Tag Archives: Nyi Dwani

Buku 308 (Seri IV Jilid 8)

Sekar Mirah tidak segera menjawab. Tetapi Ki Saba Lintang itu justru menyerahkan tongkat itu sambil berkata, “Lihatlah, Nyi Lurah. Dengan memegang langsung tongkat ini, Nyi Lurah akan merasakan getaran keaslian tongkat itu. Sengaja atau tidak sengaja.” Seakan-akan di luar sadarnya, Sekar Mirah telah menerima tongkat itu. Diamatinya tongkat itu dari pangkal sampai ke ujungnya. Memang …

Baca lebih lanjut

Buku 309 (Seri IV Jilid 9)

Sementara itu Sekar Mirah pun berkata, “Rara. Bukankah bukan kita, dan bukan pula Nyi Dwani, yang menentukan kapan aku akan terbujur diam tanpa menyapamu lagi? Kenapa kita harus menjadi gelisah?” Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling memandangi wajah Agung Sedayu dan Ki Jayaraga, yang dilihatnya justru keduanya tersenyum-senyum saja. Tetapi Glagah Putih tidak tersenyum …

Baca lebih lanjut

Buku 311 (Seri IV Jilid 11)

Namun yang diperhitungkan oleh Sekar Mirah adalah benar. Orang yang menyebut dirinya Ki Sawung Semedi itu memang datang menemuinya lagi. Sekar Mirah yang sudah membawa bekal pesan-pesan dari Agung Sedayu dan Ki Jayaraga memang menjadi semakin berhati-hati. Tetapi Sekar Mirah berusaha untuk tidak menunjukkan kecurigaannya kepada Ki Sawung Semedi. Dengan ramah Sekar Mirah menerima Ki …

Baca lebih lanjut

Buku 312 (Seri IV Jilid 12)

Namun di antara pertempuran yang sengit itu, Sekar Mirah masih sempat bertanya, “Bagaimana Nyi Dwani, apakah kau setuju? Jika kau setuju, maka kita membuat persetujuan tersendiri.” “Tetapi apakah kau berkata sebenarnya, bahwa Ki Saba Lintang telah mengambil Rara Wulan?” “Jika tidak, kami tidak akan menempuh perjalanan yang demikian jauhnya.” Nyi Dwani tidak menjawab. Tetapi diulurkannya …

Baca lebih lanjut

Buku 313 (Seri IV Jilid 13)

Nyi Dwani tidak bertanya lagi. Ia mencemaskan dirinya sendiri. Jika jantungnya meledak, maka ia tidak akan dapat mengendalikan dirinya sendiri, sehingga dengan demikian rencananya justru akan gagal. Ketika kemudian Nyi Dwani masuk ke ruang dalam bersama Empu Wisanata, maka dilihatnya dua orang yang duduk terkantuk-kantuk. Tetapi ketika pintu berderit, maka keduanya terkejut. Keduanya segera bangkit …

Baca lebih lanjut

Buku 314 (Seri IV Jilid 14)

Demikian minuman itu lewat tenggorokan, maka ia pun menjadi sedikit tenang. “Apa yang terjadi?” bertanya Empu Wisanata. “Aku telah mereka tinggalkan.” “Mereka siapa?” “Kakang Saba Lintang dan beberapa orang kawannya yang berhasil melarikan diri.” “Kenapa?” Nyi Dwani menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian meneguk minumannya lagi sambil berdesah. Ayahnya tidak mendesaknya. Ia tahu bahwa anaknya …

Baca lebih lanjut

Buku 315 (Seri IV Jilid 15)

“Jika demikian, Ki Gede Menoreh memang harus menjadi sangat berhati-hati,” berkata Ki Patih, “Menoreh harus benar-benar bersiap menghadapi kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Ki Lurah pun harus menyiapkan prajurit dari Pasukan Khusus. Mungkin pasukan itu dengan tiba-tiba saja harus dipergunakan.” “Ya, Ki Patih. Kami di Tanah Perdikan Menoreh akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dari pembicaraan kami …

Baca lebih lanjut

Buku 317 (Seri IV Jilid 17)

Namun ketiga orang yang terhitung pendek itu mampu bergerak dengan cepat pula. Bahkan beberapa saat kemudian ketiganya telah menggenggam senjata mereka masing-masing. Semacam tongkat baja yang di ujungnya terdapat sebuah bulatan sebesar kepalan tangannya, yang semula terselip di punggung mereka. Benturan-benturan yang kemudian terjadi, membuat Glagah Putih menjadi semakin berhati-hati. Ketiga orang itu ternyata memiliki …

Baca lebih lanjut

Buku 320 (Seri IV Jilid 20)

Kedatangan Ki Demang yang begitu cepat, memang tidak diduga oleh Ki Gede. Glagah Putih dan Sabungsari memang sudah melaporkan, bahwa mereka memberi waktu tiga hari bagi Ki Demang untuk memberikan jawaban. Tetapi Ki Demang itu datang begitu cepat. Ki Demang dan pengiringnya diterima dengan baik oleh Ki Gede yang kebetulan tidak bepergian. Ki Gede sendiri …

Baca lebih lanjut

Buku 324 (Seri IV Jilid 24)

Glagah Putih tertawa. Katanya, “Tidak. Tidak apa-apa.” Yang mendengarnya pun tertawa pula. Namun Glagah Putih pun kemudian minta diri untuk meninggalkan pertemuan itu, karena ia berjanji untuk bertemu dengan Prastawa. “Apakah ada sesuatu yang penting?” bertanya Agung Sedayu. “Tidak,” jawab Glagah Putih, “tetapi kami akan pergi ke padukuhan Sembung untuk menghadiri upacara pernikahan pemimpin pengawal …

Baca lebih lanjut