Tag Archives: Panembahan Senapati

Buku 185 (Seri II Jilid 85)

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Kau memang sangat menarik. Ayolah. Berlatihlah. Kita tidak usah merasa segan. Kau tidak tahu namaku, dan aku tidak bertanya siapa namamu.” Tetapi Glagah Putih tetap menggeleng. Katanya, “Tidak mau. Aku tidak akan meneruskan latihan. Aku akan pulang. Sebelumnya aku masih harus membuka pliridan.” “Waktunya masih lama,” jawab anak muda itu, …

Baca lebih lanjut

Buku 186 (Seri II Jilid 86)

“Menarik sekali,” berkata Kiai Gringsing, “dengan demikian aku tidak hanya pergi seorang diri. Ada kawan berbincang di perjalanan. Karena perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh harus ditempuh dalam waktu agak panjang.” ”Bagaimana dengan Swandaru?” bertanya Widura. “Swandaru masih sibuk dengan latihan-latihannya. Ia berusaha untuk memahami satu lagi dari sekian segi yang dijumpainya dalam kitab yang aku …

Baca lebih lanjut

Buku 187 (Seri II Jilid 87)

Demikianlah, maka orang-orang yang tinggal di rumah Agung Sedayu itupun segera berangkat meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi mereka tidak berangkat berbareng dan rnengambil arah jalan yang sama. Mereka tidak ingin menarik perhatian, bukan saja di Mataram, tetapi juga sejak mereka berada di Tanah Perdikan Menoreh. Kiai Gringsing pergi bersama Ki Widura, sementara Kiai …

Baca lebih lanjut

Buku 188 (Seri II Jilid 88)

Karena itu, maka Ki Tumenggung itu pun menjadi tergagap dan tidak segera dapat menjawab. Karena Ki Tumenggung tidak menjawab, maka Panembahan Senapati pun telah bertanya kepada Raden Rangga, “Rangga, apakah yang sudah dilakukan oleh Agung Sedayu? Apakah ia membantumu menangkap harimau itu dan melepaskannya di halaman Ki Tumenggung?” “Tidak Ayahanda,” jawab Raden Rangga, “Agung Sedayu …

Baca lebih lanjut

Buku 191 (Seri II Jilid 91)

Ketika kemudian matahari menjadi semakin tinggi, maka Ki Gede pun minta kepada Agung Sedayu untuk menjemput Kiai Gringsing, Kiai Jayaraga, dan yang terpenting adalah Ki Widura. Seorang yang pernah menjadi seorang senapati Pajang pada masa kejayaan Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Apakah Ki Widura pernah mengenal seorang perwira Pajang yang bernama Wiladipa. Karena rumah Agung Sedayu tidak …

Baca lebih lanjut

Buku 192 (Seri II Jilid 92)

Wajah Untara menjadi merah. Tetapi iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Untunglah bahwa ia teringat pesan sahabatnya, bahwa ia harus berusaha untuk keberhasilan tugasnya, bukan sekedar mempertahankan harga diri. Karena itu, maka ia pun telah bertanya, “Kenapa mereka menganggap bahwa aku seorang pengkhianat?” “Apakah kau tidak menyadarinya?” bertanya perwira itu, “Kau adalah seorang perwira Pajang yang …

Baca lebih lanjut

Buku 193 (Seri II Jilid 93)

“Baiklah Ki Gede,” berkata Panembahan Senapati, “sebenarnyalah kami memerlukan Kiai Gringsing dan Ki Gede serta Agung Sedayu untuk memecahkan persoalan yang kami hadapi. Agaknya persoalan yang berkembang di Pajang harus ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Bukankah Untara sudah bercerita tentang perjalanannya ke Pajang?” “Ya Panembahan. Sebagian dari perjalanannya dan apa yang dialaminya telah disampaikannya kepada hamba,” jawab …

Baca lebih lanjut

Buku 194 (Seri II Jilid 94)

Dengan demikian, maka memang tidak ada pilihan lain yang dapat dilakukan oleh Adipati Pajang itu. Sehingga akhirnya batas antara Pajang dan Mataram itu menjadi semakin tebal. Bahkan, agaknya yang akan terjadi adalah benturan kekerasan. Dalam pada itu, Ki Tumenggung Windubaya yang telah meninggalkan Pajang menuju ke Mataram, sebagaimana diduga oleh Agung Sedayu telah singgah di …

Baca lebih lanjut

Buku 195 (Seri II Jilid 95)

Beberapa saat lamanya Agung Sedayu masih sempat memandangi kesombongan orang itu. Bahkan orang itu sempat berteriak-teriak, “He, orang Mataram, kerahkan kemampuanmu. Hujani aku dengan semua anak panah orang-orang Mataram. Tidak seujung pun akan dapat menyentuh tubuhku!” Namun memang sebenarnyalah demikian. Beberapa orang prajurit Mataram telah membidik orang itu bersama-sama. Bahkan anak panah mereka pun terlepas …

Baca lebih lanjut

Buku 196 (Seri II Jilid 96)

Panembahan Senapati masih juga mengangguk-angguk. Tetapi ternyata ia tidak menjawab kesan Swandaru itu. Bahkan ia pun kemudian berkata sehingga semua yang mendengarnya terkejut karenanya,, “Baiklah. Jika Adimas Adipati hanya mau menerima aku saja, maka biarlah aku menemuinya.” “Panembahan,” hampir di luar sadarnya Ki Lurah memotong, “jika Panembahan ingin berbicara, sebaiknya Panembahan memanggil Adipati Pajang. Panembahan …

Baca lebih lanjut