Tag Archives: Pangeran Adipati Anom / Panembahan Hanyakrawati

Buku 295 (Seri III Jilid 95)

Tetapi para pemimpin prajurit Pati masih saja berteriak-teriak. Mereka berusaha untuk mendorong para prajuritnya untuk meningkatkan kemampuan mereka. Tetapi para prajurit Pati itu sudah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka memang tidak mampu berbuat lebih dari yang sudah mereka lakukan. Karena itu, perlahan-lahan para prajurit Mataram yang semula jumlahnya lebih sedikit itu kemudian mampu mendesak dan …

Baca lebih lanjut

Buku 296 (Seri III Jilid 96)

Dengan teliti Untara telah memberikan perintah dan pesan kepada seluruh pemimpin kelompok dalam pasukannya. Kapan mereka mulai menyerang sasaran dan sejauh mana mereka bergerak. Isyarat kepada seluruh pasukan saat mereka harus menarik diri. Kemana mereka harus mundur, dan kemudian menentukan tempat untuk berkumpul seluruh pasukan pada kemungkinan pertama, kedua dan terakhir. Beberapa saat kemudian, maka …

Baca lebih lanjut

Buku 332 (Seri IV Jilid 32)

Namun ketika Ki Ambara bertekad untuk segera membalas kematian Wiyati, ternyata bahwa lawannya bukan seorang yang mudah dikalahkannya. Ketika Ki Ambara meningkatkan ilmunya, maka Ki Jayaraga pun telah melakukan hal yang sama. Dengan demikian maka Ki Jayaraga masih saja tetap mampu mengimbangi kemampuan Ki Ambara. Dalam pada itu, Swandaru dan Pandan Wangi yang tidak terikat …

Baca lebih lanjut

Buku 333 (Seri IV Jilid 33)

Glagah Putih, diantar oleh Ki Patih Mandaraka dan Agung Sedayu, telah menghadap Pangeran Adipati Anom. Ia langsung mendengar perintah Pangeran Adipati Anom kepadanya, “Bawa tongkat baja putih itu ke Mataram, dan serahkan padaku.” Glagah Putih menunduk dalam-dalam. Terdengar suaranya bergetar, “Hamba, Pangeran. Hamba akan membawa tongkat baja putih itu ke Mataram. Semoga Yang Maha Agung …

Baca lebih lanjut

Buku 348 (Seri IV Jilid 48)

“Terima kasih, Kakang,” sahut Rara Wulan, “kami ingin sekali untuk dapat ikut pergi ke Demak. Aku memang belum pernah ke Demak. Selain itu, mungkin kami akan mendapat kesempatan bertemu lagi dengan Ki Saba Lintang.” Malam itu, Rara Wulan menjadi gelisah. Ia benar-benar ingin dapat pergi ke Demak. Nalurinya mengatakan bahwa Ki Saba Lintang akan memanfaatkan …

Baca lebih lanjut

Buku 352 (Seri IV Jilid 52)

Sementara itu, ketika Sungsang masih saja meronta-ronta, maka Ki Lurah Agung Sedayu pun berkata, “Jika kau tidak dapat tenang, maka aku akan membiarkan kau menjadi tontonan. Aku akan meninggalkan pedati dengan kau terikat di dalamnya, di tengah-tengah jalan, dengan dijaga oleh dua orang prajurit. Aku akan memerintahkan prajurit itu mengedarkan tampah untuk memungut uang bagi …

Baca lebih lanjut

Buku 380 (Seri IV Jilid 80)

Satu-satu lawan Glagah Putih itu pun telah terluka. Ikat pinggang Glagah Putih itu selain dapat membentur senjata lawan seperti lempengan baja, ujungnya juga mampu menggores kulit lawan seperti ujung pedang yang sangat tajam. Karena itu maka Ki Jayengwira dan ketiga orang kawannya itu semakin lama menjadi semakin terdesak. Demikian pula lawan-lawan Rara Wulan. Selendang Rara …

Baca lebih lanjut

Buku 381 (Seri IV Jilid 81)

Karena itu maka Kanjeng Pangeran Puger itu pun kemudian berkata, “Ki Tumenggung Derpayuda. Ki Tumenggung adalah utusan bersama dengan beberapa orang narapraja yang lain. Aku hargai kedudukan Ki Tumenggung. Namun sebagai utusan, sebaiknya Ki Tumenggung tidak mengambil sikap yang mati. Sampaikan saja kepada Adimas Panembahan jawabku. Aku akan datang kemudian. Terserah kepada Adimas Panembahan Hanyakrawati, …

Baca lebih lanjut

Buku 382 (Seri IV Jilid 82)

Ki Patih Mandaraka tertawa. Ki Patih pun kemudian berkata kepada Kanjeng Pangeran Puger, “Wayah, bagaimana sikap yang akan Wayah ambil? Aku tahu bahwa di sekitar Wayah sekarang terdapat orang-orang pintar seperti Ki Tumenggung Gending, Ki Tumenggung Panjer, serta beberapa orang Narpacundaka serta para pemimpin yang lain, yang mempunyai sikap dan pandangan yang berbeda dengan tatanan …

Baca lebih lanjut

Buku 383 (Seri IV Jilid 83)

Pertempuran antara keduanya menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah meningkatkan ilmu mereka semakin lama menjadi semakin tinggi. Pedang mereka berputar, menebas dan mematuk berganti-ganti. Bunga-bunga api pun menjadi semakin banyak terhambur dari benturan kedua senjata di tangan kedua orang Senapati yang berilmu tinggi itu. Di sisi lain dari benturan kedua pasukan induk itu telah …

Baca lebih lanjut