Tag Archives: Pangeran Singasari

Buku 217 (Seri III Jilid 17)

  Untuk beberapa saat lamanya Kiai Damarmurti termangu-mangu. Memang ada niatnya untuk berbuat sesuatu. la ingin menunjukkan kepada anak-anak muda itu bahwa kemampuan ilmu Sapu Angin bukan sekedar yang dilihatnya. Tetapi kekuatan ilmu Sapu Angin akan dapat memutar kedua anak muda itu dan melemparkannya tinggi ke udara. Kemudian membantingnya jatuh ke atas bebatuan yang berserakan. Namun …

Baca lebih lanjut

Buku 218 (Seri III Jilid 18)

  Demikianlah, maka yang dapat dilakukan oleh setiap orang hanyalah sekedar menunggu. Ketika hari bergeser menjelang malam, maka para pemimpin kelompok benar-benar telah mengadakan pertemuan untuk menerima perintah-perintah, petunjuk-petunjuk dan jalur yang akan mereka lalui menuju ke sasaran. Beberapa pesan telah diberikan oleh Pangeran Singasari. Bahkan dengan tekanan, “Tidak seorang pun boleh melakukan kesalahan. Kita …

Baca lebih lanjut

Buku 219 (Seri III Jilid 19)

  “Apakah aku harus bersenjata melawan anak-anak?“ katanya di dalam hati. Tetapi orang itu tidak mau menjadi korban dari sikapnya itu. Ketika sekali lagi tongkat Raden Rangga mengenainya, maka ia berdesis, “Kau memang anak iblis. Kau menyakiti aku he.“ Raden Rangga meloncat surut sambil tertawa, “Kau jangan terlalu sombong. Jika kau masih tetap tidak bersenjata, …

Baca lebih lanjut

Buku 253 (Seri III Jilid 53)

Ki Ajar Kumuda itu pun mengerti, bahwa Agung Sedayu telah meningkatkan ilmu kebalnya. Bahkan Ki Ajar pun mulai merasakan sentuhan udara panas di sekitar tubuh lawannya dalam jarak tertentu. Ki Ajar Kumuda itu pun menjadi semakin marah. Ketika ia meningkatkan ilmunya, maka kilatan-kilatan pantulan cahaya matahari pada daun pedangnya itu terasa menjadi semakin tajam menusuk …

Baca lebih lanjut

Buku 255 (Seri III Jilid 55)

Panembahan Senapati memang telah menduga sebelumnya. Tetapi ia masih juga tergetar dadanya mendengar laporan itu, justru karena ia telah kehilangan waktu beberapa saat. Justru saat-saat yang paling gawat. Namun kemudian terdengar perintahnya, “Cari Pamanda Panembahan Madiun sampai dapat diketemukan.“ Penghubung itu pun kemudian telah menghubungi Pangeran Mangkubumi yang berada di tengah-tengah pasukannya. Pangeran yang masih …

Baca lebih lanjut

Buku 294 (Seri III Jilid 94)

Rara Wulan yang melihat Kanthi tersenyum itu pun ikut tersenyum pula. Bahkan di luar sadarnya Rara Wulan berkata, “Jika kau tersenyum, maka kau menjadi sangat cantik Kanthi.” “Ah, kau Rara,“ Kanthi menjulurkan tangannya untuk mencubit lengan Rara Wulan. Tetapi Rara Wulan bergeser sambil berkata, “Aku berkata sesungguhnya.” Sekar Mirah pun tertawa. Namun Sekar Mirah tahu …

Baca lebih lanjut

Buku 310 (Seri IV Jilid 10)

Namun Sukra itu pun kemudian bangkit sambil berkata, “Aku berharap bahwa pada suatu saat aku dapat berbuat sesuatu.” “Tentu, Sukra,” jawab Glagah Putih. Sukra berpaling memandang Glagah Putih. Tetapi tidak seperti biasanya, Glagah Putih nampak bersungguh-sungguh. Bahkan kemudian katanya, “Asal kau bersungguh-sungguh, maka kau akan dapat berbuat sesuatu.” Tetapi Sukra itu justru bertanya, “Apakah aku …

Baca lebih lanjut

Buku 382 (Seri IV Jilid 82)

Ki Patih Mandaraka tertawa. Ki Patih pun kemudian berkata kepada Kanjeng Pangeran Puger, “Wayah, bagaimana sikap yang akan Wayah ambil? Aku tahu bahwa di sekitar Wayah sekarang terdapat orang-orang pintar seperti Ki Tumenggung Gending, Ki Tumenggung Panjer, serta beberapa orang Narpacundaka serta para pemimpin yang lain, yang mempunyai sikap dan pandangan yang berbeda dengan tatanan …

Baca lebih lanjut

Buku 383 (Seri IV Jilid 83)

Pertempuran antara keduanya menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah meningkatkan ilmu mereka semakin lama menjadi semakin tinggi. Pedang mereka berputar, menebas dan mematuk berganti-ganti. Bunga-bunga api pun menjadi semakin banyak terhambur dari benturan kedua senjata di tangan kedua orang Senapati yang berilmu tinggi itu. Di sisi lain dari benturan kedua pasukan induk itu telah …

Baca lebih lanjut

Buku 386 (Seri IV Jilid 86)

Tetapi orang yang rambutnya ubanan itu membentak, “Semua itu omong kosong. Sekarang aku akan membawa kalian kembali ke padukuhan. Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian. Aku juga ingin membawa prajurit yang berusaha menjemput kalian itu bersama kami. Mereka juga harus ikut bertanggungjawab. Mereka telah membantu usahamu untuk melarikan gadis itu.” “Prajurit yang mana?” bertanya prajurit yang …

Baca lebih lanjut