Tag Archives: Panembahan Cahya Warastra

Buku 243 (Seri III Jilid 43)

  “Silahkan, “ berkata Prastawa. Lalu katanya pula, “Ki Jayaraga juga ikut nganglang siang tadi. Khusus memasuki hutan di lereng bukit. Agaknya untuk memasuki tempat yang berbahaya itu diperlukan seorang yang memiliki pengalaman yang luas. Ternyata kami tidak menjumpai apapun juga di lereng bukit. Karena itu, maka nampaknya sampai saat ini tidak ada masalah yang …

Baca lebih lanjut

Buku 244 (Seri III Jilid 44)

  “Anak iblis,“ geram Putut Kaskaya yang juga terhitung masih muda. “Anak itu harus mendapat pelajaran. Ia harus menyadari, bahwa ia bukan orang terbaik di seluruh dunia. Baru kemudian ia dapat dibunuh.“ Putut Kaskaya itu pun kemudian telah menyibak medan dan berkata kepada senapati muda yang mengalami kesulitan menghadapi Glagah Putih, “Aku mendapat perintah dari …

Baca lebih lanjut

Buku 245 (Seri III Jilid 45)

  Sesaat Wreksa Gora masih berusaha untuk berdiri tegak. Namun iapun kemudian telah terhuyung-huyung dan jatuh bertelekan pada lututnya. Tetapi ia tidak mampu untuk bertahan. Karena itu, maka iapun kemudian jatuh terguling di tanah. Sesaat Agung Sedayu termangu-mangu. Sementara itu terdengar sorak para pengawal Tanah Perdikan. Satu lagi kemenangan telah direnggut oleh pasukan Tanah Perdikan …

Baca lebih lanjut

Buku 246 (Seri III Jilid 46)

  Para pengawal itu pun telah melakukan pesan Sekar Mirah dengan sebaik-baiknya, karena mereka pun menyadari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh orang itu. Sementara Sekar Mirah telah pergi ke dapur bersama beberapa orang pengawal yang dimintanya untuk membantu membenahi dapur dan alat-alat yang dipergunakan di luar dapur karena ruang dapur kurang mencukupi, serta menolong beberapa …

Baca lebih lanjut