Tag Archives: Ki Waskita

Buku 070 (Seri I Jilid 70)

  Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sekali dua kali ayahnya sudah harus menolak lamaran yang datang dari orang-orang penting di Menoreh, bahkan dari daerah tetangga. Agaknya ayahnya pun masih juga menunggu karena ia sudah pernah membicarakannya dengan Kiai Gringsing, apalagi Ki Argapati mengetahui bahwa agaknya anaknya telah bersetuju di dalam hati. Perlahan-lahan Pandan Wangi itu …

Baca lebih lanjut

Buku 073 (Seri I Jilid 73)

  Namun ketika para peronda itu berusaha menghentikan iring-iringan kuda itu, maka mereka pun berloncatan minggir, karena mereka mendengar suara Pandan Wangi yang berkuda di paling depan, “Aku. Akulah yang akan lewat. Pandan Wangi.” Seseorang sempat bertanya keras-keras, “Malam-malam begini?” “Aku dari hutan perburuan,” sahut Pandan Wangi sambil berderap menjauh. Para peronda itu menarik nafas …

Baca lebih lanjut

Buku 074 (Seri I Jilid 74)

  “Tetapi tentu lawan sudah sangat lemah, dan kita tinggal menghancurkan mereka seperti memijat buah ranti.” “Kau benar. Namun segala jalan akan kita tempuh. Kau harus berusaha dapat menghadap Ki Gede Pemanahan atau orang yang dipercaya, yang dapat diyakini akan menyampaikan kabar itu kepada Ki Gede.” “Ya. Kami akan berusaha.” “Nah, berangkatlah. Saat ini Sutawijaya …

Baca lebih lanjut

Buku 076 (Seri I Jilid 76)

  Dengan demikian maka bersama di dalam satu kelompok dengan Ki Lurah Branjangan, Raden Sutawijaya berusaha untuk menahan Daksina. Meskipun Raden Sutawijaya sadar, bahwa Daksina memiliki kemampuan yang lebih baik daripada dirinya sendiri, tetapi seperti yang pernah di lakukan, Raden Sutawijaya tidak berdiri sendiri. Di pihak yang lain, senapati pangapit Panembahan Alit tertahan oleh Ki …

Baca lebih lanjut

Buku 077 (Seri I Jilid 77)

  Ki Waskita menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa beberapa orang pengawal Panembahan Agung itu tentu bukan orang kebanyakan. Jika mereka bersama-sama menyerangnya, maka ia akan menjadi agak bingung juga. Namun ia sudah bertekad, bahwa ia harus terlibat dalam perkelahian yang kisruh sehingga Panembahan Agung akan menjadi ragu-ragu melepaskan anak panahnya, karena dengan demikian akan dapat …

Baca lebih lanjut

Buku 081 (Seri I Jilid 81)

  Kiai Gringsing memandang Ki Sumangkar sejenak. Seolah-olah ia minta pertimbangannya. Tetapi Ki Sumangkar tidak memberikan tanggapan apapun juga. Bahkan orang tua itu sedang menundukkan kepalanya sambil merenungi persoalan yang sedang berlaku itu. Ki Demang Sangkal Putung sama sekali tidak dapat memberikan kesan yang dapat dipertimbangkan. Bahkan ia sendiri bingung menghadapi keadaan itu. Sehingga karena …

Baca lebih lanjut

Buku 082 (Seri I Jilid 82)

  Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Tetapi terasa sebuah getaran yang aneh telah mengguncangkan dinding jantungnya. Ki Waskita-lah yang kemudian berkata, “Tetapi semuanya itu masih harus dijelaskan. Dan agaknya Kiai Gringsing akan dapat menjelaskannya.” Kiai Gringsing memandang Ki Waskita sejenak. Kemudian ia pun justru bertanya, “Ki Waskita, apakah aku harus mulai dengan Empu Windujati sebelum …

Baca lebih lanjut

Buku 083 (Seri I Jilid 83)

  Ki Waskita tidak menyahut. “Memang terlalu sekali. Mereka sama sekali tidak menghormati perjalananku untuk menyampaikan kabar wafatnya Ki Gede Pemanahan. Setiap orang berhak membenci aku, dan bahkan berusaha untuk mencelakai aku sekalipun. Tetapi tidak dalam keadaan seperti sekarang ini.” “Ki Juru,” berkata Ki Waskita, ”tetapi agaknya hal itu akan terjadi di hadapan kita sekarang …

Baca lebih lanjut

Buku 084 (Seri I Jilid 84)

  “Gila!” Sorohpati menggeram. Kemudian katanya di dalam hati, “Sesudah Kanjeng Kiai Pleret, kini Kanjeng Kiai Mendung. Apakah artinya ini semua? Apakah sebenarnya Kanjeng Sultan di Pajang sudah mengetahui bahwa kekuasaan Pajang akan berpindah ke Mataram?” Sejenak Sorohpati berdiam diri. Kemudian seperti orang terbangun dari mimpinya, ia melihat dua orang lewat beberapa langkah di hadapannya. …

Baca lebih lanjut

Buku 085 (Seri I Jilid 85)

  Terbayang sebuah ngarai yang luas berbatasan gunung-gunung padas yang ditumbuhi batang-batang perdu. Di kaki pegunungan itu terbentang sebuah hutan yag besar, panjang dan lebat. Tetapi Nyai Demang menggelengkan kepalanya. Katanya kepada diri sendiri, “Tentu gambaranku keliru. Bukit-bukit itu panjang membujur ke utara. Ah entahlah.” Sekilas terbayang gunung Merapi yang megah, berjajar dengan gunung Merbabu, …

Baca lebih lanjut