Sekali lagi Ki …

Baca lebih lanjut