Tag Archives: Ki Tempuyung Putih

Buku 281 (Seri III Jilid 81)

Glagah Putih pun kemudian duduk di amben bambu yang besar di ruang dalam bersama Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Diceritakannya apa yang telah dilihatnya di kebun belakang. Ditunjukannya lingkaran besi baja yang bergerigi itu kepada Agung Sedayu. Gerigi yang hampir saja mengoyak kulitnya. “Tentu tidak ada hubungannya dengan sikap Wacana,“ desis Glagah Putih. “Ya,” Agung …

Baca lebih lanjut

Buku 282 (Seri III Jilid 82)

Meskipun Prastawa tidak mengikuti apa yang terjadi atas seorang kawannya itu, namun nalurinya seakan-akan telah memperingatkannya agar ia cepat menyelesaikan lawannya. Ketika ia mendengar seseorang mengaduh kesakitan tidak jauh dari padanya, maka Prastawa telah mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan cepat ia berusaha untuk menyerang lawannya di sela-sela putaran bindinya. Ketika ujung pedangnya berdesing dekat kening lawannya, …

Baca lebih lanjut

Buku 283 (Seri III Jilid 83)

Tangan Glagah Putih memang tergetar. Tetapi dengan cepat ia sudah menguasai pedangnya sepenuhnya. Sementara itu, lawannya telah meloncat jauh surut. Meskipun goloknya masih di tangannya, namun hampir saja goloknya itu terlepas. Telapak tangannya terasa panas bagaikan tersengat api. Benturan yang terjadi itu memang terlalu keras. Untuk beberapa saat golok yang besar itu tertunduk di sisi …

Baca lebih lanjut

Buku 284 (Seri III Jilid 84)

“Ya. Kadang-kadang mereka memang berada di antara para pengawal. Tetapi di pagi hari mereka biasanya ada di rumah. Seandainya mereka ikut meronda, maka lewat tengah malam mereka pulang,“ jawab Prasanta. “Baiklah. Tunggulah sampai esok pagi. Kau akan mendengar keputusanku,“ berkata Resi Belahan. Malam itu juga Resi Belahan telah memanggil orang-orang terpenting di antara orang-orang yang …

Baca lebih lanjut

Buku 285 (Seri III Jilid 85)

“Ya Paman. Jika pertempuran telah terjadi, maka aku akan membawa pasukan terkuat di sisi barat ke selatan.” “Jangan terlambat. Kita harus memperhitungkan kemungkinan buruk bagi pasukan yang ada di sisi selatan,” berkata Ki Gede. “Aku akan menemui pemimpin pengawal di sisi barat,” berkata Prastawa kemudian. “Jangan lewat jalan di depan rumah Agung Sedayu,” pesan Ki …

Baca lebih lanjut