Tag Archives: Prastawa

Buku 037 (Seri I Jilid 37)

  Pasukan kecil itupun segera menghilang dari pengawasan Pasukan Sidanti. Mundur dengan tergesa-gesa, merangkak di antara batang-batang jagung muda, supaya mereka dapat bergabung dengan pasukan cadangan yang agak besar, yang menunggu di padukuhan kecil di belakang mereka. Mereka mencoba menghilangkan segala macam jejak, agar Sidanti tidak mengetahui dengan pasti, bahwa mereka telah ditunggu di padukuhan …

Baca lebih lanjut

Buku 048 (Seri I Jilid 48)

  Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Sudah terbayang di pelupuk matanya, ayahnya membangun sebuah penjara khusus bagi pamannya Argajaya dan kakaknya Sidanti. Bangunan yang kuat, dipagari oleh papan-papan yang tebal dan deriji-deriji kayu yang besar. Sepasukan pengawal pilihan yang akan mengawasinya siang dan malam, siap dengan senjata masing-masing. “Sampai kapan?” ia berdesis di dalam hatinya. Ketika …

Baca lebih lanjut

Buku 050 (Seri I Jilid 50)

  Wajah Swandaru menjadi merah padam. Sambil bersungut-sungut ditatapnya wajah Agung Sedayu sejenak. Ketika ia melihat Agung Sedayu masih juga tersenyum, Swandaru bergumam, “Tidak. Aku tidak sedang sakit.” Gurunya tidak segera menyahut. Kini dipandanginya wajah Agung Sedayu yang masih juga tersenyum. “Benar, Guru. Adi Swandaru sedang sakit. Tetapi yang sakit bukan badannya.” Gurunya menjadi tegang. …

Baca lebih lanjut

Buku 051 (Seri I Jilid 51)

  “Agaknya Prastawa ada di rumah,” desis Agung Sedayu. “Ya,” jawab Sekar Mirah, “ia baru datang malam ini.” Prastawa menjadi semakin gelisah. “Bersama anak ini?” Agung Sedayu melanjutkan. “Ya,” berkata Sekar Mirah selanjutnya, “anak ini ingin menjemput aku dan membawa pergi ke rumahnya.” Dahi Agung Sedayu menjadi berkerut-merut karenanya. Namun Sekar Mirah segera berkata, “Tetapi …

Baca lebih lanjut

Buku 069 (Seri I Jilid 69)

  “Aku kira, jika ada prajurit-prajurit peronda sampai ke daerah ini, maka tentu ada gardu-gardu dan tempat-tempat pengawas yang menjadi tempat peristirahatan dan pusat-pusat perondaan.” “Mungkin demikian,” Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk. “Jika demikian, kita dapat menempuh jalan yang semula akan kita lalui. Bukan jalan ini,” berkata Agung Sedayu kemudian. Tiba-tiba Swandaru mengerutkan keningnya. Sambil berpaling …

Baca lebih lanjut

Buku 070 (Seri I Jilid 70)

  Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sekali dua kali ayahnya sudah harus menolak lamaran yang datang dari orang-orang penting di Menoreh, bahkan dari daerah tetangga. Agaknya ayahnya pun masih juga menunggu karena ia sudah pernah membicarakannya dengan Kiai Gringsing, apalagi Ki Argapati mengetahui bahwa agaknya anaknya telah bersetuju di dalam hati. Perlahan-lahan Pandan Wangi itu …

Baca lebih lanjut

Buku 071 (Seri I Jilid 71)

  Pandan Wangi yang juga mendengar rencana Rudita itu menjadi gelisah. Tetapi ia berterima kasih di dalam hati, bahwa anak-anak muda yang lain seakan-akan tidak berkeberatan atas keputusan yang telah diambil oleh Rudita itu, sehingga dengan demikian tidak timbul persoalan yang tegang di antara mereka. Dalam pada itu Prastawa pun bertanya pula kepada Pandan Wangi …

Baca lebih lanjut

Buku 072 (Seri I Jilid 72)

  Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia telah mencoba menerobos hutan itu, tetapi memang terlampau sulit, sehingga lebih cepat baginya untuk melingkar di sebelah hutan liar ini. Namun dengan demikian ia telah kehilangan buruannya dan justru menemukan perkemahan Pandan Wangi di pinggir hutan itu. “Memang sulit sekali,” berkata Sutawijaya, “tetapi jika aku menunggu sampai besok, maka …

Baca lebih lanjut

Buku 073 (Seri I Jilid 73)

  Namun ketika para peronda itu berusaha menghentikan iring-iringan kuda itu, maka mereka pun berloncatan minggir, karena mereka mendengar suara Pandan Wangi yang berkuda di paling depan, “Aku. Akulah yang akan lewat. Pandan Wangi.” Seseorang sempat bertanya keras-keras, “Malam-malam begini?” “Aku dari hutan perburuan,” sahut Pandan Wangi sambil berderap menjauh. Para peronda itu menarik nafas …

Baca lebih lanjut

Buku 074 (Seri I Jilid 74)

  “Tetapi tentu lawan sudah sangat lemah, dan kita tinggal menghancurkan mereka seperti memijat buah ranti.” “Kau benar. Namun segala jalan akan kita tempuh. Kau harus berusaha dapat menghadap Ki Gede Pemanahan atau orang yang dipercaya, yang dapat diyakini akan menyampaikan kabar itu kepada Ki Gede.” “Ya. Kami akan berusaha.” “Nah, berangkatlah. Saat ini Sutawijaya …

Baca lebih lanjut