Tag Archives: Kiai Gringsing

Buku 015 (Seri I Jilid 15)

  Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka berdua telah terlibat dalam sebuah pekelahian yang semakin sengit. Pedang Sidanti berputar dengan cepatnya sedang senjata khususnya di tangan kiri dipergunakannya sebagai perisai, namun kadang-kadang senjata itulah yang mematuk dengan sangat berbahaya. Sebuah sentuhan dan goresan pada kulit lawan, maka akibatnya akan dapat berarti maut. Tetapi lawan Sidanti itu dapat mempergunakan …

Baca lebih lanjut

Buku 016 (Seri I Jilid 16)

  Dalam kegelisahannya, Ki Tambak Wedi itu kemudian berjalan mendekati desa Benda. Di sepanjang langkahnya, tak habis-habisnya ia mengumpat-umpat. “Akhirnya aku harus pergi juga ke desa itu. Lebih baik sejak semula aku kerjakan sendiri pekerjaan ini.” Setelah meloncati beberapa buah parit dan menyibak beberapa macam tanaman di sawah-sawah, akhirnya Ki Tambak Wedi berdiri di luar …

Baca lebih lanjut

Buku 019 (Seri I Jilid 19)

  Karena itu, maka kepala Argajaya terdorong ke belakang. Sentuhan tangkai tombak Sutawijaya memang tidak begitu keras, sehingga Argajaya pun tidak sampai kehilangan keseimbangan. ­Tetapi tangkai tombak Sutawijaya itu pun telah membuat luka pada pelipis Argajaya, sehingga luka itu rnoneteskan darah.     Terdengar tiba-tiba Argajaya mengumpat kasar. Dengan tiba-tiba ia menyerang kembali Sutawijaya. Namun …

Baca lebih lanjut

Buku 020 (Seri I Jilid 20)

  Akhirnya dari tempat yang terlindung itu Kiai Gringsing melihat dua orang mendekatinya. “Benarkah kau, Kiai?” “Ya, aku datang bersama dengan Anakmas Swandaru dan Agung Sedayu.” “Oh, di mana mereka sekarang?” “Itu, di situ. Kami tidak ingin mengejutkan kalian. Kalau kalian melihat kami berempat, maka kalian akan terkejut dan mungkin berbuat sesuatu diluar perhitungan kami.” …

Baca lebih lanjut

Buku 021 (Seri I Jilid 21)

  Sekali lagi Sidanti tersenyum. Betapapun dadanya bergolak karena lepasnya Agung Sedayu, namun terhadap anak muda Jati Anom ini ia ingin bersikap baik, sebagai permulaan dari hubungannya dengan anak-anak muda di kademangan ini. “Ia menjadi ketakutan, Paman. Mungkin aku dapat menolongnya.” “Apakah pedulimu atas pengecut itu?” Sidanti mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Hubungan yang baik antara …

Baca lebih lanjut

Buku 022 (Seri I Jilid 22)

  “Aku tidak pernah mempunyai keberanian yang cukup untuk menegurnya, meskipun aku sering berpapasan dengan gadis itu.” Wuranta tertawa, ditatapnya wajah Alap-Alap yang keras dan bermata seperti mata burung alap-alap itu. Katanya, “Tuan adalah seorang anak muda yang perkasa. Semuda umur Tuan, Tuan telah memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda sebaya Tuan, bahkan yang lebih …

Baca lebih lanjut

Buku 023 (Seri I Jilid 23)

  Maka katanya kemudian, “Alap-Alap Jalatunda, aku tidak dapat mengerti maksud kata-katamu. Bukankah dengan demikian persoalan kita akan menjadi berkepanjangan? Kau harus berbuat sesuatu supaya kita untuk seterusnya tidak terganggu lagi. Baik oleh Sidanti maupun oleh orang-orang lain.” “Sekar Mirah,” jawab Alap-Alap Jalatunda, “kalau aku dapat datang kemari tanpa diketahui oleh seorang pun, maka pasti …

Baca lebih lanjut

Buku 024 (Seri I Jilid 24)

  Wuranta sendiri tidak dapat mengerti apa yang terjadi dalam dirinya. Ia sama sekali tidak berkeberatan, apa pun yang akan terjadi dengan Sekar Mirah setelah ia diselamatkan dan berada di tangan keluarganya kembali. Tak ada hubungan apa pun antara dirinya dengan gadis itu, selain peranan yang harus dilakukannya. Namun, ketika peranannya hampir selesai, terasa kenapa …

Baca lebih lanjut

Buku 025 (Seri I Jilid 25)

  “Bagaimana dengan Ki Tambak Wedi?” bertanya salah seorang dari mereka. “Bukankah Kiai bertempur melawannya di sini?” “Lari” jawab Ki Tanu Metir pendek. “Orang itu benar-benar licin seperti hantu. Ia berhasil menghilang dari kepungan kami, dan kini berhasil meloloskan diri dari tangan Kiai. Bagaimana dengan Sidanti dan yang seorang lagi?” “Ketiganya dapat melepaskan diri.” “Sayang,” desis …

Baca lebih lanjut

Buku 026 (Seri I Jilid 26)

  Dalam kediaman mereka, para prajurit itu bertanya-tanya di dalam hati, kenapa tiba-tiba saja sikap anak Jati Anom itu berubah. Anak muda itu tidak lagi menepuk dada sambil menyebut namanya, dan tidak lagi berkata tentang Untara. Sama sekali tidak ada lagi bekas kesombongannya pada pengakuannya yang ikhlas itu. Bahkan sikapnya yang menyakitkan hati, bahwa seolah-olah …

Baca lebih lanjut