Tag Archives: Pangeran Benawa

Buku 114 (Seri II Jilid 14)

  Pengawal itupun bergeser surut. Sejenak ia hilang di luar pintu paseban dalam. Namun kemudian ia nampak kembali bersama seorang anak muda. Agung Sedayu. Wajah Untara benar-benar menjadi tegang. Ketika Agung Sedayu bergeser sambil berjongkok setapak demi setapak, rasa-rasanya anak itu menjadi sangat lamban. Hampir saja ia berteriak agar adiknya itu bersikap sedikit cepat. Ketika …

Baca lebih lanjut

Buku 115 (Seri II Jilid 15)

  Dalam pada itu, para petani yang meninggalkan Agung Sedayu itu pun telah memasuki halaman Kademangan. Dengan wajah yang merah padam, mereka memaksa para pengawal yang menahan mereka, untuk dapat bertemu dengan Ki Demang. “Ada persoalan apa?” bertanya para pengawal. “Persoalan penting. Persoalan yang akan kami laporkan langsung kepada Ki Demang.” “Tetapi masih banyak tamu …

Baca lebih lanjut

Buku 124 (Seri II Jilid 24)

  “Apapun yang akan kau lakukan terhadap Untara, Agung Sedayu maupun Swandaru bukanlah urusanku. Bunuhlah aku yang pertama-tama. Aku menuntut kematian sahabatku.” “Siapakah sahabatmu?” bertanya Carang Waja. “Aku tidak perlu menyebutnya. Sudah terlalu banyak orang yang kau bunuh. Karena itu, kau tentu tidak akan dapat mengingatnya lagi.” Carang Waja menggeram. Sementara Sabungsari telah melangkah mendekatinya. …

Baca lebih lanjut

Buku 125 (Seri II Jilid 25)

  “Bukankah kalian pernah melakukannya bagi Senapati Ing Ngalaga, yang mempunyai kedudukan yang hampir sama? Raden Sutawijaya itu pun putra Sultan di Pajang, meskipun putra angkatnya.” “Tetapi ia sangat baik dan seolah-olah tidak ada jarak dengan kami,” berkata salah seorang gadis. “Demikian pula Pangeran Benawa,” sahut Agung Sedayu, “tetapi kalian memang lebih dekat dan sudah pernah …

Baca lebih lanjut

Buku 126 (Seri II Jilid 26)

  Namun agaknya kedua orang anak muda itu tidak akan berselisih. Nampaknya keduanya tidak salah paham dan tidak dibatasi oleh perasaan yang buram. Keduanya nampak berbicara dengan akrab dan ramah. Sekali-sekali terdengar keduanya tertawa. Adipati Partaningrat masih saja bersungut-sungut. Ia benar-benar kecewa karena kedatangan Pangeran Benawa. Meskipun ia sadar, bahwa ia berada di Mataram, berada …

Baca lebih lanjut

Buku 132 (Seri II Jilid 32)

  Dalam kebimbangan, ternyata Agung Sedayu telah menghentakkan segenap kekuatannya, segenap kemampuannya, dan segenap daya ungkapnya atas ilmu yang dimilikinya. Ia tidak ingin mengalami kesulitan yang lebih parah lagi pada keadaan yang demikian. Meskipun ia tidak berharap akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan serta merta, namun ia berharap bahwa ia akan dapat mempergunakan kemampuannya itu …

Baca lebih lanjut

Buku 133 (Seri II Jilid 33)

  Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, ”Ki Sanak. Aku memang tidak menyangka, bahwa kuburan ini dijaga. Karena itu, ketika kalian tiba-tiba saja muncul, aku menjadi bingung dan menjawab asal saja tanpa memikirkan akibatnya.” ”Sebut, siapa kalian,” penjaga yang bertubuh paling tinggi membentak semakin keras. ”Begini Ki Sanak,” jawab Pangeran Benawa, ”sebenarnya kami hanya …

Baca lebih lanjut

Buku 134 (Seri II Jilid 34)

  Tetapi Ki Tumenggung Prabadaru menggeleng sambil berkata, ”Kali ini tidak. Dendam Gembong Sangiran tidak akan dapat dibeli. Tetapi jika kita dapat memanfaatkannya, dengan dorongan janji beberapa keping emas, aku kira ia akan lebih garang lagi terhadap padepokan kecil itu. Tetapi tentu tidak sekarang, meskipun Agung Sedayu dan Sabungsari masih belum sembuh. Tetapi di padepokan …

Baca lebih lanjut

Buku 150 (Seri II Jilid 50)

  “Kau akan menemui Ki Lurah?” bertanya Agung Sedayu. Ketiga anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka menjawab, “Kami ingin mengambil rontal yang harus kami serahkan kepada Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga.” “Ki Lurah ada di dalam,” jawab Agung Sedayu, “apakah kalian akan berangkat sekarang?” “Ya,” jawab anak muda itu, “agar waktu …

Baca lebih lanjut

Buku 151 (Seri II Jilid 51)

  “Bagaimana dengan Ki Lurah Branjangan dan beberapa orang Senapati Mataram?“ bertanya Pangeran Benawa. “Tidak ada seorangpun yang boleh ikut menemui Pangeran, selain Ki Lurah Branjangan,” jawab Agung Sedayu. “Kau memang aneh-aneh. Demikian aku memasuki barak, mereka telah berkerumun. Barangkali ada di antara mereka yang melempari aku dengan batu,“ berkata Pangeran Benawa. “Aku akan mengaturnya,” …

Baca lebih lanjut