Tag Archives: Ki Widura

Buku 012 (Seri I Jilid 12)

  Betapapun kebimbangan bergelora di dalam batinnya, namun akhirnya Sumangkar itu tidak juga dapat membiarkan kekalahan demi kekalahan melanda pasukan murid kakak seperguruannya. Karena itu berkali-kali terdengar ia berdesah, kemudian menggeram. Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Dan orang tua itu menjadi semakin kuat menggenggam senjatanya. Ketika ia mendengar orang-orang Pajang bersorak, seakan-akan dirinyalah yang disorakinya. …

Baca lebih lanjut

Buku 013 (Seri I Jilid 13)

  Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa lemah. Suara itu melontar dari balik sebatang pohon yang besar. Hampir bersamaan muncullah sebuah bayangan hitam, berjalan beberapa langkah mendekati mereka. “Hem, kalian telah terbenam dalam kepentingan kalian masing-masing sehingga kalian tidak sempat memperhatikan saat-saat yang paling berbahaya dalam hidup seseorang.” Agung Sedayu tersentak. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar …

Baca lebih lanjut

Buku 014 (Seri I Jilid 14)

  Dada Agung Sedayu berdesir mendengar pertanyaan itu. Baru kini disadari bahwa ia telah melanggar perintah kakaknya. Tetapi menurut pendapatnya, pertanggungan jawab atas peristiwa itu ada pada gurunya. Karena itu maka jawabnya, “Aku telah mencoba melakukan perintah itu Kakang. Tetapi guruku, Kiai Gringsing menyuruh aku kembali membawa orang ini. Kiai Gringsing sendirilah yang akan mengambil alih …

Baca lebih lanjut

Buku 015 (Seri I Jilid 15)

  Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka berdua telah terlibat dalam sebuah pekelahian yang semakin sengit. Pedang Sidanti berputar dengan cepatnya sedang senjata khususnya di tangan kiri dipergunakannya sebagai perisai, namun kadang-kadang senjata itulah yang mematuk dengan sangat berbahaya. Sebuah sentuhan dan goresan pada kulit lawan, maka akibatnya akan dapat berarti maut. Tetapi lawan Sidanti itu dapat mempergunakan …

Baca lebih lanjut

Buku 016 (Seri I Jilid 16)

  Dalam kegelisahannya, Ki Tambak Wedi itu kemudian berjalan mendekati desa Benda. Di sepanjang langkahnya, tak habis-habisnya ia mengumpat-umpat. “Akhirnya aku harus pergi juga ke desa itu. Lebih baik sejak semula aku kerjakan sendiri pekerjaan ini.” Setelah meloncati beberapa buah parit dan menyibak beberapa macam tanaman di sawah-sawah, akhirnya Ki Tambak Wedi berdiri di luar …

Baca lebih lanjut

Buku 017 (Seri I Jilid 17)

  Mereka pun kemudian memungut busur-busur mereka, menyilangkannya di punggungnya. Endong, tempat anak panah merekapun segera mereka ikat pada pinggang masing-masing. Di kiri tergantung pedang dan di kanan tergantung endong-endong itu, kecuali Sutawijaya yang bersenjatakan tombak. Ketiganya kemudian dengan hati-hati berjalan menjauhi perapian mereka. Agung Sedayu dan Swandaru telah menarik pedang-pedang mereka dari sarungnya. Kalau …

Baca lebih lanjut

Buku 020 (Seri I Jilid 20)

  Akhirnya dari tempat yang terlindung itu Kiai Gringsing melihat dua orang mendekatinya. “Benarkah kau, Kiai?” “Ya, aku datang bersama dengan Anakmas Swandaru dan Agung Sedayu.” “Oh, di mana mereka sekarang?” “Itu, di situ. Kami tidak ingin mengejutkan kalian. Kalau kalian melihat kami berempat, maka kalian akan terkejut dan mungkin berbuat sesuatu diluar perhitungan kami.” …

Baca lebih lanjut

Buku 028 (Seri I Jilid 28)

  Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. “Jangan Mirah. Kau akan kepanasan. Sebaiknya kita duduk sebentar di gardu itu. Aku dapat mengurus apa yang harus kita lakukan. Aku akan mencari Kakang Untara.” “Tidak perlu, Kakang. Kita tamu di sini. Kita tidak perlu mencari orang untuk mempersilahkan kita. Kalau kita tetap di sini dan tetap tidak seorang …

Baca lebih lanjut

Buku 029 (Seri I Jilid 29)

  Ki Tambak Wedi perlahan-lahan memalingkan wajahnya. Dipandanginya muridnya yang berdiri tegang di sampingnya. “Benarkah begitu Sidanti?” tiba-tiba Ki Tambak Wedi bertanya. Sidanti menjadi heran mendengar pertanyaan itu, maka ia pun bertanya pula, “Apakah maksud Kiai?” “Apakah benar bahwa perlakuan prajurit-prajurit Pajang sangat menyakitkan hati?” “Apakah Guru tidak merasakan betapa kita harus mengalami penghinaan ini?” …

Baca lebih lanjut

Buku 030 (Seri I Jilid 30)

  Ketika Sumangkar menghentakkan tangkai parang  itu, maka yang  kemudian berada didalam genggamannya hanyalah tinggal tangkainya saja. Ternyata parang itu patah. Kekuatan Sumangkar dan jepitan batang kayu yang ditebasnya ternyata melampaui kekuatan parang pembelah kayu itu. “Ah,” sekali terdengar Sekar Mirah berdesah. “Patah ngger ,” Sumangkar berkata lirih, “aku tidak sengaja mematahkannya.” Sekar Mirah masih …

Baca lebih lanjut