Tag Archives: Nyi Citra Jati

Buku 338 (Seri IV Jilid 38)

Pemilik sawah itu pun termangu-mangu. Namun kemudian ia berdesis, “Mudah-mudahan.” Orang-orang yang pergi ke sawah itu pun kemudian meninggalkan tempat itu, kecuali pemilik sawah itu sendiri. Sedang seorang yang lain, yang ketika ditemui pemilik sawah itu sudah bersiap pergi ke sawahnya, langsung pergi ke sawahnya yang tidak terlalu jauh lagi. Namun peristiwa itu menjadi pembicaraan …

Baca lebih lanjut

Buku 339 (Seri IV Jilid 39)

Ki Wurcitra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Entahlah.” Mata Nyi Citra Jati itu pun kemudian menjadi redup. “Sudahlah. Silahkan beristirahat.” Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati pun kemudian dipersilahkan tidur di sentong sebelah kiri. Sementara Ki Wurcitra sendiri di sentong sebelah kanan. Sedangkan Glagah Putih dan Rara Wulan tidur di amben yang …

Baca lebih lanjut

Buku 340 (Seri IV Jilid 40)

Padmini dan Baruni bergeser mengambil jarak. Ketika Padmini tiba-tiba saja hampir terantuk kaki seorang pengikut Srini, maka tanpa bertanya apapun, dilepaskannya anak panahnya dari jarak yang dekat, menembus dada orang itu. Orang itu terkejut. Anak panah itu langsung menyentuh jantungnya, sehingga orang itu pun terguling jatuh di kegelapan. Kawannya yang berdiri tidak terlalu jauh, terkejut. …

Baca lebih lanjut

Buku 341 (Seri IV Jilid 41)

Ki Citra Jati beringsut setapak. Dipandanginya kedua orang yang datang bersama Pandunungan itu. Meskipun agak ragu, iapun bertanya, “Siapakah namamu, Ngger?” Kawan Pandunungan yang disebutnya murid Wirapratama itu pun dengan congkak justru bertanya, “Kau bertanya kepadaku?” Ki Citra Jati mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun menjawab, “Ya, Ngger. Aku bertanya kepadamu, dan kepada angger satu lagi, …

Baca lebih lanjut

Buku 342 (Seri IV Jilid 42)

“Tentu saja aku tidak dapat melimpahkan ilmuku hanya dengan meraba ubun-ubun kalian berdua. Karena itu, supaya hidupku berbekas, aku minta sudilah kalian berdua mempelajari ilmuku, yang mudah-mudahan dapat melengkapi ilmu kalian berdua.” “Darimanakah sumber ilmu Ki Ageng Puspakajang?” “Aku mempelajarinya dari berbagai perguruan. Meramunya dan kemudian memeras inti sarinya. Jika yang kau tanyakan apakah ilmuku …

Baca lebih lanjut

Buku 343 (Seri IV Jilid 43)

Dengan demikian, maka rasa-rasanya Ki Citra Jati dan keluarganya menjadi agak tergesa-gesa. Setelah membayar harga minuman dan makanan, maka mereka pun meninggalkan perempuan tua penjual makanan itu. Anak muda itu masih saja menyertai Ki Citra Jati sekeluarga. Namun anak muda itu pun kemudian berkata, “Sebaiknya aku memisahkan diri. Aku banyak dikenal di sini. Meskipun mereka …

Baca lebih lanjut

Buku 344 (Seri IV Jilid 44)

“Ya, Ki Demang.” “Aku ingin berbicara dengan orang yang menginap di penginapan ini, yang istri dan anaknya baru saja diculik orang.” Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Ia menjadi agak ragu-ragu untuk menjawab. Namun Ki Demang pun membentaknya, “Di bilik yang mana orang itu menginap, he?” Anak muda itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun menjawab, “Sebaiknya …

Baca lebih lanjut

Buku 345 (Seri IV Jilid 45)

Dua orang terlempar dari arena. Sementara itu orang yang didorong oleh kawannya yang berkumis lebat serta orang yang dilanggarnya, telah bersiap pula untuk menyerang. Sejenak kemudian, pertempuran pun segera menjadi sengit. Glagah Putih sendiri harus bertempur melawan lebih dari lima orang. Namun setiap kali orang-orang yang mengeroyoknya itu terpelanting dari arena, jatuh terlempar dengan kerasnya. Tetapi …

Baca lebih lanjut

Buku 346 (Seri IV Jilid 46)

Glagah Putih mengangguk-angguk. Meskipun demikian, di wajahnya nampak keragu-raguannya. Beberapa saat Glagah Putih terdiam. Namun kemudian Ki Jayaraga-lah yang berbicara, “Ki Lurah, ada baiknya di samping usaha para petugas sandi untuk mengamati keadaan, kita berusaha untuk menemukan perempuan yang mengaku bernama Nyi Lurah Agung Sedayu itu.” Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berkata, “Ki Saba …

Baca lebih lanjut

Buku 347 (Seri IV Jilid 47)

Wajah Ki Gerba Lamatan menegang, katanya, “Ternyata kau sombong sekali, Ki Widura.” “Ya. Aku memang seorang yang sombong. Kau lihat senjataku? Sebuah cambuk dan sebilah parang. Kau tentu dapat membaca pertanda itu. Bahwa aku adalah orang yang sangat sombong.” Ki Gerba Lamatan menarik nafas panjang. Katanya, “Baiklah. Kita akan bertempur. Aku tidak akan sempat berpura-pura. …

Baca lebih lanjut