Tag Archives: Kiai Gringsing

Buku 027 (Seri I Jilid 27)

  Sejenak ketiga anak-anak muda itu saling berdiam diri, sehingga pringgitan itu sekali lagi menjadi sepi. Dan sekali lagi terdengar burung hantu seolah-olah merintih menggetarkan udara malam. Di halaman daun-daun yang kuning berguguran oleh sentuhan angin lereng bukit yang semakin keras. Gemerasak seperti gemerasaknya nafas Agung Sedayu dan Wuranta. Yang memecahkan keheningan itu adalah suara …

Baca lebih lanjut

Buku 028 (Seri I Jilid 28)

  Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. “Jangan Mirah. Kau akan kepanasan. Sebaiknya kita duduk sebentar di gardu itu. Aku dapat mengurus apa yang harus kita lakukan. Aku akan mencari Kakang Untara.” “Tidak perlu, Kakang. Kita tamu di sini. Kita tidak perlu mencari orang untuk mempersilahkan kita. Kalau kita tetap di sini dan tetap tidak seorang …

Baca lebih lanjut

Buku 029 (Seri I Jilid 29)

  Ki Tambak Wedi perlahan-lahan memalingkan wajahnya. Dipandanginya muridnya yang berdiri tegang di sampingnya. “Benarkah begitu Sidanti?” tiba-tiba Ki Tambak Wedi bertanya. Sidanti menjadi heran mendengar pertanyaan itu, maka ia pun bertanya pula, “Apakah maksud Kiai?” “Apakah benar bahwa perlakuan prajurit-prajurit Pajang sangat menyakitkan hati?” “Apakah Guru tidak merasakan betapa kita harus mengalami penghinaan ini?” …

Baca lebih lanjut

Buku 034 (Seri I Jilid 34)

  Pandan Wangi masih belum menyahut. Tetapi ia mendengar seorang yang lain berkata, “Lihat, ia membawa sepasang pedang di lambungnya.” Orang yang berdiri di paling depan, yang berwajah mengerikan dengan kumis dan jambang yang tumbuh bagaikan rumput liar di musim hujan itu tertawa. “Ya, ya. Ia membawa sepasang pedang di lambungnya seperti seekor ayam betina …

Baca lebih lanjut

Buku 039 (Seri I Jilid 39)

  “Aku sudah menyebarkan perintah untuk menarik semua pasukan. Dan aku juga sudah menyiapkan pasukan berkuda yang akan mengimbangi semua gerak lawan, kalau perlu dengan melakukan kekerasan dan mengorbankan beberapa buah rumah penduduk yang kelak akan kita perhitungkan.” Wrahasta mengerutkan keningnya. Terbayang di dalam angan-angannya seakan-akan sekelompok burung elang yang terbang dari satu dahan ke …

Baca lebih lanjut

Buku 040 (Seri I Jilid 40)

  Karena itu, maka timbullah niatnya untuk berkata langsung saja berterus terang. Ia harus mengatakan, bahwa ia mendapat tugas untuk menemui Ki Argapati. Bahkan ia menyesal, bahwa ia menunda-nunda untuk mengatakannya, sehingga keadaan menjadi semakin memburuk. “Cepat,” bentak Wrahasta sambil menekankan pedangnya, “ayo berjalanlah!” “Aku akan mengatakannya,” berkata Gupita. “Aku akan mengatakan keperluanku sebenarnya.” “Aku …

Baca lebih lanjut

Buku 041 (Seri I Jilid 41)

  Sementara itu, Ki Tambak Wedi masih saja sibuk mencari orang yang telah mengganggunya. Tetapi seperti hantu, orang itu menghilang tanpa meninggalkan bekas apa pun. “Pasti bukan orang kebanyakan,” desisnya. Dan tiba-tiba saja diingatnya orang yang telah mengintainya, ketika ia menunggu orang-orang berkuda itu. “Kalau orang ini yang mengintai itu, maka apakah yang dapat dilakukan …

Baca lebih lanjut

Buku 042 (Seri I Jilid 42)

  “Silahkan. Semua serba darurat.” “Demikianlah agaknya, Ki Gede. Di peperangan semuanya harus menyesuaikan diri.” Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ini adalah anakku. Karena itu, aku tidak menyuruhnya pergi. Dalam keadaan serupa ini, lebih banyak yang diketahuinya, akan lebih baik baginya dan bagi Tanah ini.” Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku kira, ia perlu …

Baca lebih lanjut

Buku 043 (Seri I Jilid 43)

  Ki Argapati yang kemudian berdiri di depan regol itu memandangi bayangan barisan lawan di dalam gelap malam. Ia tidak dapat menduga, berapa besar pasukan lawan itu. Tetapi agaknya pasukan Ki Tambak Wedi itu pun berhenti beberapa puluh langkah di depan regol. Beberapa lama mereka mengatur gelar yang akan dipergunakan dan menempatkan orang-orang terpenting pada tempat …

Baca lebih lanjut

Buku 044 (Seri I Jilid 44)

  “Carilah alat untuk mengangkat Ki Argapati,” desis orang tua itu. “Ia harus segera berada di dalam rumah. Aku harus mencuci lukanya dan memberikan obat baru lagi.” Seorang dari antara mereka yang melingkarinya segera pergi mencari sebuah ekrak bambu. Dilambari dengan jerami kering, maka Ki Argapati pun kemudian dibaringkannya di atas ekrak itu dan diangkat …

Baca lebih lanjut