Tag Archives: Ki Tambak Wedi

Buku 003 (Seri I Jilid 3)

    “Nah, katakan, siapa engkau?” ulang Widura. Orang itu seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan kemudian ia bertanya kepada Agung Sedayu, “Sedayu, apakah yang sedang engkau kerjakan? Apakah kau sedang melatih orang ini?” Dada Widura berdesir mendengar pertanyaan itu. Ternyata orang itu telah mengenal Agung Sedayu. Namun karena itu, segera Widura pun mengenalnya, orang itulah agaknya …

Baca lebih lanjut

Buku 004 (Seri I Jilid 4)

  Apalagi apabila mereka berhadapan. Namun agaknya Widura sama sekali tidak bersikap demikian. Karena itu, maka sekali lagi Ki Tambak Wedi itu berkata, “Widura, orang-orang seperti kau ini benar-benar merupakan mutiara-mutiara yang tersimpan dalam perbendaharaan keprajuritan Pajang. Aku ingin agar mutiara-mutiara demikian itu tidak akan hilang tertimbun oleh lumpur. Karena itu Widura, aku minta kau membantu …

Baca lebih lanjut

Buku 005 (Seri I Jilid 5)

    Kembali terdengar tepuk tangan yang gemuruh. Orang-orang yang berdiri berkeliling itu tak akan mau dikecewakan. Mereka benar-benar ingin menyaksikan pertandingan yang pasti akan menyenangkan sekali. Orang-orang itupun kemudian diam kembali ketika Widura berkata pula, “Nah, aku sangka Sidanti ingin mengulangi permainan panah seperti yang telah dilakukannya, bersama-sama Agung Sedayu.” “Ya Kakang” sahut Sidanti. …

Baca lebih lanjut

Buku 007 (Seri I Jilid 7)

    Ketegangan menjadi semakin memuncak karenanya. Masing-masing agaknya mempunyai perhitungan sendiri-sendiri. Sidantipun kemudian sudah bergerak diikuti oleh beberapa orang yang kebingungan, siap memasuki padesan di hadapannya. Tetapi terdengar Citra Gati berteriak, “Jangan berbuat hal-hal yang dapat membahayakan diri kita sendiri, dalam usaha yang sia-sia. Kalau kita pasti Untara ada di depan kita, maka biarlah …

Baca lebih lanjut

Buku 009 (Seri I Jilid 9)

    Sampai di gubug Alap-Alap Jalatunda Tohpati berhenti. Wajahnya tampak berkerut-kerut. Diangkatnya telinganya sambil bergumam lirih, “Siapa itu Paman?” Sumangkar menarik pundaknya tinggi-tinggi. Katanya, “Itulah Raden, gambaran kehidupan kita.” Tohpati menggeram. Didengarnya sekali lagi suara tertawa perempuan seperti seekor kucing tercekik. Kemudian terdengar suara Alap-Alap Jalatunda yang muda itu, “Jangan merajuk anak muda. Tinggalkan …

Baca lebih lanjut

Buku 011 (Seri I Jilid 11)

  Tenaga Agung Sedayu, Swandaru, Hudaya, Sonya dan Patra Cilik yang terlepas dari ikatan kelompok itu benar-benar menguntungkan. Dengan lincahnya mereka segera menempatkan diri mereka masing-masing. Meskipun kelompok yang diperintahkannya belum dapat segera mengikutinya, namun mereka telah mulai dengan tekanan mereka pada sisi induk pasukan. Karena pasukan Jipang bergerak maju, maka terbukalah sisi dari induk …

Baca lebih lanjut

Buku 013 (Seri I Jilid 13)

  Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa lemah. Suara itu melontar dari balik sebatang pohon yang besar. Hampir bersamaan muncullah sebuah bayangan hitam, berjalan beberapa langkah mendekati mereka. “Hem, kalian telah terbenam dalam kepentingan kalian masing-masing sehingga kalian tidak sempat memperhatikan saat-saat yang paling berbahaya dalam hidup seseorang.” Agung Sedayu tersentak. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar …

Baca lebih lanjut

Buku 015 (Seri I Jilid 15)

  Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka berdua telah terlibat dalam sebuah pekelahian yang semakin sengit. Pedang Sidanti berputar dengan cepatnya sedang senjata khususnya di tangan kiri dipergunakannya sebagai perisai, namun kadang-kadang senjata itulah yang mematuk dengan sangat berbahaya. Sebuah sentuhan dan goresan pada kulit lawan, maka akibatnya akan dapat berarti maut. Tetapi lawan Sidanti itu dapat mempergunakan …

Baca lebih lanjut

Buku 016 (Seri I Jilid 16)

  Dalam kegelisahannya, Ki Tambak Wedi itu kemudian berjalan mendekati desa Benda. Di sepanjang langkahnya, tak habis-habisnya ia mengumpat-umpat. “Akhirnya aku harus pergi juga ke desa itu. Lebih baik sejak semula aku kerjakan sendiri pekerjaan ini.” Setelah meloncati beberapa buah parit dan menyibak beberapa macam tanaman di sawah-sawah, akhirnya Ki Tambak Wedi berdiri di luar …

Baca lebih lanjut

Buku 022 (Seri I Jilid 22)

  “Aku tidak pernah mempunyai keberanian yang cukup untuk menegurnya, meskipun aku sering berpapasan dengan gadis itu.” Wuranta tertawa, ditatapnya wajah Alap-Alap yang keras dan bermata seperti mata burung alap-alap itu. Katanya, “Tuan adalah seorang anak muda yang perkasa. Semuda umur Tuan, Tuan telah memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda sebaya Tuan, bahkan yang lebih …

Baca lebih lanjut